Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Kamis, 29 Agustus 2013

WISATA BELANJA PASAR TRADISIONAL


Menyambangi 3 Pasar Tua Di Kota Jogja Dengan Trans Jogja
Penulis                                    : Imam Prasetyo Nugroho
Durasi                                     : 1 hari
Kategori                                  : Wisata Belanja
Tempat yg dikunjungi             : Pasar Beringharjo, Pasar Sentul dan Pasar Kota Gede,
Perkiraan biaya                     : Rp. 12.000/ orang ( transportasi )
Catatan                                   : Ticket Single Trip Bus Trans Jogja Rp 3.000,- untuk setiap
                                                  Perjalanan.
Akhir-akhir ini wisata belanja sangat diminati bagi para pelancong baik di sepanjang kawasan perniagaan modern maupun blusukan ke pasar tradisional. Untuk belanja di kawasan perniagaan yang modern mungkin sudah biasa dan sedikit tantangannya. Kenapa saya mengatakan sedikit tantangannya, karena biasanya di kawasan perniagaan modern sudah tertera bandrol harganya jadi tidak ada seni untuk tawar-menawar harga, meskipun ada mungkin harganya turun sangat relatif kecil atau bahkan sudah ditentukan dengan diskon angka-angka tertentu. Akan tetapi hal itu tak akan kita jumpai jika kita mau blusukan ke pasar tradisional yang ada di nusantara ini. Justru di pasar tradisional inilah yang membuat menarik, karena masih ada tawar- menawar hingga bisa mendapatkan harga termurah. Tidak hanya itu saja pasar tradisional sebagai sarana bertegur sapa antar penjual dan pembeli yang mungkin jarang kita temui di pusat perniagaan modern. Ngomongin pasar tradisional, saya ingin mengajak yang hobi wisata belanja untuk menyambangi pasar tua yang ada di kota Jogjakarta pastinya pasar ini adalah pasar tradisional. Pasar tradisonal yang saya tawarkan ini cukup familiar dan usianya cukup lama juga bahkan ada yang hampir lebih 1 abad lho.

Oke, untuk tujuan pertama kita adalah Pasar Beringharjo. Jika anda orang Jogja ataupun dulunya pernah menetap di Jogja sebagai pelajar yang menuntut ilmu di kota pelajar ini mungkin sudah tidak asing lagi telinga anda mendengar Pasar Beringharjo. Pasar ini merupakan salah satu ikon kota Jogjakarta yang letaknya di jantung kota Jogja dikawasan Malioboro-Nol Kilometer. Pasar ini ternyata mempunyai sejarah yang cukup menarik hingga saat ini berdiri. Bagi anda wisatawan yang tiba di Jogja dari arah timur ( Bandara Adisucipto ) ingin menyambangi pasar tua ini bisa menggunakan Bus Trans Jogja jalur 1A naik dari Shelter Bandara Adisucipto lalu turun di shelter sekitar kawasan Jalan Maloiboro Atau Kantor Pos Besar. Jika wisatawan yang tiba di kota Jogja dengan kereta api dari Stasiun Tugu bisa naik Bus Trans Jogja dengan jalur yang sama pula atau jika lebih menarik lagi cukup jalan kaki ke arah selatan kurang lebih 1 Km, sambil menyusuri ramainya Jalan Malioboro nanti anda akan menemui Pasar Beringharjo di kiri jalan. Tapi saya sarankan jika anda hanya membawa uang pas maka jangan lirak-lirik dagangan yang dijual di sepanjang Jalan Malioboro ditanggung anda akan tergiur untuk membelinya dan bisa saya pastikan sebelum masuk Pasar Beringharjo uang anda sudah habis duluan (he..he..he..). Tapi jangan khawatir disepanjang Malioboro banyak ATM dari berbagai bank jadi tidak usah takut kehabisan uang. Nah, sebelum anda blusukan ke Pasar Beringharjo ada baiknya kita telusuri dulu sejarah berdirinya salah satu pasar tua di jantung kota Jogja ini. Dahulu wilayah Pasar Beringharjo merupakan hutan beringin, setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di tahun 1758, bekas hutan beringin ini dijadikan pasar untuk tempat transaksi ekonomi oleh warga Jogjakarta dan sekitarnya. Setelah ratusan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1925 tempat transaksi jual-beli ini dibuatkan bangunan permanen. Sedangkan Nama 'Beringharjo' sendiri diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Arti nama Beringharjo sendiri adalah bahwa dahulu wilayah yang saat ini menjadi pasar adalah sebuah hutan beringin  ( bering ) sedangkan kata harjo diharapkan dapat memberikan kesejahteraan. Jadi secara keseluruhan Pasar Beringharjo diharapkan menjadi tempat belanja yang menyenangkan dan dapat memberi kesejahteraan bagi para pedagangnya.
