Tour Museum Sejarah Dengan Trans Yogya
Penulis :
Imam Prasetyo Nugroho
Durasi : 1 hari
Kategori :
Wisata Sejarah Perjuangan
Tempat yg dikunjungi :
Museum Yogya Kembali, Museum Benteng Vredeburg,
Museum
Perjuangan Yogyakarta, Dan Museum Pusat TNI-AD
Dharma Wiratama.
Perkiraan biaya :
Rp. 21.000/ orang ( transportasi + tiket masuk museum )
Catatan : Ticket Single Trip Bus Trans Jogja
Rp 3.000,- untuk setiap
Perjalanan.
Masa penjajahan bangsa asing di tanah air
menceritakan banyak sejarah yang tidak mungkin terlupakan dan dapat kita lihat
bukti-buktinya dalam sebuah museum perjuangan ataupun pertanda dengan dibuat
sebuah monumen. Kota Yogyakarta sendiri merupakan salah satu kota terpenting
dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Yogyakarta
pernah menjadi ibu kota ke 2 setelah Jakarta pada masa perang kemerdekaan, strategi
perang gerilya yang dijalankan Panglima Besar Sudirman juga diterapkan di kota ini
hingga pembuktian masih adanya pemerintahan Republik Indonesia dengan
dilancarkannya Serangan Umum 1 Maret oleh para pejuang-pejuang Indonesia dan
masih banyak cerita lainnya. Hal ini bisa kita telusuri dengan mengunjungi
beberapa museum sejarah yang ada di kota Yogyakarta.
Tujuan pertama kita adalah Museum Yogya
Kembali. Museum ini berada di utara kota Yogyakarta kurang lebih 6 Km. Museum
Yogya Kembali yang lebih familiar disebut masyarakat dengan monjali ini arsitektur bangunannya sedikit unik berbentuk
kerucut. Bila wisatawan datang dari arah utara ingin berkunjung dengan Trans
Jogja bisa dengan jalur 2A start dari
terminal Jombor dengan perjalanan tidak lebih dari 5 menit menyusuri ring road
utara wisatawan akan sampai didepan Shelter Trans Jogja tepat di sisi sebelah
barat musem. Museum Yogya Kembali merupakan museum sejarah perjuangan mempertahankan
kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi kala itu di kota Yogyakarta yang
terkenal dengan Serangan Umum 1 Maret. Pergerakan perjuangan perang gerilya
yang dipimpin oleh Pangsar Jenderal Sudirman dikisahkan dimuseum ini dengan
diorama-diorama apik seakan terlihat hidup. Semua kisah perjuangan perebutan
kemerdekaan di kota Yogyakarta diceritakan secara runtut baik dengan
bukti-bukti langsung, lukisan maupun diorama. Koleksi museum ini adalah
benda-benda yang berperan langsung dan tidak langsung yang berbentuk lukisan,
sketsa, replika, duplikat dan diorama yang memberikan gambaran sejarah
perjuangan periode 1945-1949. Wisatawan hanya perlu membayar ticket Rp 5.000,00
/orang untuk wisatawan asing Rp 7.500,00 dan museum ini dibuka untuk umum pada hari
Senin pukul 08.00 - 14.00 Selasa s/d Minggu pukul 08.00 – 16.00 telp. 0274-868225.

Kunjungan wisata kita selanjutnya adalah Benteng
Vredeburg. Dari Shelter Trans Jogja monjali kita naik Trans Jogja jalur 2A
kearah selatan tepatnya di jantung kota Yogyakarta nol kilometer. Museum Benteng
Vredeburg ini termasuk bangunan indische
yang letaknya berseberangan dengan Istana Negara Gedung Agung. Dulunya bangunan
Benteng Vredeburg ini adalah Kantor Gubernur Belanda akan tetapi beralih fungsi
sesuai keadaan pergerakan perjuangan merebut kemerdekaan, diawal kemerdekaan Benteng
Vredeburg sempat menjadi markas TKR. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum
Benteng Vredeburg bisa turun di Shelter Trans Jogja yang letaknya di jalan Maliboro
ataupun dekat Kantor Pos Besar. Museum Benteng Vredeburg menyajikan beberapa
koleksi yang dibedakan menjadi 2 bagian. Bagian pertama yaitu bangunan fisik Benteng
Vredeburg itu sendiri yang memiliki
bastion di keempat penjurunya. Bila kita masuk museum akan terlihat jelas
bangunan dan ruangan berarsitektur Belanda, dengan jendela-jendela besar ,
pintu-pintu besar dan ketebalan dinding yang tidak biasa layaknya sebuah
benteng. Gedung museum ini perpaduan antara bangunan beton dan bangunan
kayu-kayu besar yang tersusun rapi menjadi anak tangga dan lotengnya. Bagian
keduanya adalah koleksi dari museum Benteng Vredebrug. Disana terdapat
diorama-diorama peristiwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi
di Yogyakarta. Selain itu terdapat koleksi benda-benda bersejarah ketika masa merebut
kemerdekaan, masa-masa mengisi kemerdekaan di Orde Baru hingga pergolakan
rakyat Yogyakarta diawal Orde Reformasi. Masih dalam kompleks Benteng Vredeburg
di sisi depan sebelah selatan terdapat Monumen Serangan Umum 01 Maret. Monumen
ini juga jadi tempat favorit wisatawan untuk ajang foto bersama bahkan sering
juga sebagai setting pertunjukan
teater di malam hari. Selain sabagai museum perjuangan area Benteng Vredeburg
juga sering digunakan untuk pameran lukisan maupun hasil karya seni seniman Yogyakarta.
Bahkan sebelum tahun 2013 tempat ini menjadi langganan setiap tahunnya untuk
FKY ( Festival Kesenian Yogyakarta) yang sekarang sudah dialihkan di Plaza
Ngasem. Status pengelolaan museum ini oleh pemerintah dibawah pengawasan Depertement
Kebudayaan Dan Pariwisata. Para wisatan cukup mengeluarkan uang Rp 2.000,00
/orang untuk ticketnya dan dibuka untuk umum pada hari Selasa – Jumat 08.30 –
13.30 Sabtu 08.30 – 12.00 dan Minggu 08.00 – 13.00. telp 0274-586934.
Perjalanan kita selanjutnya adalah Museum
Perjuangan Yogyakarta. Dari Shelter Trans Jogja Kantor Pos Besar naik Bus Trans
Jogja jalur 2A ke arah selatan kota Yogyakarta dari nol kilometer. Museum ini
terletak di Gedung Museum
Perjuangan Brontokusuman Jl. Kolonel Sugiyono
No 24 Yogyakarta. Untuk mencari Museum
Perjuangan Yogyakarta turun di Shelter Jokteng Wetan lalu jalan sedikit ke arah
timur dan cari Shelter Sugiyono 2 di kanan jalan. Museum Perjuangan Yogyakarta
terletak persis dibelakang Shelter Sugiyono 2 kurang lebih berjarak 200 M
dengan bentuk bangunan yang unik yaitu berbentuk Ronde Tample yang
merupakan arsitektur gaya Romawi Kuno. Dan tidak hanya itu
saja, keunikan dari
museum ini, pada dinding luarnya tertempel banyak relief.
Berbagai macam peristiwa sejarah perjuangan bangsa,
mulai dari berdirinya Budi Utomo, Muhammadiyah, Taman Siswa dan Universitas
Gadjah Mada terlukis dalam relief di museum ini. Tidak ketinggalan pula patung dari para pahlawan
nasional ikut menghiasi bagian luar dari bangunan museum ini.
Koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta berupa benda-benda yang erat kaitannya dengan
perjuangan fisik melawan Belanda. Pada
tahun 2008, Museum Perjuangan Yogyakarta ini melakukan perubahan dengan
menjadikan ruang bawah tanah menjadi Museum Sandi Indonesia. Yang menjadi latar
belakang dari pendirian Museum Sandi Indonesia adalah untuk
menampilkan dan memelihara koleksi benda-benda sandi
yang bernilai sejarah serta menambah pengetahuan wawasan para pengunjung mengenai sejarah persandian di Indonesia
dan mancanegara. Jam buka museum ini yaitu hari Selasa s/d Kamis pukul 08.30-14.00, Jum'at pukul 08.30-11.30,
sedangkan hari Sabtu dan Minggu buka pukul 08.30-13.00 WIB. Untuk
ticket masuknya Rp 2.000,- / orang telp. 0274 – 387576.

