Wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat
tempat patilasan Raja Majapahit Brawijaya ke lima, sebagai tempat menghabiskan
masa tuanya. oleh pemerintah desa setempat kini patilasan itu, dikembangkan
menjadi ekowisata sejarah dan religi untuk meningkatkan perekonomian warga
sekitar.
Wilayah indonesia mempunyai
banyak tempat yang menjadi bukti akan keberadaan kerajaan di nusantara yang
pernah mengalami masa keemasan. salah satunya adalah di wilayah perbukitan atau
biasa disebut gunung gentong yang berada di padukuhan manggung, Desa Ngalang,
Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penduduk setempat meyakini
gunung gentong pernah menjadi petilasan atau peristirahatan Prabu Brawijaya ke
5 Raja Majapahit, yang juga ayahanda dari penguasa kerajaan demak Raden Fatah. Setelah
runtuhnya Majapahit, Brawijaya ke 5 meninggalkan kerajaannya untuk lebih
memilih menjadi pertapa dan perbukitan gunung gentong lah, dipilih Brawijaya untuk
melaksanakan hajadnya.
Di lereng gunung gentong, dibalik
bebatuan yang letaknya sukar dijangkau, terdapat sisa periuk atau biasa disebut
padasan. Untuk menuju tempat periuk itu berada, harus merangkak melalui
dinding-dinding tebing yang dibawahnya merupakan jurang. Bagi pengunjung yang
akan melihat sisa padasan brawijaya itu, harus punya nyali besar. Pasalnya, akan
berjalan disisi tebing batu dan hanya berpegangan pada besi baja yang telah
dipasang sebagai pembantu.
Padasan biasanya bagi masyarakat jawa digunakan sebagai tampungan air untuk bersuci atau berwudu. padasan itu konon kiriman dari Raden Fatah putra Brawijaya ke 5, sebagai pesan yang benyimbolkan agar ayahnya sudi memeluk agama islam.
kini pemerintah desa ngalang terus melakukan
pengembangan Gunung Gentong sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan
religi yang ada di Kabupaten Gunungkidul.
Selain dijadikan wisata sejarah
dan religi, di gunung gentong setiap tahunnya masyarakat padukuhan manggung
melakukan upacara adat istiadat Nyadran menjelang menghadapi
bulan Ramadhan. Tradisi
ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap hasil bumi yang
sudah diberikan. Selain itu, juga untuk melestarikan budaya leluhur yang sudah ada sejak dahulu kala.
by boimprasetyo
( memerdekakan kreativitas jauh di luar ambang batas )








Tidak ada komentar:
Posting Komentar