Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Kamis, 23 Januari 2014

Lawang Sewu

Lawang Sewu. Ya, mungkin mendengar kata Lawang Sewu imajinasi anda akan terbawa ke sebuah Bangunan Indies yang mempunyai banyak pintu, atau justru sebaliknya. Anda langsung teringat akan kentalnya nuansa mistik di ruang bawah tanah yang ada di gedung Lawang Sewu, yang konon katanya dijadikan killing field atau tempat pembantaian pada masa penjajahan Jepang dulu. Bila memang dalam benak pikiran anda tertuju pada dua hal tersebut itu wajar karena Lawang Sewu tidak bisa dipisahkan dari arsitektur gedung yang dipenuhi dengan pintu juga cerita-cerita horor sebagai bumbu penyedap bangunan tua buatan Kolonial Belanda yang dulu digunakan sebagai Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta.

Kali ini saya akan membawa anda menelusuri Gedung Lawang Sewu yang berada tepat di jantung kota Semarang di jalan Pemuda persisnya depan Tugu Muda Semarang. Dulunya pembangunan Gedung Lawang Sewu digunakan untuk Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta atau Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). Penyebutan Lawang Sewu bukannya tanpa alasan, bangunan bergaya art deco dengan 2 menara kembarnya memang mempunyai banyak pintu dan penduduk setempat menamainya Lawang Sewu yang berasal dari kata lawang artinya pintu dan sewu artinya jumlah seribu. Namun Lawang Sewu bukannya memiliki jumlah pintu seribu, melainkan untuk menggambarkan jumlah pintu di Lawang Sewu yang teramat banyak meskipun kenyataannya jumlah daun pintu yang ada pada Bangunan Indies ini berkisar 600 an. Meski usia bangunan sudah 1 abad lebih namun masih terlihat kuat, kokoh dan megah. Hiasan kaca patri dan lantai marmer menambah kesan mewah dan elegan gedung yang menjadi landmark nya kota Semarang. Mungkin pada zamannya dulu gedung Lawang Sewu bisa dianggap gedung yang modern karena sudah menggunakan teknologi pendingin. Pada zaman pemerintahan Belanda dulu ruang bawah tanah dialiri air dari air hujan yang fungsinya sebagai pendingin ruangan yang berada di lantai satu, dua dan tiga. Tidak hanya itu saja sistim sanitasi air pada gedung ex markas maskapai perkerata apian Indonesia ini sudah dibuat sangat modern dengan bukti bisu sebuah mesin pompa kuno yang berada di bagian depan Lawang Sewu. Namun ketika Jepang menjajah negeri ini ruang bawah tanah berganti fungsi menjadi penjara dan tempat pembantaian para tahanan.




Gedung Lawang Sewu ini menjadi saksi perjuangan dari masa ke masa. Disinilah pertama kali kantor terbesar perusahaan perkerata apian Indonesia di jawa meskipun pada waktu itu masih dibawah komando Hindia-Belanda. Lalu ketika Jepang masuk ke kota Semarang fungsi gedung ini merubah menjadi markas Kempetai dan Kidobutai Jepang. Dan puncaknya pada pertempuran 5 hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) gedung ini menjadi saksi bisu keberanian pemuda angkatan kereta api bertempur melawan serdadu-serdadu Dai Nippon. Lawang Sewu menjadi ladang penyiksaan dan pembantaian ( killing field ) pemuda-pemuda kereta api ditangkap oleh Jepang dan disiksa hingga mati di dalam gedung Lawang Sewu tersebut. Yang konon korbannya mencapai ribuan. Dilantai bawah tanah terdapat penjara jongkok yang dahulu digunakan untuk memenjarakan para pemuda kereta api yang tertangkap sebelum dibunuh. Dan mayatnya dibuang di sungai kecil disamping bangunan Lawang Sewu. Sungguh sebuah bentuk kebiadaban tentara Jepang yang memperlakukan para tahanan dengan tidak manusiawi. Mereka hanya bisa berjongkok. Sedangkan penjara jongkok itu dulunya adalah tempat untuk pengaturan air agar tidak banjir saat Belanda membangun Lawang Sewu. Tidak hanya penjara jongkok saja akan tetapi Jepang juga membuatkan penjara berdiri yang berukuran panjang dan lebar 50 cm dengan tinggi 2 meter yang diisi oleh 5 hingga 6 tahanan yang semuanya hanya bisa berdidri dalam waktu yang tidak ditentukan. 


 
Membayangkan saja kiranya kita tidak berani, betapa kejamnya penyiksaan yang dilakukan Jepang terhadap pejuang-pejuang kita dulu. Setelah Indonesia merdeka, bangunan Lawang Sewu digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI). Selain itu Gedung Lawang Sewu juga pernah dipakai Kantor Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Kementrian Perhubungan Jawa Tengah. Dan sejak tahun 1992 Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota No. 650/50/1992 telah menetapkan Lawang Sewu sebagai salah satu bangunan yang wajib dilindungi sebagai bangunan bersejarah.

Disalah satu ruang pamer yang ada di gedung lawang sewu di perlihatkan alat pemindah jalur kereta api ( rel ) dizamannya dan juga closed kamar mandi buatan Belanda yang masih utuh terbuat dari porselin. Gambar Sketsa bangunan ketika Lawang Sewu dibangun pun juga di perlihatkan di salah satu dinding gedung lawang sewu.

Dan perlu diingat juga jika anda berkunjung ke lawang sewu anda diwajibkan ditemani oleh seorang pemandu, hal ini sangat penting ketika ingin melihat ruang bawah tanah. Untuk melihat ruang bawah tanah sendiri anda harus menyewa sepatu boot dengan tarif Rp 10.000,- perpasang dan center penerang. Karena di dalam ruang bawah tanah akan ada genangan air setinggi mata kaki orang dewasa. Dikarenakan ruang bawah tanah yang lembab dan gelap maka jangan sekali-kali untuk terrpisah dari rombongan, dalam ruang bawah tanah anda akan merasakan betapa kentalnya aroma mistik yang dapat membangkitkan bulu kuduk.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar