Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Rabu, 10 September 2014

CANDI SARI SISA-SISA BANGUNAN ASRAMA DAN VIHARA TINGGALNYA PARA BIKU

Bangunan candi yang dulunya sebagai Vihara dan asrama bagi para Biku Budha  yang dihadiahkan Maharaja Tejahpurana Panangkaran yang tertulis pada Prasasti Kalasa. Inilah Candi Sari

Candi Sari tidak jauh dari jalan raya yogya-solo pada kilometer 14. Dan disekitaran kilometer 14 itu akan tampak terlihat penunjuk arah letak Candi Sari berada, jika anda dari arah kota Yogyakarta belok ke kiri kurang lebih 150 meter dari penunjuk arah tersebut.  Nah, anda akan melihat terlebih dahulu stupa Candi Sari yang menjulang ke atas berdiri di tanah Dusun Bendan, Desa Tirtomartani  Kalasan, wilayah Kabupaten Sleman , Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut beberapa ahli Arkeologi, Candi Sari dibangun sezaman dengan Candi Kalasan sekitar abad ke 8 masehi. Hal ini juga diperkuat dengan Prasasti Kalasa yang tertulis dengan berhuruf Prenegari berbahasa Sansekerta, bahwa para guru berhasil membujuk Maharaja Tejahpurana Panangkaran untuk membangun kuil untuk Dewi Tara dan Vihara dalam kerajaannya. Lalu Maharaja Tejahpurana menghadiahkan Desa Kalasa untuk para sangha. Kuil Dewi Tara diwujudkan dengan Candi Kalasan dan Vihara diwujudkan dengan Candi Sari.

Candi Sari
sendiri pada masa itu merupakan sebuah bangunan Vihara dan asrama bagi para biku. Sesuai dengan bentuk atapnya yang mumpunyai delapan stupa candi sari merupakan candi yang dibangun pada masa berkembangnya agama Budha.  

Candi Sari awalnya ditemukan dalam keadaan rusak, kemudian pada tahun 1929 dilakukan pemugaran dhingga selesai pada tahun 1930. Dikarenakan batu candi banyak yang hilang maka Candi Sari tidak sempurna dalam pemugarannya hingga saat ini.

Dengan berdenah empat persegi panjang berukuran 17,30 meter kali 10 meter dan tinggi 17 meter pada bagian tubuh Candi Sari mempunyai konstruksi bertingkat. Hal ini dapat dibuktikan di dalam bilik Candi Sari dibagian dindingnya masih tampak  adanya lubang-lubang untuk meletakkan ujung balok kayu sebagai pemisah bilik atas dan bilik bawah.


Sementara itu, Candi Sari sendiri mempunyai tiga bilik yang berjajar berurutan yang masing-masing dihubungkan dengan lubang pintu antara tembok pemisah. Tiap bilik berukuran lebar 3 meter dengan panjang 5,80 meter juga disertai jendela yang terletak diatas maupun di sisi bawah. Pada bilik sisi selatan dan utara terbagi atas bilik atas dan bawah yang pada dahulu kala bilik atas dipergunakan sebagai tempat tinggal para Biku dan bilik bawah sebagai ruang peribadatan atau pemujaan.



Pada bagian luar dinding candi dikelilingi dengan pahatan arca-arca Bodhisatwa berjumlah 38 yang digambarkan dalam sikap lemah gemulai atau Tribhangga. Selain itu juga ada pahatan kinara-kinari yang digambarkan sebagai  mahkluk kayangan yang berwujud setengah manusia dan setengah burung.

Yang teristimewa dari pembuatan Vihara Candi Sari ini, material batunya dilapisi bajralepa yang bertujuan untuk memperhalus permukaan dinding candi dan mengawetkan batunya supaya tidak cepat aus termakan usia. Pada saat ini lapisan bajralepa sendiri sudah banyak yang mengelupas. 






Senin, 11 Agustus 2014

Candi Banyunibo, Tempat Pemujaan Di Lembah Perbukitan Seribu

Berkunjung kesalah satu kompleks percandian agama Budha  yang berdiri di suatu dataran luas disebuah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan seribu . dengan dikelilingi enam stupa yang sudah tidak utuh dan tak bisa tersusun kembali Candi Banyunibo dihiasi relief pada dindingnya yang menceritakan tentang dewi kesuburan hariti .

dengan berkunjung ke situs percandian yang satu ini  mungkin anda akan menilai situs Candi Budha  ini merupakan tempat yang indah diantara candi lainnya. berdiri diatas dataran yang luas di lembah yang terkurung oleh perbukitan seribu. Tidak hanya itu saja dengan persawahan dan perkebunan tebu  yang terhampar luas di bagian barat candi menambah kesan agung sebuah tempat  pemujaan yang di bangun pada 800 masehi yang silam. Ya, inilah Candi Banyunibo  salah satu situs Candi Budha  yang ada di Yogyakarta.

Untuk Memasuki komplek Candi Banyunibo, anda akan melewati jembatan kecil  diatas parit yang menghubungkan area percandian dengan jalan. Bangunan candi utama di kompleks Candi Banyunibo ini masih terlihat utuh berdiri dibandingkan situs candi Budha lainnya seperti Candi Kalasan maupun Candi Sambisari. 

Kompleks Candi Banyunibo yang terletak di Pedukuhan Cepit, Desa Bokoharjo, kecamatan prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Terdiri dari candi induk yang menghadap ke barat dengan dikelilingi enam Candi Perwara berbentuk stupa di sisi timur dan selatan. Namun sayang, Candi Perwara berbentuk stupa ini sudah tidak utuh lagi dikarenakan banyak batuk candi yang hilang  sehingga sulit disusun kembali dalam proses pemugarannya.



Dinamakan Candi Banyunibo, karena situs candi Budha  ini terkurung oleh lereng-lereng perbukitan disisi timur dan selatan dan jika dimusim hujan akan tampak air mengalir turun dari lereng-lereng perbukitan yang mengelilingi bangunan candi ini. Lalu warga setempat menyebutnyan Banyu Nibo  yang artinya air jatuh. Maka dinamakannyalah Candi Banyunibo oleh masyarakat setempat.

Candi induk yang berukuran panjang 15,325 meter, lebar 14,26 meter dan tinggi 14,25 meter terlihat berdiri menjulang dan kokoh. Bangunan candi induk ini berbentuk persegi yang terdapat tangga masuk disisi baratnya. Candi Banyunibo mempunyai selasar, dikarenakan tubuh candi berukuran lebih kecil dibanding kaki candinya.

Memasuki bilik Candi Banyunibo  dengan melintasi sebuah lorong terlebih dahulu. Dimana dikanan maupun kiri lorong ini terdapat relief yang menceritakan tentang dewi kesuburan dalam epos agama Budha  yaitu Hariti  yang digambarkan sedang dikerumuni anak-anak. Sedangkan pada dinding sisi sebelah kiri menggambarkan pria dalam posisi sedang duduk yang merupakan Vaisravana suami dari Hariti.

Diperkirakan Candi Banyunibo merupakan candi untuk peribadatan atau pemujaan bagi Sang Budha Gautama. Hal ini terekam dari jejak adanya relung besar yang dulunya diperkirakan bekas penempatan arca Budha , namun sayang sekali ketika Candi Banyunibo ini ditemukan arca-arca  itu telah lenyap.

sementara itu dinding luar Candi Banyunibo terdapat relung yang diperkirakan bekas ditempatkan arca sang Budha . Candi Banyunibo sendiri ditemukan dalam keadaan runtuh dan proses penelitiannya baru dilakukan di tahun 1940 serta pada tahun 1943 dilakukan penyusunan kembali pada bangunan candi.


Pemugaran Candi Banyunibo berlangsung dua tahap dimana tahap pertama berhasil menyelesaikan bagian alas atau soubasement, kaki candi, tubuh candi dan pelataran serta pagar candi disisi utara.

Sementara itu pemugaran tahap kedua baru dilakukan di tahun 1976 dengan melanjutkan pemugaran atap dan stupa puncak candi induk hingga selesai pada tahun 1978.


by. boimprasetyo



Sabtu, 08 Maret 2014

Klenteng Sam Poo Kong


Jalan-jalan ke kota Semarang selain berkunjung ke Lawang Sewu , nongkrong di Simpang Lima ataupun menyempatkan diri berfoto di depan Gereja Blenduk ternyata masih ada lagi destinasi wisata yang tidak kalah elok indahnya bahkan ada secuil cerita yang tersembunyi yang tentunya perlu diketahui bagi wisatawan. Ya, tempat wisata yang dimaksud adalah Klenteng Agung Sam Poo Kong yang berada didaerah Simongan, sebelah barat daya Kota  semarang.Berbicara tentang Klenteng Sam Poo Kong tidak lepas dari sosok tokoh Laksamana Cheng Ho yang termasyur. Seorang laksamana muslim dari Negeri Tirai Bambu yang melanglang buana mengarungi samudra luas untuk mengemban misinya berdiplomasi dengan kerajaan-kerajaan yang dikunjunginya, termasuk kerajaan yang ada di Nusantara ini. Klenteng Sam Poo Kong sendiri awalnya hayalah sebuah patilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan Laksamana Cheng Ho. Meskipun dari negeri cina namun Cheng Ho merupakan laksamana muslim yang taat. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an". 



Ketika armada Cheng Ho berlayar hingga ke nusantara, Wang Jinghong yang merupakan orang kedua dalam armada itu mendadak sakit keras sehingga Cheng Ho memutuskan untuk membuang sauh di Simongan yang kala itu masih berupa pantai. Gua batu yang ditemukan oleh Cheng Ho kemudian digunakan sebagai tempat beristirahat Wang Jinghong dan sepuluh anak buahnya, sedangkan Cheng Ho kembali melanjutkan pelayarannya. Singkat cerita Wang Jinghong dan anak buahnya kemudian menikahi wanita pribumi serta memutuskan untuk tinggal di Simongan. Lambat laun Simongan berubah menjadi tempat yang maju karena aktivitas perdangan dan pertanian. Warga Tionghoa yang berdatangan ke Semarang pun bermukim dan bercocok tanam serta melakukan perniagaan. Guna mengenang serta menghormati Laksmana Cheng Ho, Wang Jinghong mendirikan patung Cheng Ho di dalam gua. Sepeninggalnya Wang Jinghong, etnis Cina yang mulai memadati Simongan dan mendirikan sebuah klenteng sederhana yang diberi nama Klenteng Sam Poo Kong.

Pada abad ke 18 ketika nusantara diduduki bangsa belanda warga Tionghoa direlokasi ke kawasan Pecinan oleh Belanda, sempat mengalami kesulitan saat hendak beribadah di Klenteng Sam Poo Kong. Dikarenakan belanda menetapkan pajak yang sangat tinggi bagi warga yang ingin beribadah. Pemajakan ini baru berakhir pada tahun 1879 saat Raja Gula Oei Tiong Ham membeli hak atas tanah ini. Klenteng Sam Poo Kong pun kembali dikunjungi warga dan terus berbenah diri serta bersolek menjadi cantik seperti sekarang. Selain sebagai tempat peribadatan, saat ini Klenteng Sam Poo Kong sudah menjadi salah satu tempat wisata religi yang jadi unggulan di Semarang. Kompleks Klenteng Agung Sam Poo Kong terbagi menjadi dua bagian, yaitu plaza utama dan bangunan klenteng. Pengunjung yang tidak memiliki kepentingan hanya boleh masuk ke plaza utama, tempat di mana berdiri patung Laksmana Cheng Ho setinggi 10,7 meter. Patung berbahan dasar perunggu yang dibuat di Cina ini merupakan patung tertinggi di Asia Tenggara. Di sebelah selatan terdapat gerbang raksasa berwarna merah menyala yang membuat kita serasa berada di Negeri tirai bambu. Di balik pagar besi terdapat bangunan klenteng yang hanya boleh dimasuki oleh pengunjung yang berkepentingan semisal hendak berdoa atau ingin membaca peruntungan atau ramal yang dikenal dengan istilah ciamsi.


Untuk bisa berkunjung ke bangunan klenteng ini pengunjung harus membeli ticket terlebih dahulu seharga Rp 20.000,- yang sebelumnya harus mempersiapkan persyaratannya terlebih dahulu seperti membawa hio atau dupa yang dapat dibeli didalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong seharga Rp 10.000,-. Setelah lengkap membawa persyaratannya dan membeli ticket untuk masuk ke bangunan klenteng wisatawan akan memasuki bangunan klenteng sam poo kong. Untuk hal ini jika anda ingin diramal oleh suhu atau juga biasa disebut Biokong. Disini terdapat 4 klenteng yaitu  bernama Klenteng Dewi Laut, Dewa Bumi, Kyai Juru Mudi, dan Klenteng Sam Poo Kong. dalam bangunan klenteng akan tampak Ukiran naga dan huruf Cina berwarna emas menghiasi pilar-pilar merah. Sebuah bedug raksasa berwarna merah terlihat di klenteng utama. Sedangkan di bagian bawah yang agak tersembunyi terdapat petilasan Kyai Jangkar, Kyai Tumpeng, dan Kyai Tjundrik Bumi. Di belakang altar utama, terdapat relief yang menggambarkan tentang kisah pelayaran Cheng Ho.











by boimprasetyo

Kamis, 23 Januari 2014

Lawang Sewu

Lawang Sewu. Ya, mungkin mendengar kata Lawang Sewu imajinasi anda akan terbawa ke sebuah Bangunan Indies yang mempunyai banyak pintu, atau justru sebaliknya. Anda langsung teringat akan kentalnya nuansa mistik di ruang bawah tanah yang ada di gedung Lawang Sewu, yang konon katanya dijadikan killing field atau tempat pembantaian pada masa penjajahan Jepang dulu. Bila memang dalam benak pikiran anda tertuju pada dua hal tersebut itu wajar karena Lawang Sewu tidak bisa dipisahkan dari arsitektur gedung yang dipenuhi dengan pintu juga cerita-cerita horor sebagai bumbu penyedap bangunan tua buatan Kolonial Belanda yang dulu digunakan sebagai Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta.

Kali ini saya akan membawa anda menelusuri Gedung Lawang Sewu yang berada tepat di jantung kota Semarang di jalan Pemuda persisnya depan Tugu Muda Semarang. Dulunya pembangunan Gedung Lawang Sewu digunakan untuk Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta atau Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). Penyebutan Lawang Sewu bukannya tanpa alasan, bangunan bergaya art deco dengan 2 menara kembarnya memang mempunyai banyak pintu dan penduduk setempat menamainya Lawang Sewu yang berasal dari kata lawang artinya pintu dan sewu artinya jumlah seribu. Namun Lawang Sewu bukannya memiliki jumlah pintu seribu, melainkan untuk menggambarkan jumlah pintu di Lawang Sewu yang teramat banyak meskipun kenyataannya jumlah daun pintu yang ada pada Bangunan Indies ini berkisar 600 an. Meski usia bangunan sudah 1 abad lebih namun masih terlihat kuat, kokoh dan megah. Hiasan kaca patri dan lantai marmer menambah kesan mewah dan elegan gedung yang menjadi landmark nya kota Semarang. Mungkin pada zamannya dulu gedung Lawang Sewu bisa dianggap gedung yang modern karena sudah menggunakan teknologi pendingin. Pada zaman pemerintahan Belanda dulu ruang bawah tanah dialiri air dari air hujan yang fungsinya sebagai pendingin ruangan yang berada di lantai satu, dua dan tiga. Tidak hanya itu saja sistim sanitasi air pada gedung ex markas maskapai perkerata apian Indonesia ini sudah dibuat sangat modern dengan bukti bisu sebuah mesin pompa kuno yang berada di bagian depan Lawang Sewu. Namun ketika Jepang menjajah negeri ini ruang bawah tanah berganti fungsi menjadi penjara dan tempat pembantaian para tahanan.




Gedung Lawang Sewu ini menjadi saksi perjuangan dari masa ke masa. Disinilah pertama kali kantor terbesar perusahaan perkerata apian Indonesia di jawa meskipun pada waktu itu masih dibawah komando Hindia-Belanda. Lalu ketika Jepang masuk ke kota Semarang fungsi gedung ini merubah menjadi markas Kempetai dan Kidobutai Jepang. Dan puncaknya pada pertempuran 5 hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) gedung ini menjadi saksi bisu keberanian pemuda angkatan kereta api bertempur melawan serdadu-serdadu Dai Nippon. Lawang Sewu menjadi ladang penyiksaan dan pembantaian ( killing field ) pemuda-pemuda kereta api ditangkap oleh Jepang dan disiksa hingga mati di dalam gedung Lawang Sewu tersebut. Yang konon korbannya mencapai ribuan. Dilantai bawah tanah terdapat penjara jongkok yang dahulu digunakan untuk memenjarakan para pemuda kereta api yang tertangkap sebelum dibunuh. Dan mayatnya dibuang di sungai kecil disamping bangunan Lawang Sewu. Sungguh sebuah bentuk kebiadaban tentara Jepang yang memperlakukan para tahanan dengan tidak manusiawi. Mereka hanya bisa berjongkok. Sedangkan penjara jongkok itu dulunya adalah tempat untuk pengaturan air agar tidak banjir saat Belanda membangun Lawang Sewu. Tidak hanya penjara jongkok saja akan tetapi Jepang juga membuatkan penjara berdiri yang berukuran panjang dan lebar 50 cm dengan tinggi 2 meter yang diisi oleh 5 hingga 6 tahanan yang semuanya hanya bisa berdidri dalam waktu yang tidak ditentukan. 


 
Membayangkan saja kiranya kita tidak berani, betapa kejamnya penyiksaan yang dilakukan Jepang terhadap pejuang-pejuang kita dulu. Setelah Indonesia merdeka, bangunan Lawang Sewu digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI). Selain itu Gedung Lawang Sewu juga pernah dipakai Kantor Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Kementrian Perhubungan Jawa Tengah. Dan sejak tahun 1992 Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota No. 650/50/1992 telah menetapkan Lawang Sewu sebagai salah satu bangunan yang wajib dilindungi sebagai bangunan bersejarah.

Disalah satu ruang pamer yang ada di gedung lawang sewu di perlihatkan alat pemindah jalur kereta api ( rel ) dizamannya dan juga closed kamar mandi buatan Belanda yang masih utuh terbuat dari porselin. Gambar Sketsa bangunan ketika Lawang Sewu dibangun pun juga di perlihatkan di salah satu dinding gedung lawang sewu.

Dan perlu diingat juga jika anda berkunjung ke lawang sewu anda diwajibkan ditemani oleh seorang pemandu, hal ini sangat penting ketika ingin melihat ruang bawah tanah. Untuk melihat ruang bawah tanah sendiri anda harus menyewa sepatu boot dengan tarif Rp 10.000,- perpasang dan center penerang. Karena di dalam ruang bawah tanah akan ada genangan air setinggi mata kaki orang dewasa. Dikarenakan ruang bawah tanah yang lembab dan gelap maka jangan sekali-kali untuk terrpisah dari rombongan, dalam ruang bawah tanah anda akan merasakan betapa kentalnya aroma mistik yang dapat membangkitkan bulu kuduk.






Jumat, 03 Januari 2014

CANDI GEDONG SONGO


Jika selama ini mungkin yang banyak kita ketahui adalah Candi Borobudur dan Prambanan, maka kali inii saya ingin mengajak anda untuk mengunjungi sebuah kompleks candi megah yang terletak di pedalaman Jawa Tengah yang sanggup memukau dan tak kalah menarik dari candi-candi lainnya. Mungkin ada yang pernah dengar dengan nama Candi Gedong Songo, ya Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran tepatnya di Desa Darum, Kelurahan Candi, Kabupaten Semarang. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari kota Semarang  dapat ditempuh melewati Bandungan dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Dan jika dari arah Yogyakarta dapat melewati Ambarawa, ataupun mengambil arah Temanggung via Sumowono.

Candi Gedong Songo bukannya bangunan candi yang berdiri sendiri akan tetapi merupakan kompleks percandian yang jaraknya cukup lumayan menguras tenaga karena dari candi satu ke candi lainnya kita harus naik turun tanah-tanah yang berlereng-lereng. Yang masih menjadi misteri meskipun namya Candi Gedong Songo akan tetapi jumlahnya hanya terdapat lima candi utuh saja. Yang menjadi istimewa dari komplek Candi Gedong Songo ini letaknya dikelilingi gugusan lereng gunung ungaran disebuah lembah dan anda akan bisa membayangkan betapa sejuk dan segarnya suasana obyek wisata Candi Gedong Songo ini. Perjalanan mengelilingi candi berkisar 4 Km melewati jalan setapak yang telah dibangun rapi, tetapi menanjak dan menurun. Tapi jangan merasa capek dulu, jika anda ingin lebih menikmati wisata Candi Gedong Songo tanpa harus keluar keringat bisa menyewa kuda tunggangan yang siap mengantar anda mengelilingi kompleks candi sampai puas.


Hingga saat ini para ahli Arkeologi belum dapat menemukan bukti sejarah Candi Gedong Songo mengenai tahun pembangunan kompleks Candi berikut latar belakang pembangunannya. Namun dilihat dari bentuk arsitektur dan lokasinya, bisa diduga bahwa kompleks candi ini dibuat pada masa pemerintahan dinasti Sanjaya Hindu di Jawa yaitu sekitar abad ke-8 yang merupakan Candi Hindu. Letaknya yang berada di perbukitan menunjukkan fungsinya sebagai tempat pemujaan. Karena menurut kepercayaan Hindu pada masa itu, gunung dianggap sebagai kahyangan atau surga tempat para dewa-dewa bersemayam.

Awalnya dulu komplek candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles diawal tahun 1740 yang pada saat itu hanya terdapat 7 candi saja lalu dinamakan Candi Gedong Pitu. Kemudia pada tahun 1908 – 1911 seorang Arkeolog berkebangsaan Belanda Van Stein Callenfels melakukan penelitian di kompleks candi dan menemukan 2 bangunan candi lainnya sehingga berjumlah sembilan. Lalu penamaan candi diganti dengan Candi Gedong Songo hingga saat ini. Pemerintah indonesia sendiri baru melakukan pemugaran total terhadap Candi Gedong Songo antara tahun 1972 – 1982.



Posisi Candi yang berada di lereng gunung Ungaran menambah nilai tersendiri. Jika kita melihat dari bawah, maka pucuk-pucuk candi akan terlihat menjulang di bawah bayang-bayang kemegahan tebing gunung yang sesekali dihinggapi kabut yang turun. Masih di kompleks obyek wisata Candi Gedong Songo anda akan menjumpai Kawah Gedong Songo yang masih aktif menyemburkan aroma belerang. Anda dapat dengan bebas berjalan di sekitar kawah untuk sekedar berfoto asalkan tahan aroma belerang yang sangat menyengat. Masih di kompleks kawah belerang gedong songo juga disediakan tempat pemandian air hangat belerang yang konon katanya dapat menyembuhkan penyakit kulit.



Tunggu apalagi kalau anda pecinta travelling destinasi wisata Candi Gedong Songo merupakan tempat yang tidak kalah dangan Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Dengan ticket masuk Rp 7.500,- saya pastikan akan mendapat panorama alam yang juara. Selain itu juga anda bisa merasakan wisata kuliner sate kelinci yang cocok dengan cuaca yang dingin di bawah Lereng Gunung Ungaran.