Pasar Beringharjo sendiri merupakan pasar tradisional terbesar di kota Jogjakarta yang menjual berbagai macam kebutuhan baik sandang, pangan maupun peralatan papan. Hingga saat ini Pasar Beringharjo telah mengalami berulang-ulang kali renovasi bangunan fisiknya. Jika anda masuk ke dalam pasar telah tertata rapi dengan dibuat blok-blok tersendiri jenis dagangan yang dijual, pasar ini terdiri dari 4 lantai dan mungkin puluhan blok. Jika anda memasuki Pasar Beringharjo dari pintu utama ( arah barat ) di bagian luar wisatawan akan menemui pedagang aneka jajanan pasar dan makanan kering khas Jogja untuk oleh-oleh. Dilantai satu sisi barat berjajar-jajar blok busana dari batik klasik hingga fashion modern. Jika anda ingin mencari koleksi kain atau pakaian batik dari harga yang termurah hingga termahal disinilah tempatnya, bahkan jika anda beli banyak ditawarkan dengan harga grosir, mantap bukan.! Berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, anda akan disuguhi aroma jejamuan. Di tempat ini merupakan pusat penjualan bahan dasar jamu Jawa ( empon-empon ) dan rempah-rempah bumbu masak. Dilantai 3 dan 4 bagi anda yang ingin berburu barang-barang antik dan barang bekas yang masih oke punya disitulah surganya. Dilantai 4 banyak dijual rongsokan barang-barang elektronik seperti mekanik-mekanik tape recorder, radio, TV hingga camera model jadoel. Tapi saya sarankan jika wisatawan ingin belanja barang antik dan bekas di sini harus pintar-pintar menawar dan benar-benar tau karakteristik kondisi barang yang akan dibeli, karena banyak sekali pembeli yang terbuai rayuan si penjual akhirnya hanya mendapatkan barang bekas yang mudah rusak bahkan palsu. Tidak hanya wisata belanja saja yang kita dapat di Pasar Beringharjo akan tetapi wisatawan juga bisa melihat perjuangan para kuli-kuli panggul mencari nafkah untuk menyambung hidup keluarganya. Para kuli panggul di pasar ini rata-rata didominasi para nenek-nenek dari keluarga kurang mampu. Perjuangan mereka juga sering dijadikan spot para Fotografer untuk diabadikan gambarnya. Setelah puas berkeliling kawasan dalam pasar tiba saatnya anda saya ajak menyambangi daerah diluar pasar yang tidak kalah menarik. Kawasan lor pasar yang dulu merupakan Chinese Town ( Pecinan ) sekarang dijadikan pusat jual-beli logam mulia. Tidak hanya itu saja bagi anda pemburu kaset-kaset lama tahun 50-an di kawasan ini bisa ditemui dan juga segala barang-barang yang berbau jadoel seperti mata uang logam lama dari berbagai negara. Jika ingin wisata kuliner pun wisatawan dimanjakan dengan berbagai menu makanan tradisonal yang ada di dalam kawasan pasar maupun yang dijajakan diluar pasar. Meski Pasar Beringharjo tutup pukul 17.00 WIB, tetapi dinamika pedagang tidak berhenti pada jam itu. Ketika menjelang petang bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam makanan khas seperti Martabak, Terang Bulan, Cakue, Klepon dan masih banyak lagi jajanan pasar tradisonal yang menggugah selera anda untuk mencobanya. Sebenarnya pasar terbesar di kota Jogja ini setiap harinya tidak pernah mati. Pasar Beringharjo sendiri sejak jam 03.00 dinihari transaksi jual-beli sudah dimulai, biasanya para pedagang sayur dari daerah luar Jogja sudah berdatangan untuk menjajakan dagangannya. Sungguh sebuah pasar yang sesuai dengan namanya memberikan kesenangan dan kepuasan bagi para wisatawan yang hobi untuk berbelanja.
Setelah puas berbelanja di Pasar Beringharjo kita lanjutkan wisata belanja ke Pasar Sentul yang ada di tengah kota jadi sisakan uang anda untuk belanja di pasar berikutnya yang akan kita kunjungi ini. Dari Pasar Beringharjo kita bisa meneruskan perjalanan dengan naik Bus Trans Jogja jalur yang sama yaitu 1A naik dari Shelter Trans Jogja yang ada di kawasan Malioboro atau dari Shelter Bus Trans Jogja Kantor Pos Besar. Perjalanan kurang lebih 15 menit kearah timur dan wisatawan bisa turun di Shelter Trans Jogja Pasar Sentul. Dari tempat anda turun tadi tentunya Pasar Sentul tidak jauh lagi tepat persisnya di kiri jalan Jl. Sultan Agung atau diseberang jalan sebelah timur Pura Pakualaman. Sebenarnya pasar ini seperti pasar tradisional lainnya akan tetapi pasar ini cukup berusia tua juga dan sebagai pusat transaksi para pedagang skala kecil hingga besar. Di pasar ini dapat dijumpai berbagai macam produk berupa beragam kebutuhan rumah tangga ( sembako ), pakaian, alat-alat pertanian bahkan makanan siap sajipun bisa anda temukan. Yang menjadi khas di Pasar Sentul ini adalah pusat jual beli jagung muda mentah. Disamping tempat yang mudah dijangkau, harga yang lebih murah dan kualitas jagung yang bagus menjadi alasan para pengusaha kecil jagung bakar untuk membeli di pasar ini. Pasar Sentul juga seperti Pasar Beringharjo kegiatan jual-beli dimulai pukul 03.00 pagi yang biasanya didominasi oleh para pedagang sayur-sayuran segar. Aura pasar tradisional sangat terasa sekali disini jika anda belanja di pagi hari, dengan para penjual yang didominasi pula oleh para orang-orang tua dan juga masih adanya para kuli panggul seperti di Pasar Beringharjo. Di sini pengunjung juga dimudahkan untuk mencari kebutuhannya karena para pedagang sudah dikelompokkan menurut jenis barang dagangannya. Beberapa fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung di Pasar Sentul yakni toilet, area parkir yang luas, tidak jauh dari tempat ini ada SPBU dan juga Pos Polisi sehingga keamanan lebih terjamin. Banyak juga tukang becak yang mangkal di depan pasar, sehingga memudahkan para pembeli jika berbelanja dengan kapasitas yang besar namun tidak membawa kendaraan khusus.

Wisata belanja kita yang terakhir adalah mengunjungi Pasar Gede atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sargede  yang ada di Kota Gede. Di sini kita tidak hanya sekedar belanja saja karena juga bisa wisata sejarah pula, karena letak Pasar Gede berdekatan dengan Makam Raja-Raja Mataram dan ada beberapa patilasan dari Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram Islam. Dari Pasar Sentul tadi kita lanjutkan perjalanan dengan menggunakan Bus Trans Jogja jalur 1A naik dari Shelter Trans Jogja Pasar Sentul menuju ke timur menyusuri jalan Kusumanegara dan berhenti di Shelter Babadan Gedongkuning. Dari Shelter Babadan Gedongkuning kita harus oper Bus Trans Jogja ke jalur 2A menuju kearah selatan dan turun di Shelter Gedongkuning seberang Dept. Kehutanan persis di depan Bank Mandiri Syariah. Dari tempat anda turun tadi wisatawan harus jalan kurang lebih 500 meter ke selatan untuk menuju Pasar Gede, karena memang Bus Trans Jogja tidak melewati jalan yang ke arah Pasar Gede. Tapi bagi para wisatawan jangan berpikir capek terlebih dahulu, karena selama anda berjalan 500 meter tersebut mata anda akan dimanjakan dengan berderet-deret kios penjual aneka kerajinan perak. Kawasan ini disebut Jalan Kemasan dan memang pusatnya show room pengrajin perak di Jogjakarta. Dijamin jika anda mupeng ( mudah pengen ) maka uang anda akan mampir dulu ke kios-kios kecil penjual perak sebelum sampai tujuan yaitu Pasar Gede. Oke, kita tinggalkan sejenak sentra penjual perak kita berjalan lagi ke arah selatan menuju Pasar Gede. Pasar Kotagede atau Sargede  merupakan salah satu pasar tua yang ada di Jogjakarta yang berdiri semenjak jaman Kerajaan MataramIslam. Dahulu kala kawasan Kota Gede ini adalah hutan disebut Alas Mentaok, yang diberikan kepada Panembahan Senopati oleh Sultan Pajang atas jasa Senopati telah membantu menyelamatkan Pajang. Lalu pada tahun 1575 Panembahan Senopati menjadi Raja Mataram Islam yang pertama dan menetapkan kawasan Kota Gede sebagai ibu kota Kerajaan Mataram Islam hingga tahun 1640. Meskipun Pasar Gede  tidak terlalu besar seperti 2 pasar yang kita kunjungi tadi akan tetapi disini menjajakan berbagai macam kebutuhan rumah tangga dan terbilang lengkap dari kebutuhan pangan, sandang dan peralatan papan. Keistimewaan pasar Kota Gede adalah adanya pasar legi (pasaran jawa) yang ada setiap 5 hari sekali ketika saat pasaran legi. Pada saat pasaran legi pasar Kota Gede sangat ramai seperti pasar tumpah. Hal ini di karenakan adanya penjual dan pembeli di kawasan luar pasar aneka macam burung, ayam, obral pakaian, ikan, onderdil-onderdil ,dan kebutuhan rumah tangga lainnya hingga hal-hal yang berbau mistis yaitu penjual batu akik bertuah dan jimat. Biasanya jika jatuh pada pasaran legi kawasan Pasar Gede macet dikarenakan banyak yang memarkir kendaraannya di bahu jalan sehingga membuat jalanan semakin sempit dan hal ini sangat disayangkan sekali. Jika anda masuk ke dalam pasar masih bisa kita temui para penjahit tradisional dengan menggunakan mesin jahit yang dikayuh dengan tangan, biasanya dilakukan oleh para perempuan tua. Dikawasan luar pasar masih banyak kita temui bangunan-bangunan rumah jaman dahulu, bahkan sering kawasan Kota Gede untuk lokasi syuting FTV. Kegiatan perniagaan di dalam Pasar Gede sendiri sebenarnya akan sepi di siang hari sekitar pukul 13.00, akan tetapi kegiatan jual-beli di area luar pasar masih berlanjut hingga malam hari. Ketika sore hari berjajar-jajar penjual aneka kuliner jajanan pasar apalagi jika bulan puasa ramainya akan lipat 2 kali di banding hari-hari lainnya. Di sisi selatan pasar ada berjajar toko penjual oleh-oleh khas Kota Gede yaitu yangko, dan bila kita berjalan kearah selatan lagi maka akan menemukan Kompleks Makam Raja-Raja Mataram yang letaknya di kanan jalan. Disana terbaring jasad pendiri Kerajaan Mataram Islam Panembahan Senopati dan 2 penasehatnya yaitu Ki Juru Martani dan Ki Ageng Giring juga para kerabat-kerabat Kerajaan Mataram lainnya. Seperti yang saya katakan diawal tadi bahwa berkunjung ke Pasar Gede tidak hanya wisata belanja saja akan tetapi juga bisa wisata sejarah. Dari komplek Pemakaman Raja Mataram tadi jika kita lanjutkan ke selatan lagi wisatawan juga akan menemui sebuah bangunan ditengah jalan kampung. Disitulah tempat disimpannya  Watu Gilang yaitu tempat duduk Panembahan Senopati, Watu Gatheng yaitu batu mainannya Raden Ronggo putra Panembahan Senopati dan Watu Genthong yaitu tempat air wudu 2 penasehat Panembahan Senopati, Ki Juru Martani dan Ki Ageng Giring. Di kanan bangunan tersebut ada sebuah Taman Sari Kerajaan Mataram Islam dan sebelah utaranya taman sari tersebut ada Produsen Coklat Monggo yang terkenal itu. Nah, para wisatawan setelah melihat-lihat cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram bisa dilanjutkan wisata belanjanya dengan mengunjungi show room Coklat Monggo yang bersebelahan dengan pabriknya. O, iya selain di jalan kemasan disisi barat Pasar Gede tepatnya di Jalan Mondorakan anda masih bisa menemui sentra kerajina perak dan juga ada pembuat makanan tradisonal yang hampir punah yaitu Kipo. Konon katanya kipo ini adalah makanan para bangsawan dan Raja-Raja Mataram. Bagaimana, menyenangkan bukan jalan-jalan wisata belanja kita kali ini. Selain bisa berbelanja aneka kebutuhan, cinderamata dan buah tangan untuk sanak-keluarga sekaligus dapat menelusuri sejarah dan melihat cagar budaya. Menyambangi pasar tradisional bukan hannya sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangga saja akan tetapi sekaligus bisa belajar sejarah dan budaya dimana pasar itu dibangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar