Menyambangi 3 Pasar Tua Di Kota Jogja Dengan Trans Jogja
Penulis : Imam
Prasetyo Nugroho
Durasi : 1 hari
Kategori : Wisata Belanja
Tempat yg dikunjungi : Pasar Beringharjo, Pasar Sentul dan Pasar Kota Gede,
Perkiraan biaya : Rp. 12.000/ orang ( transportasi )
Kategori : Wisata Belanja
Tempat yg dikunjungi : Pasar Beringharjo, Pasar Sentul dan Pasar Kota Gede,
Perkiraan biaya : Rp. 12.000/ orang ( transportasi )
Catatan :
Ticket Single Trip Bus Trans Jogja Rp 3.000,- untuk setiap
Perjalanan.
Akhir-akhir
ini wisata belanja sangat diminati bagi para pelancong baik di sepanjang
kawasan perniagaan modern maupun blusukan
ke pasar tradisional. Untuk belanja di kawasan perniagaan yang modern mungkin
sudah biasa dan sedikit tantangannya. Kenapa saya mengatakan sedikit
tantangannya, karena biasanya di kawasan perniagaan modern sudah tertera
bandrol harganya jadi tidak ada seni untuk tawar-menawar harga, meskipun ada
mungkin harganya turun sangat relatif kecil atau bahkan sudah ditentukan dengan
diskon angka-angka tertentu. Akan tetapi hal itu tak akan kita jumpai jika kita
mau blusukan ke pasar tradisional yang ada di nusantara ini. Justru di pasar
tradisional inilah yang membuat menarik, karena masih ada tawar- menawar hingga
bisa mendapatkan harga termurah. Tidak hanya itu saja pasar tradisional sebagai
sarana bertegur sapa antar penjual dan pembeli yang mungkin jarang kita temui
di pusat perniagaan modern. Ngomongin pasar tradisional, saya ingin mengajak
yang hobi wisata belanja untuk menyambangi pasar tua yang ada di kota Jogjakarta
pastinya pasar ini adalah pasar tradisional. Pasar tradisonal yang saya
tawarkan ini cukup familiar dan usianya cukup lama juga bahkan ada yang hampir
lebih 1 abad lho.
Oke,
untuk tujuan pertama kita adalah Pasar Beringharjo. Jika anda orang Jogja ataupun
dulunya pernah menetap di Jogja sebagai pelajar yang menuntut ilmu di kota
pelajar ini mungkin sudah tidak asing lagi telinga anda mendengar Pasar
Beringharjo. Pasar ini merupakan salah satu ikon kota Jogjakarta yang letaknya
di jantung kota Jogja dikawasan Malioboro-Nol Kilometer. Pasar ini ternyata
mempunyai sejarah yang cukup menarik hingga saat ini berdiri. Bagi anda
wisatawan yang tiba di Jogja dari arah timur ( Bandara Adisucipto ) ingin
menyambangi pasar tua ini bisa menggunakan Bus Trans Jogja jalur 1A naik dari Shelter
Bandara Adisucipto lalu turun di shelter sekitar kawasan Jalan Maloiboro Atau
Kantor Pos Besar. Jika wisatawan yang tiba di kota Jogja dengan kereta api dari
Stasiun Tugu bisa naik Bus Trans Jogja dengan jalur yang sama pula atau jika
lebih menarik lagi cukup jalan kaki ke arah selatan kurang lebih 1 Km, sambil
menyusuri ramainya Jalan Malioboro nanti anda akan menemui Pasar Beringharjo di
kiri jalan. Tapi saya sarankan jika anda hanya membawa uang pas maka jangan
lirak-lirik dagangan yang dijual di sepanjang Jalan Malioboro ditanggung anda
akan tergiur untuk membelinya dan bisa saya pastikan sebelum masuk Pasar
Beringharjo uang anda sudah habis duluan (he..he..he..). Tapi jangan khawatir
disepanjang Malioboro banyak ATM dari berbagai bank jadi tidak usah takut
kehabisan uang. Nah, sebelum anda blusukan
ke Pasar Beringharjo ada baiknya kita telusuri dulu sejarah berdirinya salah
satu pasar tua di jantung kota Jogja ini. Dahulu wilayah Pasar
Beringharjo merupakan hutan beringin, setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat, di tahun 1758, bekas hutan beringin ini dijadikan pasar untuk
tempat transaksi ekonomi oleh warga Jogjakarta dan sekitarnya. Setelah ratusan
tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1925 tempat transaksi jual-beli ini
dibuatkan bangunan permanen. Sedangkan Nama 'Beringharjo' sendiri diberikan
oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Arti nama Beringharjo sendiri adalah bahwa
dahulu wilayah yang saat ini menjadi pasar adalah sebuah hutan beringin ( bering
) sedangkan kata harjo diharapkan
dapat memberikan kesejahteraan. Jadi secara keseluruhan Pasar Beringharjo
diharapkan menjadi tempat belanja yang menyenangkan dan dapat memberi
kesejahteraan bagi para pedagangnya.
Pasar Beringharjo
sendiri merupakan pasar tradisional terbesar di kota Jogjakarta yang menjual
berbagai macam kebutuhan baik sandang, pangan maupun peralatan papan. Hingga
saat ini Pasar Beringharjo telah mengalami berulang-ulang kali renovasi
bangunan fisiknya. Jika anda masuk ke dalam pasar telah tertata rapi dengan
dibuat blok-blok tersendiri jenis dagangan yang dijual, pasar ini terdiri dari
4 lantai dan mungkin puluhan blok. Jika anda memasuki Pasar Beringharjo dari
pintu utama ( arah barat ) di bagian luar wisatawan akan menemui pedagang aneka
jajanan pasar dan makanan kering khas Jogja untuk oleh-oleh. Dilantai satu sisi
barat berjajar-jajar blok busana dari batik klasik hingga fashion modern. Jika
anda ingin mencari koleksi kain atau pakaian batik dari harga yang termurah
hingga termahal disinilah tempatnya, bahkan jika anda beli banyak ditawarkan
dengan harga grosir, mantap bukan.! Berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, anda akan
disuguhi aroma jejamuan. Di tempat ini merupakan pusat penjualan bahan dasar
jamu Jawa ( empon-empon ) dan
rempah-rempah bumbu masak. Dilantai 3 dan 4 bagi anda yang ingin berburu
barang-barang antik dan barang bekas yang masih oke punya disitulah surganya.
Dilantai 4 banyak dijual rongsokan barang-barang elektronik seperti
mekanik-mekanik tape recorder, radio, TV hingga camera model jadoel. Tapi saya sarankan jika
wisatawan ingin belanja barang antik dan bekas di sini harus pintar-pintar
menawar dan benar-benar tau karakteristik kondisi barang yang akan dibeli,
karena banyak sekali pembeli yang terbuai rayuan si penjual akhirnya hanya
mendapatkan barang bekas yang mudah rusak bahkan palsu. Tidak hanya wisata belanja
saja yang kita dapat di Pasar Beringharjo akan tetapi wisatawan juga bisa
melihat perjuangan para kuli-kuli panggul mencari nafkah untuk menyambung hidup
keluarganya. Para kuli panggul di pasar ini rata-rata didominasi para
nenek-nenek dari keluarga kurang mampu. Perjuangan mereka juga sering dijadikan spot para Fotografer untuk diabadikan gambarnya.
Setelah puas berkeliling kawasan dalam pasar tiba saatnya anda saya ajak
menyambangi daerah diluar pasar yang tidak kalah menarik. Kawasan lor pasar yang
dulu merupakan Chinese Town ( Pecinan
) sekarang dijadikan pusat jual-beli logam mulia. Tidak hanya itu saja bagi
anda pemburu kaset-kaset lama tahun 50-an di kawasan ini bisa ditemui dan juga
segala barang-barang yang berbau jadoel seperti mata uang logam lama dari
berbagai negara. Jika ingin wisata kuliner pun wisatawan dimanjakan dengan
berbagai menu makanan tradisonal yang ada di dalam kawasan pasar maupun yang
dijajakan diluar pasar. Meski Pasar Beringharjo tutup pukul 17.00 WIB, tetapi
dinamika pedagang tidak berhenti pada jam itu. Ketika menjelang petang bagian
depan pasar masih menawarkan berbagai macam makanan khas seperti Martabak,
Terang Bulan, Cakue, Klepon dan masih banyak lagi jajanan pasar tradisonal yang
menggugah selera anda untuk mencobanya. Sebenarnya pasar terbesar di kota Jogja
ini setiap harinya tidak pernah mati. Pasar Beringharjo sendiri sejak jam 03.00
dinihari transaksi jual-beli sudah dimulai, biasanya para pedagang sayur dari
daerah luar Jogja sudah berdatangan untuk menjajakan dagangannya. Sungguh
sebuah pasar yang sesuai dengan namanya memberikan kesenangan dan kepuasan bagi
para wisatawan yang hobi untuk berbelanja.
Setelah
puas berbelanja di Pasar Beringharjo kita lanjutkan wisata belanja ke Pasar
Sentul yang ada di tengah kota jadi sisakan uang anda untuk belanja di pasar
berikutnya yang akan kita kunjungi ini. Dari Pasar Beringharjo kita bisa
meneruskan perjalanan dengan naik Bus Trans Jogja jalur yang sama yaitu 1A naik
dari Shelter Trans Jogja yang ada di kawasan Malioboro atau dari Shelter Bus
Trans Jogja Kantor Pos Besar. Perjalanan kurang lebih 15 menit kearah timur dan
wisatawan bisa turun di Shelter Trans Jogja Pasar Sentul. Dari tempat anda
turun tadi tentunya Pasar Sentul tidak jauh lagi tepat persisnya di kiri jalan Jl. Sultan Agung atau diseberang
jalan sebelah timur Pura
Pakualaman. Sebenarnya pasar ini seperti pasar tradisional lainnya
akan tetapi pasar ini cukup berusia tua juga dan sebagai pusat transaksi para
pedagang skala kecil hingga besar. Di pasar ini dapat dijumpai berbagai macam
produk berupa beragam kebutuhan rumah tangga ( sembako ), pakaian, alat-alat
pertanian bahkan makanan siap sajipun bisa anda temukan. Yang menjadi khas di Pasar
Sentul ini adalah pusat jual beli jagung muda mentah. Disamping tempat yang
mudah dijangkau, harga yang lebih murah dan kualitas jagung yang bagus menjadi
alasan para pengusaha kecil jagung bakar untuk membeli di pasar ini. Pasar
Sentul juga seperti Pasar Beringharjo kegiatan jual-beli dimulai pukul 03.00
pagi yang biasanya didominasi oleh para pedagang sayur-sayuran segar. Aura
pasar tradisional sangat terasa sekali disini jika anda belanja di pagi hari,
dengan para penjual yang didominasi pula oleh para orang-orang tua dan juga
masih adanya para kuli panggul seperti di Pasar Beringharjo. Di sini pengunjung
juga dimudahkan untuk mencari kebutuhannya karena para pedagang sudah
dikelompokkan menurut jenis barang dagangannya. Beberapa fasilitas yang
mendukung kenyamanan pengunjung di Pasar Sentul yakni toilet, area parkir yang
luas, tidak jauh dari tempat ini ada SPBU dan juga Pos Polisi sehingga keamanan
lebih terjamin. Banyak juga tukang becak yang mangkal di depan pasar, sehingga
memudahkan para pembeli jika berbelanja dengan kapasitas yang besar namun tidak
membawa kendaraan khusus.
Wisata belanja kita yang terakhir adalah mengunjungi Pasar Gede atau
yang lebih dikenal dengan sebutan Sargede yang ada di Kota Gede. Di sini kita tidak
hanya sekedar belanja saja karena juga bisa wisata sejarah pula, karena letak Pasar
Gede berdekatan dengan Makam Raja-Raja Mataram dan ada beberapa patilasan dari Panembahan
Senopati pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Dari Pasar Sentul tadi kita lanjutkan perjalanan dengan menggunakan Bus Trans
Jogja jalur 1A naik dari Shelter Trans Jogja Pasar Sentul menuju ke timur
menyusuri jalan Kusumanegara dan berhenti di Shelter Babadan Gedongkuning. Dari Shelter
Babadan Gedongkuning kita harus oper Bus Trans Jogja ke jalur 2A menuju kearah
selatan dan turun di Shelter Gedongkuning seberang Dept. Kehutanan persis di
depan Bank Mandiri Syariah. Dari tempat anda turun tadi wisatawan harus jalan
kurang lebih 500 meter ke selatan untuk menuju Pasar Gede, karena memang Bus Trans Jogja tidak
melewati jalan yang ke arah Pasar Gede. Tapi bagi para wisatawan jangan
berpikir capek terlebih dahulu, karena selama anda berjalan 500 meter tersebut
mata anda akan dimanjakan dengan berderet-deret kios penjual aneka kerajinan
perak. Kawasan ini disebut Jalan Kemasan dan memang pusatnya show room
pengrajin perak di Jogjakarta. Dijamin jika anda mupeng ( mudah pengen ) maka uang anda akan mampir dulu ke
kios-kios kecil penjual perak sebelum sampai tujuan yaitu Pasar Gede. Oke, kita tinggalkan sejenak
sentra penjual perak kita berjalan lagi ke arah selatan menuju Pasar Gede.
Pasar Kotagede atau Sargede merupakan
salah satu pasar tua
yang ada di Jogjakarta yang berdiri semenjak jaman Kerajaan MataramIslam. Dahulu kala kawasan Kota Gede ini adalah hutan disebut
Alas Mentaok, yang diberikan kepada
Panembahan Senopati oleh Sultan Pajang atas jasa Senopati telah membantu menyelamatkan
Pajang. Lalu pada tahun 1575 Panembahan Senopati menjadi Raja Mataram Islam yang pertama dan menetapkan kawasan Kota Gede sebagai ibu kota
Kerajaan Mataram Islam hingga tahun 1640. Meskipun Pasar Gede tidak terlalu besar seperti 2 pasar yang kita
kunjungi tadi akan tetapi disini menjajakan berbagai
macam kebutuhan rumah tangga dan terbilang lengkap dari kebutuhan pangan, sandang dan peralatan
papan. Keistimewaan pasar Kota Gede adalah adanya pasar legi (pasaran jawa) yang ada setiap 5
hari sekali ketika saat pasaran legi. Pada
saat pasaran legi
pasar Kota Gede sangat ramai seperti pasar tumpah. Hal ini di karenakan adanya penjual dan pembeli di kawasan luar pasar aneka
macam burung, ayam, obral pakaian, ikan, onderdil-onderdil ,dan kebutuhan rumah tangga lainnya hingga hal-hal yang berbau mistis yaitu penjual batu akik bertuah dan jimat. Biasanya jika jatuh pada
pasaran legi kawasan Pasar Gede macet dikarenakan banyak yang memarkir
kendaraannya di bahu jalan sehingga membuat jalanan semakin sempit dan hal ini
sangat disayangkan sekali. Jika anda masuk ke dalam pasar masih bisa kita temui
para penjahit tradisional dengan menggunakan mesin jahit yang dikayuh dengan
tangan, biasanya dilakukan oleh para perempuan tua. Dikawasan luar pasar masih
banyak kita temui bangunan-bangunan rumah jaman dahulu, bahkan sering kawasan
Kota Gede untuk lokasi syuting FTV. Kegiatan perniagaan di dalam Pasar Gede sendiri
sebenarnya akan sepi di siang hari sekitar pukul 13.00, akan tetapi kegiatan
jual-beli di area luar pasar masih berlanjut hingga malam hari. Ketika sore
hari berjajar-jajar penjual aneka kuliner jajanan pasar apalagi jika bulan
puasa ramainya akan lipat 2 kali di banding hari-hari lainnya. Di sisi selatan
pasar ada berjajar toko penjual oleh-oleh khas Kota Gede yaitu yangko, dan bila
kita berjalan kearah selatan lagi maka akan menemukan Kompleks Makam Raja-Raja
Mataram yang letaknya di kanan jalan. Disana terbaring jasad pendiri Kerajaan
Mataram Islam Panembahan Senopati dan 2 penasehatnya yaitu Ki Juru Martani dan Ki
Ageng Giring juga para kerabat-kerabat Kerajaan Mataram lainnya. Seperti yang
saya katakan diawal tadi bahwa berkunjung ke Pasar Gede tidak hanya wisata
belanja saja akan tetapi juga bisa wisata sejarah. Dari komplek Pemakaman Raja
Mataram tadi jika kita lanjutkan ke selatan lagi wisatawan juga akan menemui
sebuah bangunan ditengah jalan kampung. Disitulah tempat disimpannya Watu
Gilang yaitu tempat duduk Panembahan Senopati, Watu Gatheng yaitu batu mainannya Raden Ronggo putra Panembahan
Senopati dan Watu Genthong yaitu
tempat air wudu 2 penasehat Panembahan Senopati, Ki Juru Martani dan Ki Ageng
Giring. Di kanan bangunan tersebut ada sebuah Taman Sari Kerajaan Mataram Islam
dan sebelah utaranya taman sari tersebut ada Produsen Coklat Monggo yang
terkenal itu. Nah, para wisatawan setelah melihat-lihat cagar budaya
peninggalan Kerajaan Mataram bisa dilanjutkan wisata belanjanya dengan
mengunjungi show room Coklat Monggo yang bersebelahan dengan pabriknya. O, iya
selain di jalan kemasan disisi barat Pasar Gede tepatnya di Jalan Mondorakan anda
masih bisa menemui sentra kerajina perak dan juga ada pembuat makanan
tradisonal yang hampir punah yaitu Kipo.
Konon katanya kipo ini adalah makanan para bangsawan dan Raja-Raja Mataram.
Bagaimana, menyenangkan bukan jalan-jalan wisata belanja kita kali ini. Selain
bisa berbelanja aneka kebutuhan, cinderamata dan buah tangan untuk sanak-keluarga
sekaligus dapat menelusuri sejarah dan melihat cagar budaya. Menyambangi pasar
tradisional bukan hannya sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangga saja akan
tetapi sekaligus bisa belajar sejarah dan budaya dimana pasar itu dibangun. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar