Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Sabtu, 31 Agustus 2013

TAMAN BUAYA INDONESIA JAYA


 (CROCODILE PARK)

Taman buaya yang berlokasi di daerah jalan serang-cibarusah, tepatnya desa sukaragam, serang , kabupaten bekasi. Bila ditempuh dari kota bekasi kurang lebih memakan waktu 1,5 jam menggunakan motor. Taman buaya Indonesia jaya ini dapat dikunjungi menggunakan 2 rute. Rute pertama dari kota bekasi menuju arah tenggara [kota bekasi---cikarang jababeka---arah cibarusah]. Rute ke dua dari kota bekasi ke arah tenggara [kota bekasi---bantargebang---cileungsi / taman buah mekarsari---jln raya jonggol---cibarusah-serang bekasi ]. Bila anda menggunakan angkutan umum lebih mudah lagi. Dari terminal cikarang naik KOASI K 17 jurusan cibarusah dan bilang saja turun di taman buaya, pasti para sopir sudah sangat tau letaknya taman buaya.
Taman buaya saat ini kondisinya sangat memprehatinkan dan terlihat tidak terurus. Kurangnya dana dalam pengelolaannya dan tidak ada perhatian dari pihak pemda kabupaten bekasi c.q dinas pariwisata kab. Bekasi. Padahal taman buaya ini merupakan tempat wisata rakyat yang relative murah, sekaligus tempat belajar bagi anak-anak kita dalam mengenal hewan buas yang dilindungi undang-undang. Luas taman buaya ini 1,5 hektar dibangun oleh pemiliknya bapak Lukman Arifin pada tahun 1990, dan ada beberapa daerah lain yang juga dibangun taman buaya oleh bapak Arifin, saya suka binatang buas ini, jadi bagaimana pun saya akan selalu terus melestarikan binatang ini. Di taman buaya Indonesia jaya ini terdapat beberapa anjungan yaitu tempat atraksi buaya, kandang buaya albino dan buaya buntung, penampungan air, kandang buaya kurang lebih berjumlah 5 kandang (terdiri dari buaya sumatera, buaya Kalimantan, dan buaya irian), tempat penetasan telur buaya, taman bermain, musholla dan toilet. Menurut sumber yang kami dapat dari karyawan taman buaya Bp. Sudarman, sebenarnya taman buaya ini dahulunya berada di daerah Bandengan Jakarta utara dari tahun 1977-1983, lalu pindah lagi ke pluit tahun 1983-1992 masih di daerah Jakarta utara juga. Karena letaknya yang berdekatan dengan perumahan dan di tengah kota maka taman buaya ini direkomendasikan lagi untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman yaitu di pinggir kota Jakarta. Maka pada tahun 1993-1994 taman buaya mulai dipindahkan ke desa sukaragam, serang, kabupaten bekasi hingga saat ini. Karena kurangnya perhatian dari pihak pemkab Bekasi dalam promosi maka pengunjung taman buaya sangat sedikit sekali setiap harinya. minat pengunjung di sini cukup kurang, dalam satu hari mungkin hanya sepuluh sampai lima belas pengunjung kecuali hari libur bisa mencapai tiga puluh orang. Walaupun harga ticket masuk ke taman buaya relative murah, Rp 12.000,- untuk dewasa dan Rp 6.000,- untuk anak-anak. Dengan jumlah pengunjung tersebut memang dipikir secara ratio tidak mungkin mencukupi biaya yang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari. Taman buaya ini ada 500 ekor buaya dari beberapa jenis, diantaranya buaya Kalimantan, buaya Irian, buaya Sumatera, buaya buntung, dan dan buaya putih (albino). Sedangkan untuk setiap harinya saja diperlukan 300kg-500kg daging ayam per kandangnya. Menurut karyawan taman buaya 1 ekor buaya besar bisa menghabiskan 4-5 ekor ayam besar setiap kali makan. Di taman buaya Indonesia jaya ini, pemberian makan hanya satu kali setiap harinya pada jam 16.00 WIB. Dalam satu kandang terdiri dari buaya yang berumur 15-45 tahun, dan ada buaya yang paling tua berumur 55 tahun.
Buaya sebagai binatang buas yang dilindungi undang-undang menhut No. 401/KPTS-VI/ 1986 dan menhut No. 869/ KPTS-VI/ 1991. Seharusnya menjadi perhatian kita semua baik pemerintah setempat maupun masyarakat sebagai pengunjung. Keadaan yang terjadi di taman buaya serang-cibarusa ini sangat miris sekali, dan perlu suntikan dana dari pemkab setempat dan tidak hanya ditanggung pengelola saja. Menurut fakta yang kami temukan taman buaya Indonesia jaya ini merupakan aset yang berharga bagi pemkab kabupaten bekasi, karena pengunjung tidak hanya dari daerah bekasi saja bahkan ada yang jauh-jauh dari Jakarta, bogor, tangerang untuk melihat penangkaran buaya ini. Bahkan sudah 2 tahun terakhir ini untuk memancing minat pengunjung, taman buaya setiap hari libur mengadakan dua kali pertunjukan pada jam11:00 dan 14:00 yaitu atraksi debus dari banten, ular, dan atraksi buaya serta tersedia taman bermain untuk anak-anak. Bila kita lihat sebenarnya pihak pengelola sudah berupaya semampu mungkin untuk mengadakan promosi dan memancing minat para pengunjung, akan tetapi terhalang biaya yang cukup besar maka pengelola hanya menggantungkan pemasukan dari penjualan ticket pengunjung. Untuk memberi makan buaya saja taman buaya hanya menggantungkan dari menampung ayam-ayam yang sudah mati dari seluruh peternakan kabupaten bekasi itupun harus diambil sendiri, ungkap Bp. Sudarman salah satu karyawan taman buaya. Beliau juga mengatakan hingga saat ini pemkab bekasi sama sekali belum pernah memberikan perhatian terhadap keadaan taman buaya Indonesia jaya ini, baik dana maupun dalam hal promosi terhadap public. Hal ini bisa terbantu bila respon pemkab bekasi segera turun tangan dengan memberikan suntikan dana untuk kelanjutan pengelolaannya ke depan dan membantu dalam mempromosikannya karena menurut saya taman buaya ini merupakan sebagian kecil dari program “VISIT INDONESIA YEAR 2008”.
Pihak taman buaya sendiri juga kurang mengoptimalkan fasilitas bagi pengunjung. Dari data pengamatan yang kami peroleh terdapat musholla yang keadaannya tak terawat, permainan anak-anak yang tidak dioperasikan (entah sudah rusak / tidak ada dana untuk mengoperasikannya kembali), dan fasilitas kantin yang tidak ada. Dengan keadaan seperti itu membuat para pengunjung merasa tidak betah dan tak nyaman untuk berlama-lama di taman buaya. Padahal fasilitas itu semua bisa menarik minat masyarakat untuk berkunjung k etaman buaya Indonesia jaya. Sekali lagi perlu adanya kerjasama antara pihak pengelola dengan pemkab setempat untuk kelanjutan nasib taman buaya kedepannya. (b0!m)

Kamis, 29 Agustus 2013

WISATA MUSEUM SEJARAH DI YOGYAKARTA


Tour Museum Sejarah Dengan Trans Yogya


Penulis                                    : Imam Prasetyo Nugroho
Durasi                                     : 1 hari
Kategori                                  : Wisata Sejarah Perjuangan
Tempat yg dikunjungi             : Museum Yogya Kembali, Museum Benteng Vredeburg,
                                                   Museum Perjuangan Yogyakarta, Dan Museum Pusat TNI-AD
                                                   Dharma Wiratama.
Perkiraan biaya                     : Rp. 21.000/ orang ( transportasi + tiket masuk museum )
Catatan                                   : Ticket Single Trip Bus Trans Jogja Rp 3.000,- untuk setiap
                                                  Perjalanan.
                       
Masa penjajahan bangsa asing di tanah air menceritakan banyak sejarah yang tidak mungkin terlupakan dan dapat kita lihat bukti-buktinya dalam sebuah museum perjuangan ataupun pertanda dengan dibuat sebuah monumen. Kota Yogyakarta sendiri merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi ibu kota ke 2 setelah Jakarta pada masa perang kemerdekaan, strategi perang gerilya yang dijalankan Panglima Besar Sudirman juga diterapkan di kota ini hingga pembuktian masih adanya pemerintahan Republik Indonesia dengan dilancarkannya Serangan Umum 1 Maret oleh para pejuang-pejuang Indonesia dan masih banyak cerita lainnya. Hal ini bisa kita telusuri dengan mengunjungi beberapa museum sejarah yang ada di kota Yogyakarta.

Tujuan pertama kita adalah Museum Yogya Kembali. Museum ini berada di utara kota Yogyakarta kurang lebih 6 Km. Museum Yogya Kembali yang lebih familiar disebut masyarakat dengan monjali ini  arsitektur bangunannya sedikit unik berbentuk kerucut. Bila wisatawan datang dari arah utara ingin berkunjung dengan Trans Jogja bisa dengan jalur 2A start dari terminal Jombor dengan perjalanan tidak lebih dari 5 menit menyusuri ring road utara wisatawan akan sampai didepan Shelter Trans Jogja tepat di sisi sebelah barat musem. Museum Yogya Kembali merupakan museum sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi kala itu di kota Yogyakarta yang terkenal dengan Serangan Umum 1 Maret. Pergerakan perjuangan perang gerilya yang dipimpin oleh Pangsar Jenderal Sudirman dikisahkan dimuseum ini dengan diorama-diorama apik seakan terlihat hidup. Semua kisah perjuangan perebutan kemerdekaan di kota Yogyakarta diceritakan secara runtut baik dengan bukti-bukti langsung, lukisan maupun diorama. Koleksi museum ini adalah benda-benda yang berperan langsung dan tidak langsung yang berbentuk lukisan, sketsa, replika, duplikat dan diorama yang memberikan gambaran sejarah perjuangan periode 1945-1949. Wisatawan hanya perlu membayar ticket Rp 5.000,00 /orang untuk wisatawan asing Rp 7.500,00 dan museum ini dibuka untuk umum pada hari Senin pukul 08.00 - 14.00 Selasa s/d Minggu pukul 08.00 – 16.00 telp. 0274-868225.

Kunjungan wisata kita selanjutnya adalah Benteng Vredeburg. Dari Shelter Trans Jogja monjali kita naik Trans Jogja jalur 2A kearah selatan tepatnya di jantung kota Yogyakarta nol kilometer. Museum Benteng Vredeburg ini termasuk bangunan indische yang letaknya berseberangan dengan Istana Negara Gedung Agung. Dulunya bangunan Benteng Vredeburg ini adalah Kantor Gubernur Belanda akan tetapi beralih fungsi sesuai keadaan pergerakan perjuangan merebut kemerdekaan, diawal kemerdekaan Benteng Vredeburg sempat menjadi markas TKR. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg bisa turun di Shelter Trans Jogja yang letaknya di jalan Maliboro ataupun dekat Kantor Pos Besar. Museum Benteng Vredeburg menyajikan beberapa koleksi yang dibedakan menjadi 2 bagian. Bagian pertama yaitu bangunan fisik Benteng Vredeburg itu sendiri yang memiliki bastion di keempat penjurunya. Bila kita masuk museum akan terlihat jelas bangunan dan ruangan berarsitektur Belanda, dengan jendela-jendela besar , pintu-pintu besar dan ketebalan dinding yang tidak biasa layaknya sebuah benteng. Gedung museum ini perpaduan antara bangunan beton dan bangunan kayu-kayu besar yang tersusun rapi menjadi anak tangga dan lotengnya. Bagian keduanya adalah koleksi dari museum Benteng Vredebrug. Disana terdapat diorama-diorama peristiwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi di Yogyakarta. Selain itu terdapat koleksi benda-benda bersejarah ketika masa merebut kemerdekaan, masa-masa mengisi kemerdekaan di Orde Baru hingga pergolakan rakyat Yogyakarta diawal Orde Reformasi. Masih dalam kompleks Benteng Vredeburg di sisi depan sebelah selatan terdapat Monumen Serangan Umum 01 Maret. Monumen ini juga jadi tempat favorit wisatawan untuk ajang foto bersama bahkan sering juga sebagai setting pertunjukan teater di malam hari. Selain sabagai museum perjuangan area Benteng Vredeburg juga sering digunakan untuk pameran lukisan maupun hasil karya seni seniman Yogyakarta. Bahkan sebelum tahun 2013 tempat ini menjadi langganan setiap tahunnya untuk FKY ( Festival Kesenian Yogyakarta) yang sekarang sudah dialihkan di Plaza Ngasem. Status pengelolaan museum ini oleh pemerintah dibawah pengawasan Depertement Kebudayaan Dan Pariwisata. Para wisatan cukup mengeluarkan uang Rp 2.000,00 /orang untuk ticketnya dan dibuka untuk umum pada hari Selasa – Jumat 08.30 – 13.30 Sabtu 08.30 – 12.00 dan Minggu 08.00 – 13.00. telp 0274-586934.

Perjalanan kita selanjutnya adalah Museum Perjuangan Yogyakarta. Dari Shelter Trans Jogja Kantor Pos Besar naik Bus Trans Jogja jalur 2A ke arah selatan kota Yogyakarta dari nol kilometer. Museum ini terletak di Gedung Museum Perjuangan Brontokusuman Jl. Kolonel Sugiyono No 24 Yogyakarta. Untuk mencari Museum Perjuangan Yogyakarta turun di Shelter Jokteng Wetan lalu jalan sedikit ke arah timur dan cari Shelter Sugiyono 2 di kanan jalan. Museum Perjuangan Yogyakarta terletak persis dibelakang Shelter Sugiyono 2 kurang lebih berjarak 200 M dengan bentuk bangunan yang unik yaitu berbentuk Ronde Tample yang merupakan arsitektur gaya Romawi Kuno. Dan tidak hanya itu saja, keunikan dari museum ini, pada dinding luarnya tertempel banyak relief. Berbagai macam peristiwa sejarah perjuangan bangsa, mulai dari berdirinya Budi Utomo, Muhammadiyah, Taman Siswa dan Universitas Gadjah Mada terlukis dalam relief di museum ini. Tidak ketinggalan pula patung dari para pahlawan nasional ikut menghiasi bagian luar dari bangunan museum ini. Koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta berupa benda-benda yang erat kaitannya dengan perjuangan fisik melawan Belanda. Pada tahun 2008, Museum Perjuangan Yogyakarta ini melakukan perubahan dengan menjadikan ruang bawah tanah menjadi Museum Sandi Indonesia. Yang menjadi latar belakang dari pendirian Museum Sandi Indonesia  adalah untuk menampilkan dan memelihara koleksi benda-benda sandi yang bernilai sejarah serta menambah pengetahuan wawasan para pengunjung mengenai sejarah persandian di Indonesia dan mancanegara. Jam buka museum ini yaitu hari Selasa s/d Kamis pukul 08.30-14.00, Jum'at pukul 08.30-11.30, sedangkan hari  Sabtu dan Minggu buka pukul 08.30-13.00 WIB. Untuk ticket masuknya Rp 2.000,- / orang telp. 0274 – 387576.

Setelah puas berkunjung di Museum Perjuangan Yogyakarta perjalanan terakhir kita adalah di Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama yang letaknya ditengah kota. Untuk menuju kesana dengan Bus Trans Jogja dari Shelter Jokteng Wetan wisatawan akan diajak putar-putar kota Yogya terlebih dahulu. Dari Jogja Selatan menuju ke arah timur lalu berbelok masuk tengah kota melewati kebun Binatang Gembira Loka, lalu lewat 2 stadion kebanggaan warga Yogyakarta, setelah itu lewat depan kampus UKDW dan belok kiri melewati jalan protokol lalu berhenti di Shelter Gramedia. Letak Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama bersebrangan dengan Toko Buku Gramedia ke arah timur kurang lebih 50 meter. Dengan bangunan megah bercat hijau dan terdapat 2 patung besar yaitu Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo berdiri gagah di ujung barat gedung ini memberikan sebuah penanda besar bagi para pengunjung yang memasuki Museum Dharma Wiratama. Sejarah panjang dan lika-liku TNI-AD berjuang bagi NKRI bisa dilihat dari setiap ruang yang ada di museum ini. Museum Dharma Wiratama mempunyai koleksi benda-benda bersejarah perjuangan TNI-AD sejak tahun 45 hingga peristiwa G 30S/PKI yang divisualisasikan dalam ruangan-ruangan yang telah disediakan. Museum Dharma Wiratama terbagi dalam beberapa ruangan yaitu ; ruang pertama/R. Pengantar, R. Pangsar Jenderal Soedirman, R. Letjend Oerip Soemohardjo, R. Palagan, R. Senjata, R. Dapur Umum, R. Alat Perhubungan dan Alat Kesehatan, R. Panji-Panji, R. Tanda Jasa, R. Peristiwa, R. Alat Peralatan, R. Unity Charter of Indonesian Army and Garuda Contingent, R. Pahlawan Revolusi, R. Penumpasan G 30S/PKI. Cukup banyak bukan koleksi yang dipamerkan di museum ini sesuai dengan nama ruangannya. Tidak hanya itu saja di luar gedung musem terdapat pula kendaraan lapis baja yang sudah dipensiunkan dipajang untuk menarik perhatian pengunjung yang biasanya sebagai tempat berfoto bersama para wisatawan. Status Museum Dharma Wiratama merupakan museum khusus dengan pengelolaan Dinas Pembinaan Mental AD yang bisa dikunjungi setiap jam kerja hari Senin - Jumat pukul 07.30 –15.00 WIB Sabtu, Minggu dan Hari libur 08.00 –14.00 WIB yang menyenangkan berkunjung ke museum ini adalah tidak dipatok harga ticketnya alias sukarela.
Sungguh sebenarnya Yogyakarta bukan hanya kota pelajar ataupun kota budaya akan tetapi jika kita flashback kembali bahwa Yogyakarta turut andil besar dalam sejarah pergolakan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan bisa disebut kota pahlawan ke 2 setelah Surabaya. Sebenarnya tidak hanya 4 museum diatas saja yang menceritakan sejarah perjuangan di Kota Gudeg ini masih banyak museum sejarah dan monumen yang ada di Yogya sebagai saksi bisu jalanya perjuangan bangsa ini merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jas-jasa para pahlawannya, dengan berkunjung ke museum sejarah dan perjuangan bangsa ini setidaknya kita turut ikut menghargai jasa-jasa pahlawan.
 


WISATA BELANJA PASAR TRADISIONAL


Menyambangi 3 Pasar Tua Di Kota Jogja Dengan Trans Jogja
Penulis                                    : Imam Prasetyo Nugroho
Durasi                                     : 1 hari
Kategori                                  : Wisata Belanja
Tempat yg dikunjungi             : Pasar Beringharjo, Pasar Sentul dan Pasar Kota Gede,
Perkiraan biaya                     : Rp. 12.000/ orang ( transportasi )
Catatan                                   : Ticket Single Trip Bus Trans Jogja Rp 3.000,- untuk setiap
                                                  Perjalanan.
Akhir-akhir ini wisata belanja sangat diminati bagi para pelancong baik di sepanjang kawasan perniagaan modern maupun blusukan ke pasar tradisional. Untuk belanja di kawasan perniagaan yang modern mungkin sudah biasa dan sedikit tantangannya. Kenapa saya mengatakan sedikit tantangannya, karena biasanya di kawasan perniagaan modern sudah tertera bandrol harganya jadi tidak ada seni untuk tawar-menawar harga, meskipun ada mungkin harganya turun sangat relatif kecil atau bahkan sudah ditentukan dengan diskon angka-angka tertentu. Akan tetapi hal itu tak akan kita jumpai jika kita mau blusukan ke pasar tradisional yang ada di nusantara ini. Justru di pasar tradisional inilah yang membuat menarik, karena masih ada tawar- menawar hingga bisa mendapatkan harga termurah. Tidak hanya itu saja pasar tradisional sebagai sarana bertegur sapa antar penjual dan pembeli yang mungkin jarang kita temui di pusat perniagaan modern. Ngomongin pasar tradisional, saya ingin mengajak yang hobi wisata belanja untuk menyambangi pasar tua yang ada di kota Jogjakarta pastinya pasar ini adalah pasar tradisional. Pasar tradisonal yang saya tawarkan ini cukup familiar dan usianya cukup lama juga bahkan ada yang hampir lebih 1 abad lho.

Oke, untuk tujuan pertama kita adalah Pasar Beringharjo. Jika anda orang Jogja ataupun dulunya pernah menetap di Jogja sebagai pelajar yang menuntut ilmu di kota pelajar ini mungkin sudah tidak asing lagi telinga anda mendengar Pasar Beringharjo. Pasar ini merupakan salah satu ikon kota Jogjakarta yang letaknya di jantung kota Jogja dikawasan Malioboro-Nol Kilometer. Pasar ini ternyata mempunyai sejarah yang cukup menarik hingga saat ini berdiri. Bagi anda wisatawan yang tiba di Jogja dari arah timur ( Bandara Adisucipto ) ingin menyambangi pasar tua ini bisa menggunakan Bus Trans Jogja jalur 1A naik dari Shelter Bandara Adisucipto lalu turun di shelter sekitar kawasan Jalan Maloiboro Atau Kantor Pos Besar. Jika wisatawan yang tiba di kota Jogja dengan kereta api dari Stasiun Tugu bisa naik Bus Trans Jogja dengan jalur yang sama pula atau jika lebih menarik lagi cukup jalan kaki ke arah selatan kurang lebih 1 Km, sambil menyusuri ramainya Jalan Malioboro nanti anda akan menemui Pasar Beringharjo di kiri jalan. Tapi saya sarankan jika anda hanya membawa uang pas maka jangan lirak-lirik dagangan yang dijual di sepanjang Jalan Malioboro ditanggung anda akan tergiur untuk membelinya dan bisa saya pastikan sebelum masuk Pasar Beringharjo uang anda sudah habis duluan (he..he..he..). Tapi jangan khawatir disepanjang Malioboro banyak ATM dari berbagai bank jadi tidak usah takut kehabisan uang. Nah, sebelum anda blusukan ke Pasar Beringharjo ada baiknya kita telusuri dulu sejarah berdirinya salah satu pasar tua di jantung kota Jogja ini. Dahulu wilayah Pasar Beringharjo merupakan hutan beringin, setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di tahun 1758, bekas hutan beringin ini dijadikan pasar untuk tempat transaksi ekonomi oleh warga Jogjakarta dan sekitarnya. Setelah ratusan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1925 tempat transaksi jual-beli ini dibuatkan bangunan permanen. Sedangkan Nama 'Beringharjo' sendiri diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Arti nama Beringharjo sendiri adalah bahwa dahulu wilayah yang saat ini menjadi pasar adalah sebuah hutan beringin  ( bering ) sedangkan kata harjo diharapkan dapat memberikan kesejahteraan. Jadi secara keseluruhan Pasar Beringharjo diharapkan menjadi tempat belanja yang menyenangkan dan dapat memberi kesejahteraan bagi para pedagangnya.
Pasar Beringharjo sendiri merupakan pasar tradisional terbesar di kota Jogjakarta yang menjual berbagai macam kebutuhan baik sandang, pangan maupun peralatan papan. Hingga saat ini Pasar Beringharjo telah mengalami berulang-ulang kali renovasi bangunan fisiknya. Jika anda masuk ke dalam pasar telah tertata rapi dengan dibuat blok-blok tersendiri jenis dagangan yang dijual, pasar ini terdiri dari 4 lantai dan mungkin puluhan blok. Jika anda memasuki Pasar Beringharjo dari pintu utama ( arah barat ) di bagian luar wisatawan akan menemui pedagang aneka jajanan pasar dan makanan kering khas Jogja untuk oleh-oleh. Dilantai satu sisi barat berjajar-jajar blok busana dari batik klasik hingga fashion modern. Jika anda ingin mencari koleksi kain atau pakaian batik dari harga yang termurah hingga termahal disinilah tempatnya, bahkan jika anda beli banyak ditawarkan dengan harga grosir, mantap bukan.! Berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, anda akan disuguhi aroma jejamuan. Di tempat ini merupakan pusat penjualan bahan dasar jamu Jawa ( empon-empon ) dan rempah-rempah bumbu masak. Dilantai 3 dan 4 bagi anda yang ingin berburu barang-barang antik dan barang bekas yang masih oke punya disitulah surganya. Dilantai 4 banyak dijual rongsokan barang-barang elektronik seperti mekanik-mekanik tape recorder, radio, TV hingga camera model jadoel. Tapi saya sarankan jika wisatawan ingin belanja barang antik dan bekas di sini harus pintar-pintar menawar dan benar-benar tau karakteristik kondisi barang yang akan dibeli, karena banyak sekali pembeli yang terbuai rayuan si penjual akhirnya hanya mendapatkan barang bekas yang mudah rusak bahkan palsu. Tidak hanya wisata belanja saja yang kita dapat di Pasar Beringharjo akan tetapi wisatawan juga bisa melihat perjuangan para kuli-kuli panggul mencari nafkah untuk menyambung hidup keluarganya. Para kuli panggul di pasar ini rata-rata didominasi para nenek-nenek dari keluarga kurang mampu. Perjuangan mereka juga sering dijadikan spot para Fotografer untuk diabadikan gambarnya. Setelah puas berkeliling kawasan dalam pasar tiba saatnya anda saya ajak menyambangi daerah diluar pasar yang tidak kalah menarik. Kawasan lor pasar yang dulu merupakan Chinese Town ( Pecinan ) sekarang dijadikan pusat jual-beli logam mulia. Tidak hanya itu saja bagi anda pemburu kaset-kaset lama tahun 50-an di kawasan ini bisa ditemui dan juga segala barang-barang yang berbau jadoel seperti mata uang logam lama dari berbagai negara. Jika ingin wisata kuliner pun wisatawan dimanjakan dengan berbagai menu makanan tradisonal yang ada di dalam kawasan pasar maupun yang dijajakan diluar pasar. Meski Pasar Beringharjo tutup pukul 17.00 WIB, tetapi dinamika pedagang tidak berhenti pada jam itu. Ketika menjelang petang bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam makanan khas seperti Martabak, Terang Bulan, Cakue, Klepon dan masih banyak lagi jajanan pasar tradisonal yang menggugah selera anda untuk mencobanya. Sebenarnya pasar terbesar di kota Jogja ini setiap harinya tidak pernah mati. Pasar Beringharjo sendiri sejak jam 03.00 dinihari transaksi jual-beli sudah dimulai, biasanya para pedagang sayur dari daerah luar Jogja sudah berdatangan untuk menjajakan dagangannya. Sungguh sebuah pasar yang sesuai dengan namanya memberikan kesenangan dan kepuasan bagi para wisatawan yang hobi untuk berbelanja.
Setelah puas berbelanja di Pasar Beringharjo kita lanjutkan wisata belanja ke Pasar Sentul yang ada di tengah kota jadi sisakan uang anda untuk belanja di pasar berikutnya yang akan kita kunjungi ini. Dari Pasar Beringharjo kita bisa meneruskan perjalanan dengan naik Bus Trans Jogja jalur yang sama yaitu 1A naik dari Shelter Trans Jogja yang ada di kawasan Malioboro atau dari Shelter Bus Trans Jogja Kantor Pos Besar. Perjalanan kurang lebih 15 menit kearah timur dan wisatawan bisa turun di Shelter Trans Jogja Pasar Sentul. Dari tempat anda turun tadi tentunya Pasar Sentul tidak jauh lagi tepat persisnya di kiri jalan Jl. Sultan Agung atau diseberang jalan sebelah timur Pura Pakualaman. Sebenarnya pasar ini seperti pasar tradisional lainnya akan tetapi pasar ini cukup berusia tua juga dan sebagai pusat transaksi para pedagang skala kecil hingga besar. Di pasar ini dapat dijumpai berbagai macam produk berupa beragam kebutuhan rumah tangga ( sembako ), pakaian, alat-alat pertanian bahkan makanan siap sajipun bisa anda temukan. Yang menjadi khas di Pasar Sentul ini adalah pusat jual beli jagung muda mentah. Disamping tempat yang mudah dijangkau, harga yang lebih murah dan kualitas jagung yang bagus menjadi alasan para pengusaha kecil jagung bakar untuk membeli di pasar ini. Pasar Sentul juga seperti Pasar Beringharjo kegiatan jual-beli dimulai pukul 03.00 pagi yang biasanya didominasi oleh para pedagang sayur-sayuran segar. Aura pasar tradisional sangat terasa sekali disini jika anda belanja di pagi hari, dengan para penjual yang didominasi pula oleh para orang-orang tua dan juga masih adanya para kuli panggul seperti di Pasar Beringharjo. Di sini pengunjung juga dimudahkan untuk mencari kebutuhannya karena para pedagang sudah dikelompokkan menurut jenis barang dagangannya. Beberapa fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung di Pasar Sentul yakni toilet, area parkir yang luas, tidak jauh dari tempat ini ada SPBU dan juga Pos Polisi sehingga keamanan lebih terjamin. Banyak juga tukang becak yang mangkal di depan pasar, sehingga memudahkan para pembeli jika berbelanja dengan kapasitas yang besar namun tidak membawa kendaraan khusus.

Wisata belanja kita yang terakhir adalah mengunjungi Pasar Gede atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sargede  yang ada di Kota Gede. Di sini kita tidak hanya sekedar belanja saja karena juga bisa wisata sejarah pula, karena letak Pasar Gede berdekatan dengan Makam Raja-Raja Mataram dan ada beberapa patilasan dari Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram Islam. Dari Pasar Sentul tadi kita lanjutkan perjalanan dengan menggunakan Bus Trans Jogja jalur 1A naik dari Shelter Trans Jogja Pasar Sentul menuju ke timur menyusuri jalan Kusumanegara dan berhenti di Shelter Babadan Gedongkuning. Dari Shelter Babadan Gedongkuning kita harus oper Bus Trans Jogja ke jalur 2A menuju kearah selatan dan turun di Shelter Gedongkuning seberang Dept. Kehutanan persis di depan Bank Mandiri Syariah. Dari tempat anda turun tadi wisatawan harus jalan kurang lebih 500 meter ke selatan untuk menuju Pasar Gede, karena memang Bus Trans Jogja tidak melewati jalan yang ke arah Pasar Gede. Tapi bagi para wisatawan jangan berpikir capek terlebih dahulu, karena selama anda berjalan 500 meter tersebut mata anda akan dimanjakan dengan berderet-deret kios penjual aneka kerajinan perak. Kawasan ini disebut Jalan Kemasan dan memang pusatnya show room pengrajin perak di Jogjakarta. Dijamin jika anda mupeng ( mudah pengen ) maka uang anda akan mampir dulu ke kios-kios kecil penjual perak sebelum sampai tujuan yaitu Pasar Gede. Oke, kita tinggalkan sejenak sentra penjual perak kita berjalan lagi ke arah selatan menuju Pasar Gede. Pasar Kotagede atau Sargede  merupakan salah satu pasar tua yang ada di Jogjakarta yang berdiri semenjak jaman Kerajaan MataramIslam. Dahulu kala kawasan Kota Gede ini adalah hutan disebut Alas Mentaok, yang diberikan kepada Panembahan Senopati oleh Sultan Pajang atas jasa Senopati telah membantu menyelamatkan Pajang. Lalu pada tahun 1575 Panembahan Senopati menjadi Raja Mataram Islam yang pertama dan menetapkan kawasan Kota Gede sebagai ibu kota Kerajaan Mataram Islam hingga tahun 1640. Meskipun Pasar Gede  tidak terlalu besar seperti 2 pasar yang kita kunjungi tadi akan tetapi disini menjajakan berbagai macam kebutuhan rumah tangga dan terbilang lengkap dari kebutuhan pangan, sandang dan peralatan papan. Keistimewaan pasar Kota Gede adalah adanya pasar legi (pasaran jawa) yang ada setiap 5 hari sekali ketika saat pasaran legi. Pada saat pasaran legi pasar Kota Gede sangat ramai seperti pasar tumpah. Hal ini di karenakan adanya penjual dan pembeli di kawasan luar pasar aneka macam burung, ayam, obral pakaian, ikan, onderdil-onderdil ,dan kebutuhan rumah tangga lainnya hingga hal-hal yang berbau mistis yaitu penjual batu akik bertuah dan jimat. Biasanya jika jatuh pada pasaran legi kawasan Pasar Gede macet dikarenakan banyak yang memarkir kendaraannya di bahu jalan sehingga membuat jalanan semakin sempit dan hal ini sangat disayangkan sekali. Jika anda masuk ke dalam pasar masih bisa kita temui para penjahit tradisional dengan menggunakan mesin jahit yang dikayuh dengan tangan, biasanya dilakukan oleh para perempuan tua. Dikawasan luar pasar masih banyak kita temui bangunan-bangunan rumah jaman dahulu, bahkan sering kawasan Kota Gede untuk lokasi syuting FTV. Kegiatan perniagaan di dalam Pasar Gede sendiri sebenarnya akan sepi di siang hari sekitar pukul 13.00, akan tetapi kegiatan jual-beli di area luar pasar masih berlanjut hingga malam hari. Ketika sore hari berjajar-jajar penjual aneka kuliner jajanan pasar apalagi jika bulan puasa ramainya akan lipat 2 kali di banding hari-hari lainnya. Di sisi selatan pasar ada berjajar toko penjual oleh-oleh khas Kota Gede yaitu yangko, dan bila kita berjalan kearah selatan lagi maka akan menemukan Kompleks Makam Raja-Raja Mataram yang letaknya di kanan jalan. Disana terbaring jasad pendiri Kerajaan Mataram Islam Panembahan Senopati dan 2 penasehatnya yaitu Ki Juru Martani dan Ki Ageng Giring juga para kerabat-kerabat Kerajaan Mataram lainnya. Seperti yang saya katakan diawal tadi bahwa berkunjung ke Pasar Gede tidak hanya wisata belanja saja akan tetapi juga bisa wisata sejarah. Dari komplek Pemakaman Raja Mataram tadi jika kita lanjutkan ke selatan lagi wisatawan juga akan menemui sebuah bangunan ditengah jalan kampung. Disitulah tempat disimpannya  Watu Gilang yaitu tempat duduk Panembahan Senopati, Watu Gatheng yaitu batu mainannya Raden Ronggo putra Panembahan Senopati dan Watu Genthong yaitu tempat air wudu 2 penasehat Panembahan Senopati, Ki Juru Martani dan Ki Ageng Giring. Di kanan bangunan tersebut ada sebuah Taman Sari Kerajaan Mataram Islam dan sebelah utaranya taman sari tersebut ada Produsen Coklat Monggo yang terkenal itu. Nah, para wisatawan setelah melihat-lihat cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram bisa dilanjutkan wisata belanjanya dengan mengunjungi show room Coklat Monggo yang bersebelahan dengan pabriknya. O, iya selain di jalan kemasan disisi barat Pasar Gede tepatnya di Jalan Mondorakan anda masih bisa menemui sentra kerajina perak dan juga ada pembuat makanan tradisonal yang hampir punah yaitu Kipo. Konon katanya kipo ini adalah makanan para bangsawan dan Raja-Raja Mataram. Bagaimana, menyenangkan bukan jalan-jalan wisata belanja kita kali ini. Selain bisa berbelanja aneka kebutuhan, cinderamata dan buah tangan untuk sanak-keluarga sekaligus dapat menelusuri sejarah dan melihat cagar budaya. Menyambangi pasar tradisional bukan hannya sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangga saja akan tetapi sekaligus bisa belajar sejarah dan budaya dimana pasar itu dibangun.