Setelah
puas berkunjung di Museum Perjuangan Yogyakarta perjalanan terakhir kita adalah
di Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama yang letaknya ditengah kota.
Untuk menuju kesana dengan Bus Trans Jogja dari Shelter Jokteng Wetan wisatawan
akan diajak putar-putar kota Yogya terlebih dahulu. Dari Jogja Selatan menuju
ke arah timur lalu berbelok masuk tengah kota melewati kebun Binatang Gembira
Loka, lalu lewat 2 stadion kebanggaan warga Yogyakarta, setelah itu lewat depan
kampus UKDW dan belok kiri melewati jalan protokol lalu berhenti di Shelter
Gramedia. Letak Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama bersebrangan dengan Toko
Buku Gramedia ke arah timur kurang lebih 50 meter. Dengan bangunan megah bercat
hijau dan terdapat 2 patung besar yaitu Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Oerip
Soemohardjo berdiri gagah di ujung barat gedung ini memberikan sebuah penanda
besar bagi para pengunjung yang memasuki Museum Dharma Wiratama. Sejarah
panjang dan lika-liku TNI-AD berjuang bagi NKRI bisa dilihat dari setiap ruang
yang ada di museum ini. Museum Dharma Wiratama mempunyai koleksi benda-benda
bersejarah perjuangan TNI-AD sejak tahun 45 hingga peristiwa G 30S/PKI yang
divisualisasikan dalam ruangan-ruangan yang telah disediakan. Museum Dharma
Wiratama terbagi dalam beberapa ruangan yaitu ; ruang pertama/R. Pengantar, R. Pangsar
Jenderal Soedirman, R. Letjend Oerip Soemohardjo, R. Palagan, R. Senjata, R.
Dapur Umum, R. Alat Perhubungan dan Alat Kesehatan, R. Panji-Panji, R. Tanda
Jasa, R. Peristiwa, R. Alat Peralatan, R. Unity Charter of Indonesian Army and Garuda Contingent, R. Pahlawan
Revolusi, R. Penumpasan G 30S/PKI. Cukup banyak bukan koleksi yang dipamerkan
di museum ini sesuai dengan nama ruangannya. Tidak hanya itu saja di luar
gedung musem terdapat pula kendaraan lapis baja yang sudah dipensiunkan
dipajang untuk menarik perhatian pengunjung yang biasanya sebagai tempat
berfoto bersama para wisatawan. Status Museum Dharma Wiratama merupakan museum
khusus dengan pengelolaan Dinas Pembinaan Mental AD yang bisa dikunjungi setiap
jam kerja hari
Senin - Jumat pukul 07.30 –15.00 WIB Sabtu, Minggu dan Hari libur 08.00 –14.00
WIB yang menyenangkan berkunjung ke museum ini adalah tidak dipatok harga
ticketnya alias sukarela.
Sungguh sebenarnya Yogyakarta
bukan hanya kota pelajar ataupun kota budaya akan tetapi jika kita flashback kembali bahwa Yogyakarta turut
andil besar dalam sejarah pergolakan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan
bisa disebut kota pahlawan ke 2 setelah Surabaya. Sebenarnya tidak hanya 4
museum diatas saja yang menceritakan sejarah perjuangan di Kota Gudeg ini masih banyak museum sejarah dan monumen yang ada di Yogya
sebagai saksi bisu jalanya perjuangan bangsa ini merebut dan mempertahankan
kemerdekaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jas-jasa para
pahlawannya, dengan berkunjung ke museum sejarah dan perjuangan bangsa ini
setidaknya kita turut ikut menghargai jasa-jasa pahlawan.