Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Jumat, 14 Desember 2018

Kopi bumbung, sensasi menikmat kopi dari termos bambu


Saat ini kopi adalah minuman yang banyak diburu orang muda. Maka tak heran jika kedai kopi sangat mudah ditemui hampir di setiap daerah di nusantara. Tak terkecuali di yogyakarta, ada kedai kopi yang penyajiannya dengan menggunakan termos menggunakan jenis bambu ampel, dengan disebut kopi bumbung.


Berbagai macam cara orang menyajikan kopi, dari kopi dibalik hingga kopi diberi bara panas atau yang biasa disebut kopi jos. Adalah warung kopi bumbung yang berada di Lembah Goron, Dusun Mranggen, Desa Margodadi,  Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyajikan kopi dengan dikemas dalam sebatang bambu. Kopi ini dinamakan kopi bumbung dengan menggunakan jenis bambu ampel sebagai termosnya agar kopi tetap hangat ketika akan dinikmati.

Jika biasanya kopi diseduh kemudian langsung dituangkan dalam cangkir, maka kopi bumbung sesuai namanya, kopi yang siap saji dituangkan ke bumbung yang terbuat dari bamboo. Meskipun dalam wadah bambu namun aroma kopi dan rasanya tidak hilang. Pekatnya kopi hitam hasil olahan baristanya semakin menggugah selera untuk menikmatinya hingga tegukan terakhir.


Menikmati kopi bumbung disini akan lebih terasa dengan suasana pedesaan yang masih kental. Lokasi Kopi Bumbung yang berada di tengah-tengah permukiman masyarakat pedesaan, menambah kenikmatan tersendiri dengan sapaan masyarakatnya yang ramah. Selain menawarkan kopi dalam wadah termos terbuat dari bambu, warung kopi bumbung juga menyajikan berbagai minuman dan masakan pedesaan saperti Sayur Brongkos, Wedang Ronde dan berbagai sayur lodeh.


Untuk satu termos kopi bumbung yang bisa dinikmati dalam 3 cangkir ini, dibandrol 15 ribu rupiah. Sementara untuk kopinya didatangkan dari jember, jawa timur dengan jenis kopi robusta. Cita rasa kopi jenis robusta dengan bambu yang digunakan sudah menyatu, sehingga dijadikan andalan warung Kopi Bumbung yang berdiri sejak awal januari 2018 lalu.






Sabtu, 08 Desember 2018

KEPUH SARI, DESA PEMBUAT WAYANG GAYA JAWA TENGAH



Wayang.. sebuah maha karya warisan budaya indonesia yang saat ini masih terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat, khususnya di tanah jawa. Salah satu jenis wayang yaitu, wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau ataupun sapi. Mulai tahun november 2003 wayang resmi diakui unesco menjadi warisan budaya dunia asli Indonesia.

Diwilayah Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Wonogiri terdapat sebuah desa dimana masyarakatnya masih menjaga dan melestarikan wayang kulit. Kepuhsari, desa yang berada di kecamatan Manyaran ini, selain dianugerahi tanah yang subur, juga diberikan talenta masyarakatnya pandai membuat kerajinan wayang. Di desa inilah pembuatan wayang dari hulu hingga hilir dapat ditemui. Dari pengolahan kulit kerbau untuk dijadikan bahan utama wayang, hingga penatahan dan pewarnaaan wayang yang telah jadi, yang biasanya disebut seni tatah sungging.

Sosok seorang Guno Wasito yang pertama membuat wayang kulit di desa kepuhsari pada tahun 1850. Seiring bergulirnya waktu, Mbah Guno mencoba untuk mengajarkan membuat wayang pada masyarakat kepuhsari, yang hingga saat ini, kepuhsari menjadi desa wisata sentra pembuatan wayang kulit gaya Surakarta.

Untuk membuat satu tokoh wayang memerlukan tahapan proses yang tidak mudah. Bahkan tokoh wayang dengan ukuran besar bisa memakan waktu 1 bulan lamanya. Dalam pembuatan wayang kulit harus melalui beberapa tahapan yang memerlukan ketrampilan mumpuni. Di Desa Kepuhsari sendiri, bisa ditemui orang-orang yang mumpuni dalam hal proses pembuatan wayang kulit tersebut sesuai dengan keahliannya.

Satino, warga kepuhsari yang masih setia menggeluti mengerok kulit kerbau untuk dijadikan bahan utama pembuatan wayang kulit. Cara yang digunakan mbah Satino cukup tradisional, dimana kulit kerbau akan dijemur dengan dipenteng terlebih dahulu sebelum dibersihkan bulunya. Setelah itu direndam dengan air selama semalam,  lalu dilakukan proses penjemuran lagi berulang-ulang hingga kulit dirasa bisa digunakan untuk tahap selanjutnya.





Lain Satino lain pula dengan Sarso. Dirinya menggunakan proses modern untuk membersihkan bulu dari kulit/ dengan cara dicukur menggunakan grinda.  


Namun pada masa pendahulu pembuat wayang di Desa Kepuhsari, kulit yang akan digunakan untuk membuat wayang akan dilakukan tarang. Tarang adalah proses pengasapan kulit, dimana kulit diletakkah diatas tungku yang biasa untuk masak dan proses ini bisa memakan waktu hinga lebih dari 2 tahun. Prose  tarang ini untuk menghasilkan kwalitas kulit yang baik dan tahan lama, serta tidak mudah koyak saat digerakkan. 



Setelah kulit kerbau atau sapi telah bersih dari bulu, maka proses selanjutnya menggambar tokoh wayang di media kulit tersebut untuk nantinya ditatah. Wasono, salah satu penatah wayang mumpuni yang dimiliki oleh Desa Kepuhsari. Sudah ratusan wayang kulit yang ia selesaikan untuk para dalang kondang Surakarta maupun Jawa Tengah.
Tahap awal dalam penatahan wayang, wasono akan memilih kulit yang bagus dengan teksture bening untuk dijadikan tokoh wayang yang akan dibuatnya.

Setelah itu, kulit akan digambar tokoh wayang kemudian tahap selanjutnya dilakukan penatahan. Proses penatahan inilah yang bisa dikatakan tahapan paling utama dalam proses pembuatan wayang kulit, dimana diperlukan kesabaran, ketekunan, keteltian, bahkan laku prihatin jika menginginkan hasil yang bagus. Berbagai macam ukuran tatah sesuai fungsinya akan digunakan Wasono untuk membentuk kulit menjadi sosok tokoh wayang dengan karakternya.

Langkah selanjutnya setelah terbentuk tokoh wayang maka akan dilakukan pewarnaan atau biasa disebut sungging, sesuai dengan karakter tokoh wayang. Untuk proses pewarnaan wayang memerlukan beberapa tahapan. Sebelum pewarnaan dasar, wayang diamplas terlebih dahulu untuk menghilangkan serabut, setelah itu diberikan warna dasar putih lalu warna kuning emas atau biasa disebut prodo grenjeng. Setelah pewarnaan dengan prodo grenjeng, pewarnaan 


Sebuah wayang tentunya belum bisa dimainkan oleh sang dalang jika belum lengkap dengan cempuritnya, yaitu gapit wayang yang terbuat dari tanduk kerbau. Pembuatan cempurit ini dilakukan manual dengan cara membelah tanduk kerbau menjadi 2 bagian lalu dikikir sedemikian rupa hingga terbentuk gapit yang panjangnya1 hingga 1 koma 5 meter. Di desa Kepuhsari salah satu warga yang masih setia menggeluti pembuatan cempurit ialah bapak Marso, Sukowiyono Dan Bagas.


Butuh kesabaran dan ketukunan dalam pembuatan cempurit. Tanduk kerbau yang didatangkan dari sulawesi oleh tangan-tangan trampil ini akan dibentuk menjadi lurus, lentur dan mengkilap sehingga menambah elok ketika digunakan untuk menggapit wayang.



Proses pembuatan wayang dikatan selesai jika cempurit telah menyatu dengan wayang sehingga bisa dimainkan. Dalam proses pemasangan cempurit ke badan wayang pun sekali lagi diperlukan sentuhan kesabaran. Cempurit yang terbuat dari tanduk kerbau, perlu dipanasi dengan lentera agar mudah dibengkokkan sesuai dengan bentuk yang diinginkan. setelah cempurit dirasa pas dengan ukuran tokoh wayang, lalu cempurit diikat dengan benang agar dapat menyatu dengan wayang.

Tidak hanya mahir membuat wayang kulit, masyarakat Desa Kepuhsari pun piawai dalam olah seni tradisonal khususnya karawitan, waranggana dan seni pedalangan. Sosok Wulan Sri Panjang Mas seorang dalang perempuan yang dimiliki desa kepuhsari, menjadi pionir untuk melestarikan seni pedalangan kampung pembuat wayang kulit ini. Seminggu sekali dirinya mengajarkan bagaimana cara mendalang, kepada warga yang berminat mendalami seni pedalangan. 




Wayang kulit sebuah kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat jawa. Lebih dari sekadar pertunjukan, wayang kulit  bagi masyarakat jawa tempo dulu digunakan sebagai media untuk perenungan menuju roh spiritual para dewa. Saat ini pertunjukkan wayang kulit sebagai media menyampaikan pesan politik dan nasehat.




Jumat, 07 Desember 2018

MENELUSURI JEJAK PETILASAN BRAWIJAYA V DI GUNUNG GENTONG



Wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat tempat patilasan Raja Majapahit Brawijaya ke lima, sebagai tempat menghabiskan masa tuanya. oleh pemerintah desa setempat kini patilasan itu, dikembangkan menjadi ekowisata sejarah dan religi untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar.
Wilayah indonesia mempunyai banyak tempat yang menjadi bukti akan keberadaan kerajaan di nusantara yang pernah mengalami masa keemasan. salah satunya adalah di wilayah perbukitan atau biasa disebut gunung gentong yang berada di padukuhan manggung, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penduduk setempat meyakini gunung gentong pernah menjadi petilasan atau peristirahatan Prabu Brawijaya ke 5 Raja Majapahit, yang juga ayahanda dari penguasa kerajaan demak Raden Fatah. Setelah runtuhnya Majapahit, Brawijaya ke 5 meninggalkan kerajaannya untuk lebih memilih menjadi pertapa dan perbukitan gunung gentong lah, dipilih Brawijaya untuk melaksanakan hajadnya.

Di lereng gunung gentong, dibalik bebatuan yang letaknya sukar dijangkau, terdapat sisa periuk atau biasa disebut padasan. Untuk menuju tempat periuk itu berada, harus merangkak melalui dinding-dinding tebing yang dibawahnya merupakan jurang. Bagi pengunjung yang akan melihat sisa padasan brawijaya itu, harus punya nyali besar. Pasalnya, akan berjalan disisi tebing batu dan hanya berpegangan pada besi baja yang telah dipasang sebagai pembantu.



Padasan biasanya bagi masyarakat jawa digunakan sebagai tampungan air untuk bersuci atau berwudu. padasan itu konon kiriman dari Raden Fatah putra Brawijaya ke 5, sebagai pesan yang benyimbolkan agar ayahnya sudi memeluk agama islam.  
kini pemerintah desa ngalang terus melakukan pengembangan Gunung Gentong sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang ada di Kabupaten Gunungkidul. 
Selain dijadikan wisata sejarah dan religi, di gunung gentong setiap tahunnya masyarakat padukuhan manggung melakukan upacara adat istiadat Nyadran menjelang menghadapi bulan Ramadhan. Tradisi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap hasil bumi yang sudah diberikan. Selain itu, juga untuk melestarikan budaya leluhur yang sudah ada sejak dahulu kala.



















by boimprasetyo ( memerdekakan kreativitas jauh di luar ambang batas )