Bangunan candi
yang dulunya sebagai Vihara dan asrama bagi para Biku Budha yang dihadiahkan Maharaja Tejahpurana
Panangkaran yang tertulis pada Prasasti Kalasa. Inilah Candi Sari
Menulusuri
situs peninggalan purbakala berupa candi yang ada di Yogyakarta, tentunya tidak
akan lepas dari candi yang berlatar belakang agama Budha . salah satunya
adalah Candi Sari.
Candi Sari tidak jauh dari
jalan raya yogya-solo pada kilometer 14. Dan disekitaran kilometer 14 itu akan tampak terlihat penunjuk arah
letak Candi Sari berada, jika anda dari arah kota Yogyakarta belok ke kiri kurang
lebih 150 meter dari penunjuk arah tersebut. Nah, anda akan melihat terlebih dahulu stupa Candi
Sari yang menjulang ke atas berdiri di tanah Dusun
Bendan, Desa Tirtomartani
Kalasan, wilayah Kabupaten Sleman , Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Menurut
beberapa ahli Arkeologi, Candi Sari dibangun sezaman
dengan Candi Kalasan sekitar abad ke 8 masehi. Hal ini juga diperkuat
dengan Prasasti Kalasa yang tertulis dengan berhuruf Prenegari berbahasa Sansekerta, bahwa para guru
berhasil membujuk Maharaja Tejahpurana Panangkaran untuk membangun kuil untuk Dewi
Tara dan Vihara dalam kerajaannya. Lalu Maharaja
Tejahpurana menghadiahkan Desa Kalasa untuk para sangha. Kuil Dewi Tara diwujudkan
dengan Candi Kalasan dan Vihara diwujudkan
dengan Candi Sari.
Candi Sari sendiri pada masa itu merupakan sebuah bangunan Vihara dan asrama bagi para biku. Sesuai dengan bentuk atapnya yang mumpunyai delapan stupa candi sari merupakan candi yang dibangun pada masa berkembangnya agama Budha.
Candi Sari sendiri pada masa itu merupakan sebuah bangunan Vihara dan asrama bagi para biku. Sesuai dengan bentuk atapnya yang mumpunyai delapan stupa candi sari merupakan candi yang dibangun pada masa berkembangnya agama Budha.
Candi Sari awalnya ditemukan
dalam keadaan rusak, kemudian pada tahun 1929
dilakukan pemugaran dhingga selesai pada tahun 1930. Dikarenakan batu candi banyak
yang hilang maka Candi Sari tidak sempurna dalam pemugarannya hingga saat ini.
Dengan berdenah empat
persegi panjang berukuran 17,30 meter kali 10 meter dan tinggi 17 meter pada bagian tubuh Candi
Sari mempunyai
konstruksi bertingkat. Hal ini dapat dibuktikan di dalam bilik Candi Sari dibagian
dindingnya masih tampak adanya lubang-lubang untuk meletakkan ujung balok
kayu sebagai pemisah bilik atas dan bilik bawah.
Sementara
itu, Candi Sari sendiri mempunyai tiga bilik yang berjajar berurutan
yang masing-masing dihubungkan dengan lubang pintu antara tembok pemisah. Tiap bilik berukuran
lebar 3 meter dengan panjang 5,80
meter juga disertai jendela yang terletak diatas
maupun di sisi bawah. Pada bilik sisi selatan
dan utara terbagi atas bilik atas dan bawah yang pada dahulu kala bilik atas
dipergunakan sebagai tempat tinggal para Biku dan bilik bawah sebagai ruang
peribadatan atau pemujaan.
Pada
bagian luar dinding candi dikelilingi dengan pahatan arca-arca Bodhisatwa berjumlah
38 yang digambarkan
dalam sikap lemah gemulai atau Tribhangga. Selain itu juga ada pahatan kinara-kinari yang digambarkan sebagai
mahkluk kayangan yang berwujud setengah manusia dan setengah burung.
Yang teristimewa dari pembuatan Vihara Candi Sari ini, material batunya dilapisi bajralepa yang bertujuan untuk memperhalus permukaan dinding candi dan mengawetkan batunya supaya tidak cepat aus termakan usia. Pada saat ini lapisan bajralepa sendiri sudah banyak yang mengelupas.
Yang teristimewa dari pembuatan Vihara Candi Sari ini, material batunya dilapisi bajralepa yang bertujuan untuk memperhalus permukaan dinding candi dan mengawetkan batunya supaya tidak cepat aus termakan usia. Pada saat ini lapisan bajralepa sendiri sudah banyak yang mengelupas.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar