Sebagai pecinta kopi tentunya sudah tak terhitung bagi saya untuk mencoba cita rasa seduhan kopi di berbagai kedai kopi yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta, Mulai dari Kopi Menoreh di Pegunungan Menoreh Kulon Progo bahkan hingga Kopi Merapi di bawah kaki Gunung Merapi yang tersohor sebagai laboratorium alam itu. Aku termasuk pecinta kopi hitam, baik kopi pahit maupun kopi pahit yang sedikit manis. Mulai dari penyededuhan kopi tubruk, metode V-Sixty hingga menggunakan alat modern.
Entah apa yang membuat ku dan istri
untuk memutuskan ingin mencicipi seduhan kopi dari wilayah tetangga kami,
tepatnya di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sempat istriku pun bertanya,
“ Mau ngopi aja harus ke Klaten, di
Jogja kan banyak kedai kopi mas..? “
“ Aku pengen cari sasana baru dek..”
jawab ku.
Kedai kopi yang akan kami tuju ini
referensi dari teman ku Si Agung Mlentung, dia merupakan salah satu Fotografer Klaten.
Ketertarikan ku untuk ngopi di kedai kopi kota Klaten ini, lantaran teman ku Si
Agung Mlentung pernah memposting foto dimana sebuah kedai kopi dengan mesin
roasting yang besar dan suassanya vintage sekali.
Kedai kopi yang kami maksud bernama Kedai
Kopi Nggone Mbahmu, atau dalam Bahasa Indonesia atrinya miliknya nenek/ kakek
mu. Namun dalam keseharian orang Jawa, kalimat Nggone Mbahmu bisa diartikan
sebuah umpatan halus, “nggone mbahmu..!!!”
Kedai kopi yang berlokasi di tengah kota Klaten dengan menempati rumah tua bergaya indies, tepatnya di jalan Bayangkara No.93 Klaten. Pasangan suami-sitri, Purnama Sidi dan Warih Irwanti yang rela melayani pelangganya untuk meroasting maupun menyeduh berbagai jenis bubuk kopi dari belahan nusantara.
Purnama dan warih
yang biasa disapa simbah ini sebenarnya pelaku usaha sembako berskala besar di
kota Klaten, bahkan Mbah Purnama merupakan generasi ke tiga yang mewarisi tongkat
estafet usaha dari kakeknya.
Awal perkenalan
kami dengan pemilik rumah roasting kopi Nggone Mbahmu pada kamis siang di bulan
November yang saat itu mendung tebal menyelimuti kota Klaten. Dari Jogja saya
dan istri menggeber kendaraan roda dua kami untuk segera cepat sampai di kedai
kopi milik Mbah Purnama agar tidak kehujanan di jalan.
Bener saja,
setibanya kami di halaman rumah Roasting kopi Nggone Mbahmu hujan mulai turun.
Mulai dari rintik-rintik syahdu, sedikit deras, tambah deras, hujan lebat,
lebat campur angin hingga hujan petir.
Setelah
memarkirkan motor, saya dan istri pun berjalan menuju bangunan sayap kiri dari
rumah induk yang bergaya indies milik Mbah Pur. Bangunan sayap kiri yang
dijadikan rumah roasting kopi dibentuk layaknya pavilion dimana kesan klasiknya
tak hilang.
Begitu masuk, yang
terlihat di depan mata kami berjajar-jajar toples besar transparan berisi bijih
kopi dari berbagai daerah yang tertata rapi. Sebuah meja dengan ruang yang tak
terlalu lebar diperuntukan untuk sang barista menyeduh kopi pesanan tamu,
berdekatan dengan ruangan untuk meroasting kopi. Di ruang rosting ini, terdapat
mesin roasting modern yang berukuran
besar.
Dengan mesin
inilah Mbah Purnama belajar menyangrai bijih kopi secara otodidak yang hanya
dipandu oleh video youtube.
Yang menarik bagi
saya dan istri ngopi di Kopi Nggone Mbamu ini, hampir satu jam lebih kami
bercakap-cakap dengan Mbah Pur ditemani rintik hujan. Sudah selayaknya Kami
berterimakasih pada Tuhan diguyur hujan yang deras pada Kamis siang itu,
sehingga saya dan istri diperkenankan masuk ke Ruang Roasting untuk berteduh
sembari menikmati kudapan dan kopi hangat.
Untuk diketahui jika kalian ingin ngopi di Kedai Kopi Nggone Mbahmu maka para tamu akan ditempatkan di outdoor atau di luar, yaitu di teras maupun di selasar rumah induk yang bergaya indies itu. Karena hujan yang lebat, maka saya dan istri pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruang roasting yang sekaligus tempat barista melayani pesanan kopi. Di ruangan inilah, percakapan penuh makna kami dengan Owner Kopi Nggone Mbahmu.
Mbah Pur atau
purnama ( dibaca : Purnomo ) awalnya menanyakan ke kami kok bisa tau tempat Kedai
Kopi Nggone Mbahmu. Percakapan kami pun berlanjut hingga Mbah Pur dengan tanpa
sungkan menceritakan bagaimana awalnya dia diceburkan istrinya untuk memulai
usaha kedai kopi. Mbah Pur bukanlah orang lama yang berkecimpung di dunia Roaster
Kopi. Dia mengaku baru belajar kopi di tahun 2017 dan membuka kedai kopinya di
tahun yang sama yaitu 21 Juni 2017.
Percakapan kami
yang lebih dari 60 menit sembari ngopi dan ditemani rintik hujan yang mengguyur
kota Klaten kamis sore itu, saya merasa sangat dihargai oleh Mbah Pur. Entah ini
kah strategi marketing yang dilakukan oleh Mbah Pur sebagai keturunan darah
Tionghoa atau memang beliau senang ngobrol. Mulai dari topik tentang rasa yang
tidak bisa disamaratakan hingga belajar bagaiman kita untuk fokus berusaha.
Yang kesimpulan dari
percakapan kami ini, seorang pengusaha sukses keturunan Tionghoa baru kali ini
saya ketemu tidak pelit akan ilmu. Maaf, biasanya Bisnis Man and Bisnis Woman
keturunan dari Negeri Tirai Bambu sangat tertutup, apalagi hingga mau bagi-bagi
tips and trik dalam berbisnis.
Jadi jika sahabat
ingin ngopi di tempatnya mbah pur, carilah waktu ketika pasangan pengusaha suami-istri
ini sedang tidak banyak tamu. Pasti penikmat kopi akan didongengin tentang riwayat hidupnya mbah pur dari dia manjadi
mahasiswa yang rela meng-DO kan diri hingga saat ini menjadi pemegang tongkat
estafet usaha keluarga besarnya pada generasi ke tiga. Jangan malu bertanya
jika sudah ketemu beliaunya, tanyalah sebanyak mungkin tentang kopi, bisnis dan
menjadi pebisnis ulung.
Ada kesan mendalam bagi kami terutama istri saya. Sempat dia berkata, “ baru kali ini mas, aku ketemu pengusaha keturunan tionghoa yang welcome bangets sama kita orang pribumi”.
So, nunggu apa
lagi kalau kalian maniak kopi segeralah cobain hangatnya sambuatan mbah purnama,
sehangat kopi seduhannya. Eh iya, Kopi Nggone Mbahmu hanya buka di hari
senin-jum’at dan bukanya hanya pukul 13:00-18:00 WIB.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar