Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dahulu digelar ketika kemarau panjang melanda. Dua pepadu (petarung) dipertemukan sebagai bagian dari ritual memohon hujan. Darah yang menetes diyakini sebagai simbol kesungguhan dan pengorbanan agar langit berbelas kasih.
Kini
peresean tak lagi menjadi ritual pemanggil hujan. Fungsinya bergeser menjadi
pertunjukan budaya dan daya tarik wisata. Namun tata aturan tetap dijaga.
Pepadu
membawa penjalin (rotan) sepanjang sekitar satu meter dan ende, perisai dari
kulit kerbau. Pukulan diarahkan ke tubuh bagian atas, terutama punggung dan
bahu. Kepala dihindari.
Pertandingan
dibagi dalam beberapa ronde singkat dan diawasi pakembar, wasit yang siap
menghentikan laga bila luka terlalu dalam. Pertarungan diiringi musik gamelan
Sasak dan tembang bernuansa mistis.
Di akhir ronde, kedua pepadu saling merangkul. Wajah yang tadi tegang
berubah santai. Tidak ada amarah yang dibawa keluar arena.
Di Desa Budaya
Sade Rambitan, Lombok Tengah pertunjukan ini berlangsung terbuka untuk
menyambut tamu yang datang berkunjung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar