Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Senin, 01 November 2021

Museum Dr. Yap, saksi bisu pengabdian dokter Tionghoa untuk Indonesia

Banyak andil kiprah pengabdian warga keturunan Tionghoa untuk Indonesia dimasa lalu. Di dunia kedokteran mata dikenal tokoh Yap Hong Tjoen. Kiprahnya sebagai pendiri sumah sakit mata tertua di indonesia diabadikan dalam sebuah museum bernama, Musem Dokter Yap di Yogyakarta.

Masuk ke ruang museum Dokter Yap seakan ingatan kita dibawa ke masa lalu, dimana teknologi peralatan kesehatan belum semodern saat ini. Namun siapa sangka, benda-benda yang dipamerkan merupakan peralatan kedokteran mata paling canggih di zamannya, yaitu di tahun 1923 hingga 1969.

Inilah museum Dokter Yap yang berada dalam kompleks Rumah Sakit Mata Dokter Yap Yogyakarta. Rumah Sakit Mata Dokter Yap sendiri merupakan rumah sakit khusus mata tertua di indonesia, didirikan oleh dokter keturunan tionghoa Yap Hong Tjoen dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke 8 di tahun 1923.

Museum Dokter Yap digagas untuk menyelamatkan peralatan kedokteran mata yang kala itu digunakan pendiri rumah sakit mata dokter yap dan penerusnya, yaitu Yap Hong Tjoen dan Yap Kie Tiong yang hanya tersimpan di gudang. Dengan menempati gedung berarsitektur indies di sisi utara rumah sakit, Museum Dokter Yap tahun 1997 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono Sepuluh.

Museum Dokter Yap memiliki 900-an koleksi yang terdiri dari alat-alat kedokteran mata, perkakas rumah tangga, berbagai buku ilmu kedokteran dan desertasi dokter Yap Hong Tjoen dan anaknya Yap Kie Tiong saat menimba ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Berbagai macam peralatan kedokteran mata koleksi museum ini ada yang dibuat di tahun 1800-an dan didatangkan langsung dari Belanda dan Jerman.

Keberadaan Museum Dokter Yap saat ini selain dikunjungi oleh keluarga pasien yang  sedang rawat inap juga dijadikan sebagai museum edukasi bagi para pelajar dan studi banding untuk mahasiswa kedokteran tingkat akhir.

Senin, 21 Juni 2021

PERANGKAP HAMA PADI DENGAN UMPAN KEPITING DAN KEONG SAWAH

Untuk mengurangi hama padi tidak selamanya harus menggunakan insektisida kimia. Para pendahulu sebenarnya telah menerapkan cara yang ramah lingkungan dalam menanggulangi hama tanaman padi, yang saat ini perlu dimunculkan kembali. Perangkap hama padi itu dengan umpan kepiting atau keong sawah.

Untuk membuat perangkap ini, sederhana dan murah. cukup menggunakan botol bekas minuman air mineral yang atasnya diberi umpan kepiting dan pada dasar botol diberi cairan yang mengandung racun, bisa juga menggunakan cairan detergen. Cara kerja perangkap, kepiting atau keong yang dijadikan umpan dibiarkan membusuk. Bau busuk yang menyengat akan mengundang hama padi seperti walang sangit ataupun serangga lainnya untuk masuk ke dalam botol.

setelah serangga masuk ke dalam botol, karena menghampiri aroma busuk dari kepiting, maka serangga akan haus dan meminum cairan beracun yang ada di dasar botol. Secara perlahan-lahan serangga ataupun walang sangit akan mati.

Perangkap dengan umpan kepiting ini sangat efektif untuk mengurangi serangga hama padi. Setiap sepekan sekali umpan dan cairan beracun harus diganti. untuk lahan seluas seribu meter persegi diberi 10 perangkap dengan posisi pemasangan zig-zag.





Rabu, 03 Maret 2021

Yang asli hanya ada 2 di dunia. ( Wacinwa , wayang kulit akulturasi budaya Cina-Jawa )

Terinspirasi dari wayang kulit purwa, Gan Thwan Sing seorang keturunan Cina yang sudah lama menetap di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah menciptakan Wacinwa  atau Wayang Kulit Cina-Jawa di tahun 1925. Wayang kulit perpaduan akultursi Budaya Cina-Jawa ini, kini menjadi masterpiece dunia yang hanya bisa ditemui di Musem Sonobudoyo Yogyakarta dan di Universitas Yale Amerika.

Terlahir di tahun 1885 dengan nama Gan Thwan Sing, seorang keturunan Cina yang menetap lama di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Kecintaannya dengan budaya Jawa, membawa Gan Thwan Sing berkarya membuat wayang kulit Cina-Jawa atau Wacinwa . Wacinwa lahir dari terinspirasi wayang kulit jawa yang sudah ada sejak dahulu.

Wacinwa  merupakan sebuah maha karya hasil dari akulturasi budaya cina dan jawa yang dibuat Gan Thwan Sing tahun 1925. Di dunia, Wacinwa  merupakan sebuah masterpiece lantaran hanya dimiliki oleh dua lembaga saja yaitu, koleksi Museum Sonobuoyo Yogyakarta dan Universitas Yale Di Amerika. Museum Sonobudoyo Yogyakarta sendiri mempunyai 167 wayang Wacinwa yang bergaya cina klasik dan diprediksi usianya lebih tua dibanding yang dimiliki oleh Universitas Yale.

Dalam wayang cina-jawa ini, ketika dimainkan berdasarkan pakeliran jawa, artinya ada dalang, properti kelir dan juga gamelan yang mengiringinya. Dalam satu set wayang Wacinwa terdiri dari tokoh wayang dewa, prajurit, perwira, jenderal, panglima, bhiksu, pendeta, rakyat biasa para abdi, raja dan juga menterinya. Selain itu, ada juga properti wayang berbentuk kapal, kuda ataupun binatang dalam legenda cina seperti naga, liong dan barongsai.

Sementar itu koleksi wayang Wacinwa yang dimiliki oleh universitas yale di Amerika lebih banyak, sejumlah 345 yang bercorak jawanya lebbih kental. Bahkan ada tokoh seperti punakawan ataupun limbuk-cangik.

Museum Sonobudoyo mendapatkan koleksi wayang Wacinwa  dalam kurun waktu tahun 1933 hingga 1934, kala itu masih bernama Java Institut. Java Institut mendapatkan koleksi Wacinwa  dibeli dari Liem Kie Tjwan, seorang Kapiten Cina di Yogyakarta pada pertengahan abad ke-19.

koleksi Wacinwa  yang ada di museum sonobudoyo yogyakarta mementaskan kisah penyerbuah Sie Jin Kwi Ceng Tang ke timur. Sementar  itu, koleksi Wacinwa  yang berada di Universitas Yale sejumlah 345 wayang melakonkan kisah penyerbuan Sie Jin Kwi Ceng See ke barat.

Kisah Sie Jin Kwi Ceng Tang menceritakan tokoh utama Sie Jin Kwi dari sejak ia lahir hingga pengembaraanya sampai kisah Sie Jin Kwi menjadi prajurit di kerajaan tong hingga menapaki karier manjadi jenderal yang mahir menguasai 18 jenis senjata hingga akhirnya menjadi seorang raja.

 













 

 

Senin, 08 Februari 2021

Nggone Mbahmu, tak sekedar kedai untuk Ngopi

 

kedai kopi nggone mbahmu
Sebagai pecinta kopi tentunya sudah tak terhitung bagi saya untuk mencoba cita rasa seduhan kopi di berbagai kedai kopi yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta, Mulai dari Kopi Menoreh di Pegunungan Menoreh Kulon Progo bahkan hingga Kopi Merapi di bawah kaki Gunung Merapi yang tersohor sebagai laboratorium alam itu. Aku termasuk pecinta kopi hitam, baik kopi pahit maupun kopi pahit yang sedikit manis. Mulai dari penyededuhan kopi tubruk,  metode V-Sixty hingga menggunakan alat modern.

Entah apa yang membuat ku dan istri untuk memutuskan ingin mencicipi seduhan kopi dari wilayah tetangga kami, tepatnya di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sempat istriku pun bertanya,

“ Mau ngopi aja harus ke Klaten, di Jogja kan banyak kedai kopi mas..? “

“ Aku pengen cari sasana baru dek..” jawab ku.

Kedai kopi yang akan kami tuju ini referensi dari teman ku Si Agung Mlentung, dia merupakan salah satu Fotografer Klaten. Ketertarikan ku untuk ngopi di kedai kopi kota Klaten ini, lantaran teman ku Si Agung Mlentung pernah memposting foto dimana sebuah kedai kopi dengan mesin roasting yang besar dan suassanya vintage sekali.

Kedai kopi yang kami maksud bernama Kedai Kopi Nggone Mbahmu, atau dalam Bahasa Indonesia atrinya miliknya nenek/ kakek mu. Namun dalam keseharian orang Jawa, kalimat Nggone Mbahmu bisa diartikan sebuah umpatan halus, “nggone mbahmu..!!!”

Kedai kopi yang berlokasi di tengah kota Klaten dengan menempati rumah tua bergaya indies, tepatnya di jalan Bayangkara No.93 Klaten. Pasangan suami-sitri, Purnama Sidi dan Warih Irwanti yang rela melayani pelangganya untuk meroasting maupun menyeduh berbagai jenis bubuk kopi dari belahan nusantara.

Purnama dan warih yang biasa disapa simbah ini sebenarnya pelaku usaha sembako berskala besar di kota Klaten, bahkan Mbah Purnama merupakan generasi ke tiga yang mewarisi tongkat estafet usaha dari kakeknya.

Awal perkenalan kami dengan pemilik rumah roasting kopi Nggone Mbahmu pada kamis siang di bulan November yang saat itu mendung tebal menyelimuti kota Klaten. Dari Jogja saya dan istri menggeber kendaraan roda dua kami untuk segera cepat sampai di kedai kopi milik Mbah Purnama agar tidak kehujanan di jalan.

Bener saja, setibanya kami di halaman rumah Roasting kopi Nggone Mbahmu hujan mulai turun. Mulai dari rintik-rintik syahdu, sedikit deras, tambah deras, hujan lebat, lebat campur angin hingga hujan petir.

Setelah memarkirkan motor, saya dan istri pun berjalan menuju bangunan sayap kiri dari rumah induk yang bergaya indies milik Mbah Pur. Bangunan sayap kiri yang dijadikan rumah roasting kopi dibentuk layaknya pavilion dimana kesan klasiknya tak hilang.

Begitu masuk, yang terlihat di depan mata kami berjajar-jajar toples besar transparan berisi bijih kopi dari berbagai daerah yang tertata rapi. Sebuah meja dengan ruang yang tak terlalu lebar diperuntukan untuk sang barista menyeduh kopi pesanan tamu, berdekatan dengan ruangan untuk meroasting kopi. Di ruang rosting ini, terdapat mesin roasting modern yang  berukuran besar.

Dengan mesin inilah Mbah Purnama belajar menyangrai bijih kopi secara otodidak yang hanya dipandu oleh video youtube.

Yang menarik bagi saya dan istri ngopi di Kopi Nggone Mbamu ini, hampir satu jam lebih kami bercakap-cakap dengan Mbah Pur ditemani rintik hujan. Sudah selayaknya Kami berterimakasih pada Tuhan diguyur hujan yang deras pada Kamis siang itu, sehingga saya dan istri diperkenankan masuk ke Ruang Roasting untuk berteduh sembari menikmati kudapan dan kopi hangat.

Untuk diketahui jika kalian ingin ngopi di Kedai Kopi Nggone Mbahmu maka para tamu akan ditempatkan di outdoor atau di luar, yaitu di teras maupun di selasar rumah induk yang bergaya indies itu. Karena hujan yang lebat, maka saya dan istri pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruang roasting yang sekaligus tempat barista melayani pesanan kopi. Di ruangan inilah, percakapan penuh makna kami dengan Owner Kopi Nggone Mbahmu.

Mbah Pur atau purnama ( dibaca : Purnomo ) awalnya menanyakan ke kami kok bisa tau tempat Kedai Kopi Nggone Mbahmu. Percakapan kami pun berlanjut hingga Mbah Pur dengan tanpa sungkan menceritakan bagaimana awalnya dia diceburkan istrinya untuk memulai usaha kedai kopi. Mbah Pur bukanlah orang lama yang berkecimpung di dunia Roaster Kopi. Dia mengaku baru belajar kopi di tahun 2017 dan membuka kedai kopinya di tahun yang sama yaitu  21 Juni 2017.

Percakapan kami yang lebih dari 60 menit sembari ngopi dan ditemani rintik hujan yang mengguyur kota Klaten kamis sore itu, saya merasa sangat dihargai oleh Mbah Pur. Entah ini kah strategi marketing yang dilakukan oleh Mbah Pur sebagai keturunan darah Tionghoa atau memang beliau senang ngobrol. Mulai dari topik tentang rasa yang tidak bisa disamaratakan hingga belajar bagaiman kita untuk fokus berusaha.

Yang kesimpulan dari percakapan kami ini, seorang pengusaha sukses keturunan Tionghoa baru kali ini saya ketemu tidak pelit akan ilmu. Maaf, biasanya Bisnis Man and Bisnis Woman keturunan dari Negeri Tirai Bambu sangat tertutup, apalagi hingga mau bagi-bagi tips and trik dalam berbisnis.

Jadi jika sahabat ingin ngopi di tempatnya mbah pur, carilah waktu ketika pasangan pengusaha suami-istri ini sedang tidak banyak tamu. Pasti penikmat kopi akan didongengin tentang riwayat hidupnya mbah pur dari dia manjadi mahasiswa yang rela meng-DO kan diri hingga saat ini menjadi pemegang tongkat estafet usaha keluarga besarnya pada generasi ke tiga. Jangan malu bertanya jika sudah ketemu beliaunya, tanyalah sebanyak mungkin tentang kopi, bisnis dan menjadi pebisnis ulung.

Ada kesan mendalam bagi kami terutama istri saya. Sempat dia berkata, “ baru kali ini mas, aku ketemu pengusaha keturunan tionghoa yang welcome bangets sama kita orang pribumi”.

So, nunggu apa lagi kalau kalian maniak kopi segeralah cobain hangatnya sambuatan mbah purnama, sehangat kopi seduhannya. Eh iya, Kopi Nggone Mbahmu hanya buka di hari senin-jum’at dan bukanya hanya pukul 13:00-18:00 WIB.