Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Kamis, 29 Agustus 2013

WISATA MUSEUM SEJARAH DI YOGYAKARTA


Tour Museum Sejarah Dengan Trans Yogya


Penulis                                    : Imam Prasetyo Nugroho
Durasi                                     : 1 hari
Kategori                                  : Wisata Sejarah Perjuangan
Tempat yg dikunjungi             : Museum Yogya Kembali, Museum Benteng Vredeburg,
                                                   Museum Perjuangan Yogyakarta, Dan Museum Pusat TNI-AD
                                                   Dharma Wiratama.
Perkiraan biaya                     : Rp. 21.000/ orang ( transportasi + tiket masuk museum )
Catatan                                   : Ticket Single Trip Bus Trans Jogja Rp 3.000,- untuk setiap
                                                  Perjalanan.
                       
Masa penjajahan bangsa asing di tanah air menceritakan banyak sejarah yang tidak mungkin terlupakan dan dapat kita lihat bukti-buktinya dalam sebuah museum perjuangan ataupun pertanda dengan dibuat sebuah monumen. Kota Yogyakarta sendiri merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi ibu kota ke 2 setelah Jakarta pada masa perang kemerdekaan, strategi perang gerilya yang dijalankan Panglima Besar Sudirman juga diterapkan di kota ini hingga pembuktian masih adanya pemerintahan Republik Indonesia dengan dilancarkannya Serangan Umum 1 Maret oleh para pejuang-pejuang Indonesia dan masih banyak cerita lainnya. Hal ini bisa kita telusuri dengan mengunjungi beberapa museum sejarah yang ada di kota Yogyakarta.

Tujuan pertama kita adalah Museum Yogya Kembali. Museum ini berada di utara kota Yogyakarta kurang lebih 6 Km. Museum Yogya Kembali yang lebih familiar disebut masyarakat dengan monjali ini  arsitektur bangunannya sedikit unik berbentuk kerucut. Bila wisatawan datang dari arah utara ingin berkunjung dengan Trans Jogja bisa dengan jalur 2A start dari terminal Jombor dengan perjalanan tidak lebih dari 5 menit menyusuri ring road utara wisatawan akan sampai didepan Shelter Trans Jogja tepat di sisi sebelah barat musem. Museum Yogya Kembali merupakan museum sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi kala itu di kota Yogyakarta yang terkenal dengan Serangan Umum 1 Maret. Pergerakan perjuangan perang gerilya yang dipimpin oleh Pangsar Jenderal Sudirman dikisahkan dimuseum ini dengan diorama-diorama apik seakan terlihat hidup. Semua kisah perjuangan perebutan kemerdekaan di kota Yogyakarta diceritakan secara runtut baik dengan bukti-bukti langsung, lukisan maupun diorama. Koleksi museum ini adalah benda-benda yang berperan langsung dan tidak langsung yang berbentuk lukisan, sketsa, replika, duplikat dan diorama yang memberikan gambaran sejarah perjuangan periode 1945-1949. Wisatawan hanya perlu membayar ticket Rp 5.000,00 /orang untuk wisatawan asing Rp 7.500,00 dan museum ini dibuka untuk umum pada hari Senin pukul 08.00 - 14.00 Selasa s/d Minggu pukul 08.00 – 16.00 telp. 0274-868225.

Kunjungan wisata kita selanjutnya adalah Benteng Vredeburg. Dari Shelter Trans Jogja monjali kita naik Trans Jogja jalur 2A kearah selatan tepatnya di jantung kota Yogyakarta nol kilometer. Museum Benteng Vredeburg ini termasuk bangunan indische yang letaknya berseberangan dengan Istana Negara Gedung Agung. Dulunya bangunan Benteng Vredeburg ini adalah Kantor Gubernur Belanda akan tetapi beralih fungsi sesuai keadaan pergerakan perjuangan merebut kemerdekaan, diawal kemerdekaan Benteng Vredeburg sempat menjadi markas TKR. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg bisa turun di Shelter Trans Jogja yang letaknya di jalan Maliboro ataupun dekat Kantor Pos Besar. Museum Benteng Vredeburg menyajikan beberapa koleksi yang dibedakan menjadi 2 bagian. Bagian pertama yaitu bangunan fisik Benteng Vredeburg itu sendiri yang memiliki bastion di keempat penjurunya. Bila kita masuk museum akan terlihat jelas bangunan dan ruangan berarsitektur Belanda, dengan jendela-jendela besar , pintu-pintu besar dan ketebalan dinding yang tidak biasa layaknya sebuah benteng. Gedung museum ini perpaduan antara bangunan beton dan bangunan kayu-kayu besar yang tersusun rapi menjadi anak tangga dan lotengnya. Bagian keduanya adalah koleksi dari museum Benteng Vredebrug. Disana terdapat diorama-diorama peristiwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi di Yogyakarta. Selain itu terdapat koleksi benda-benda bersejarah ketika masa merebut kemerdekaan, masa-masa mengisi kemerdekaan di Orde Baru hingga pergolakan rakyat Yogyakarta diawal Orde Reformasi. Masih dalam kompleks Benteng Vredeburg di sisi depan sebelah selatan terdapat Monumen Serangan Umum 01 Maret. Monumen ini juga jadi tempat favorit wisatawan untuk ajang foto bersama bahkan sering juga sebagai setting pertunjukan teater di malam hari. Selain sabagai museum perjuangan area Benteng Vredeburg juga sering digunakan untuk pameran lukisan maupun hasil karya seni seniman Yogyakarta. Bahkan sebelum tahun 2013 tempat ini menjadi langganan setiap tahunnya untuk FKY ( Festival Kesenian Yogyakarta) yang sekarang sudah dialihkan di Plaza Ngasem. Status pengelolaan museum ini oleh pemerintah dibawah pengawasan Depertement Kebudayaan Dan Pariwisata. Para wisatan cukup mengeluarkan uang Rp 2.000,00 /orang untuk ticketnya dan dibuka untuk umum pada hari Selasa – Jumat 08.30 – 13.30 Sabtu 08.30 – 12.00 dan Minggu 08.00 – 13.00. telp 0274-586934.

Perjalanan kita selanjutnya adalah Museum Perjuangan Yogyakarta. Dari Shelter Trans Jogja Kantor Pos Besar naik Bus Trans Jogja jalur 2A ke arah selatan kota Yogyakarta dari nol kilometer. Museum ini terletak di Gedung Museum Perjuangan Brontokusuman Jl. Kolonel Sugiyono No 24 Yogyakarta. Untuk mencari Museum Perjuangan Yogyakarta turun di Shelter Jokteng Wetan lalu jalan sedikit ke arah timur dan cari Shelter Sugiyono 2 di kanan jalan. Museum Perjuangan Yogyakarta terletak persis dibelakang Shelter Sugiyono 2 kurang lebih berjarak 200 M dengan bentuk bangunan yang unik yaitu berbentuk Ronde Tample yang merupakan arsitektur gaya Romawi Kuno. Dan tidak hanya itu saja, keunikan dari museum ini, pada dinding luarnya tertempel banyak relief. Berbagai macam peristiwa sejarah perjuangan bangsa, mulai dari berdirinya Budi Utomo, Muhammadiyah, Taman Siswa dan Universitas Gadjah Mada terlukis dalam relief di museum ini. Tidak ketinggalan pula patung dari para pahlawan nasional ikut menghiasi bagian luar dari bangunan museum ini. Koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta berupa benda-benda yang erat kaitannya dengan perjuangan fisik melawan Belanda. Pada tahun 2008, Museum Perjuangan Yogyakarta ini melakukan perubahan dengan menjadikan ruang bawah tanah menjadi Museum Sandi Indonesia. Yang menjadi latar belakang dari pendirian Museum Sandi Indonesia  adalah untuk menampilkan dan memelihara koleksi benda-benda sandi yang bernilai sejarah serta menambah pengetahuan wawasan para pengunjung mengenai sejarah persandian di Indonesia dan mancanegara. Jam buka museum ini yaitu hari Selasa s/d Kamis pukul 08.30-14.00, Jum'at pukul 08.30-11.30, sedangkan hari  Sabtu dan Minggu buka pukul 08.30-13.00 WIB. Untuk ticket masuknya Rp 2.000,- / orang telp. 0274 – 387576.

Setelah puas berkunjung di Museum Perjuangan Yogyakarta perjalanan terakhir kita adalah di Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama yang letaknya ditengah kota. Untuk menuju kesana dengan Bus Trans Jogja dari Shelter Jokteng Wetan wisatawan akan diajak putar-putar kota Yogya terlebih dahulu. Dari Jogja Selatan menuju ke arah timur lalu berbelok masuk tengah kota melewati kebun Binatang Gembira Loka, lalu lewat 2 stadion kebanggaan warga Yogyakarta, setelah itu lewat depan kampus UKDW dan belok kiri melewati jalan protokol lalu berhenti di Shelter Gramedia. Letak Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama bersebrangan dengan Toko Buku Gramedia ke arah timur kurang lebih 50 meter. Dengan bangunan megah bercat hijau dan terdapat 2 patung besar yaitu Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo berdiri gagah di ujung barat gedung ini memberikan sebuah penanda besar bagi para pengunjung yang memasuki Museum Dharma Wiratama. Sejarah panjang dan lika-liku TNI-AD berjuang bagi NKRI bisa dilihat dari setiap ruang yang ada di museum ini. Museum Dharma Wiratama mempunyai koleksi benda-benda bersejarah perjuangan TNI-AD sejak tahun 45 hingga peristiwa G 30S/PKI yang divisualisasikan dalam ruangan-ruangan yang telah disediakan. Museum Dharma Wiratama terbagi dalam beberapa ruangan yaitu ; ruang pertama/R. Pengantar, R. Pangsar Jenderal Soedirman, R. Letjend Oerip Soemohardjo, R. Palagan, R. Senjata, R. Dapur Umum, R. Alat Perhubungan dan Alat Kesehatan, R. Panji-Panji, R. Tanda Jasa, R. Peristiwa, R. Alat Peralatan, R. Unity Charter of Indonesian Army and Garuda Contingent, R. Pahlawan Revolusi, R. Penumpasan G 30S/PKI. Cukup banyak bukan koleksi yang dipamerkan di museum ini sesuai dengan nama ruangannya. Tidak hanya itu saja di luar gedung musem terdapat pula kendaraan lapis baja yang sudah dipensiunkan dipajang untuk menarik perhatian pengunjung yang biasanya sebagai tempat berfoto bersama para wisatawan. Status Museum Dharma Wiratama merupakan museum khusus dengan pengelolaan Dinas Pembinaan Mental AD yang bisa dikunjungi setiap jam kerja hari Senin - Jumat pukul 07.30 –15.00 WIB Sabtu, Minggu dan Hari libur 08.00 –14.00 WIB yang menyenangkan berkunjung ke museum ini adalah tidak dipatok harga ticketnya alias sukarela.
Sungguh sebenarnya Yogyakarta bukan hanya kota pelajar ataupun kota budaya akan tetapi jika kita flashback kembali bahwa Yogyakarta turut andil besar dalam sejarah pergolakan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan bisa disebut kota pahlawan ke 2 setelah Surabaya. Sebenarnya tidak hanya 4 museum diatas saja yang menceritakan sejarah perjuangan di Kota Gudeg ini masih banyak museum sejarah dan monumen yang ada di Yogya sebagai saksi bisu jalanya perjuangan bangsa ini merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jas-jasa para pahlawannya, dengan berkunjung ke museum sejarah dan perjuangan bangsa ini setidaknya kita turut ikut menghargai jasa-jasa pahlawan.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar