Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Jumat, 06 Juni 2025

Filosofi memanah

Panah atau memanah sudah lama dikenal sejak ribuan tahun lalu bahkan Sebelum Masehi (SM). Memanah dahulu kala menjadi kegiatan untuk berburu binatang guna mencukupi kebutuhan protein. Seiring berjalanya peradaban manusia, memanah digunakan sebagai alat pertahanan atau senjata menjaga diri. Kini memanah berkembang menjadi olahraga bergengsi dibelahan negara-negara dunia. Mulai dari metode memanah tradisional hingga olahraga panah modern.

Dibalik itu semua, olahraga memanah membawa pengaruh positif bagi mereka yang menyukai hobi panah. Selain melatih kefokusan, kesabaran, dan mengasah ketajaman insting penggunanya.

Di tanah Jawa ada yang namanya olahraga memanah tradisional yaitu jemparingan. Jemparingan Mataraman ini ada dua metode bermain, yaitu dengan cara dibidik seperti memanah pada umumnya, ada juga yang tidak dibidik dengan mata jadi mengandalkan insting atau yang biasa disebut jegulan.

Terlepas dari semua itu, olahraga memanah memiliki filosofi yang sangat dalam. Panah yang terdiri dari dua bagian utama yaitu Anak Panah dan Busur jika dicerna lebih dalam mengajari tentang kehidupan manusia.

Ok, gaes mari kita coba ulas satu per satu. Anak panah yang berbentuk panjang dengan ujung runcing dan tajam, dan ujung sebaliknya diberi bulu untuk mengaitkan anak panah ke tali busur. Dalam kehidupan berkeluarga anak panah diibaratkan sebagai seorang anak. Sementara busur dikiaskan sebagai seorang ibu dan pemanahnya adalah seorang ayah.

Busur (ibu) dan pemanah (ayah) harus mampu bekerjasama, untuk melesatkan anak panah (anak) tepat pada sasaran. Dalam kehidupan berkeluarga antara ibu dan ayah harus seiring-sejalan bekerjasama dan melengkapi mengantarkan anak hingga sampai pada cita-citanya.

Dalam olahraga panah tradisional Jawa ( jemparingan Mataram ) ada peraturan yang tidak tertulis namun akan dipatuhi oleh penghobinya, dimana busur panah tidak boleh dipinjamkan oleh siapapun baik dalam berlatih ataupun berkompetisi.

Dari aturan tidak tertulis ini dapat ditarik pelajaran bahwa busur yang tadi kita ibaratkan sebagai ibu atau istri memang diharamkan untuk dipinjam oleh siapa pun, karena busur panah layaknya pusaka pribadi yang memang harus dipakai sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar