Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Sabtu, 17 Juni 2023

Penjahit Onthel, Menolak Punah Bertahan Dari Gempuran Zaman

Di pasar Bantul, D.I. Yogyakarta sekumpulan perempuan setengah baya masih menggantungkan perekonomianya pada sebuah mesin tua yang dikayuh dengan tangan atau dionthel (jawa). Mesin jahit onthel yang mereka gunakan rata-rata sudah berusia puluhan tahun yang hingga kini masih bisa dioperasikan dengan baik.

Seolah tak ingin dianggap punah, roda kecil yang menempel pada mesin terus berputar dengan didorong tangan-tangan terampil, hingga menghasilkan suara sebagai pertanda mesin jahit kayuh tangan ini masih bisa berfungsi kendatipun usianya telah senja. Ya, Inilah suasana di belakang Pasar Bantul, di Yogyakarta. Kurang lebih ada tujuh perempuan paruh baya yang masih mengandalkan mesin jahit onthel atau dikayuh dengan tangan, sebagai tumpuan pendapatan sehari-hari.

Para penjahit onthel di pasar bantul ini didominasi oleh para perempuan tua yang sudah hampir lebih 20 tahun menggeluti profesinya. Seperti yang dituturkan Sarjilah. Dirinya menggeluti profesi sebagai penjahit onthel sudah lebih dari 20 tahun sejak lulus sekolah menengah pertama. Karena biaya, Sarjilah harus pupus untuk meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Oleh orang tuanya sarjilah dikursuskan menjahit, yang pada akhirnya keahlian menjahit yang ia dapatkan mengubah nasibnya menjadi seorang penjahit onthel di Pasar Bantul hingga kini.

Hal yang sama pun dirasakan oleh Ariyati yang sudah menekuni sebagai penjahit onthel lebih dari 20 tahun. Bahkan mesin jahit yang ia gunakan saat ini warisan dari orang tuanya sejak tahun 80-an. Ariyati mengaku enggan beralih ke mesin jahit yang dimodifikasi dengan dinamo sehingga tidak perlu capek-capek dikayuh dengan tangan. Diriya masih konsisten memilih menjadit dengan kayuh tangan dengan alasan lebih santai dan lebih asik.

Keberadaan penjahit onthel yang berlokasi di tengah pasar ini pun menjadi jujukan masyarakat yang ingin menggunakan jasa mereka. Biasanya sembari berbelanja, mereka sekalian menjahitkan pakaian yang sekiranya koyak. Biaya sekali jahit cukup terjangkau mulai dari 5 ribu rupiah hingga puluhan ribu rupiah.

Serasa tak mau dibilang punah diterpa perubahan zaman, penjahit onthel pun memiliki musim panen, yaitu dikala tahun ajaran baru anak masuk sekolah dan menjelang lebaran.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar