Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Selasa, 14 Mei 2019

MENGENAL CITA RASA KOPI NUSANTARA



Meningkatnya penikmat minuman kopi dan industri kopi di nusantara yang semakin semarak, serta didukung cita rasa kopi di Indonesia yang beranekaragam. Komoditi kopi saat ini bisa dikatakan sabagai salah satu soko guru perekonomian Indonesia. Pasalnya, kopi saat ini membawa dampak positip bagi pelaku industri perkopian di Indonesia.

Indonesia sebagai negara beriklim tropis diuntungkan dengan keanekaragaman hayati yang tumbuh dari bumi nusantara. Begitu juga dengan jenis tanaman kopi, dari ujung sumatera provinsi aceh hingga timur Papua, Merauke, dihasilkan berbagai cita rasa bijih kopi yang berbeda sesuai dengan kontur tanahnya.  

Agus prasetyo salah satu quality control di laboratorium kopi yang ada di yogyakarta, menjelaskan. karakter kopi di yang dihasilkan dari bumi andalas pulau sumatera cenderung bercitra rasa herbal atau rempah-rempahan.

Sementara itu, biji kopi yang dihasilkan dari bumi indonesia bagian timur akan lebih cederung rasanya kecoklatan atau caramel. Meskipun 

varietas kopi yang ditanam sama akan tetapi kondisi geografis, kesuburan tanah, ikim, curah hujan dan ketinggian tanah mempengaruhi cita rasa kopi yang dihasilkan.

Untuk jenis kopi Arabica butuh tumbuhan pelindung yang ditanam dalam satu lahan atau biasa disebut tumpangsari. Tanaman kopi Arabica tidak bisa langsung terkena sinar ultraviolet dan tanaman pelindung ini juga akan mempengaruhu cita rasa kopi yang dihasilkan.

Dalam proses pasca panen kopi ada 3 metode pengolahan biji kopi yaitu alami, semi wash dan full wash. Untuk metode natural, kopi ketika usai dipanen akan direndam ke dalam air atau biasa disebut dirambang untuk mendapatkan buah kopi yang bagus. Buah kopi yang bagus akan tenggelam dan buah kopi yang cela akan mengambang.

Setelah itu, buah kopi yang dirasa bagus dijemur selama 30 hari. Dalam proses penjemuran ini kulit kopi akan meresap kedalam bijih kopi. Dalam proses penjemuran selama 30 hari ini jika tidak ada controlling, maka akan mengalami over fermentasi yang kemudian menjadi wine, yaitu ada zat dari kulit kopi yang meresap ke bijih kopi sehingga menghasilkan rasa yang sedikit mengganggu atau terlalu asam.

Proses natural ini dianggap mampu memberi notes ala buah-buahan pada kopi, dengan hints umum seperti blueberry, strawberry atau buah-buahan tropis. Kopi pun cenderung memiliki keasaman (acidity) rendah, rasa-rasa yang eksotis dan body yang lebih banyak.

Untuk proses semi wash atau setengah basah, setelah melalui proses perambangan, buah kopi direndam selam 12 hingga 36 jam. Setelah proses perendaman, buah kopi dijemur lalu digiling untuk memsahkan bijih kopi dari kulit buahnya. Untuk semi wash ada 2 cara penggilingan yaitu giling kering tanpa air dan giling dengan mengguakan air.

Kopi-kopi dengan proses semi-washed cenderung memiliki tingkat sweetness yang intens, body lebih penuh, dengan tingkat keasaman lebih rendah jika dibandingkan kopi-kopi washed processed.  kopi dengan proses ini juga memiliki rasa-rasa yang lebih beragam.




Sementara itu untuk full wash, dicuci penuh selama 24 hingga 36 jam setelah dilakukan proses perambangan untuk mencari buah kopi yang tidak bagus.

Kopi-kopi hasil washed process umumnya memiliki karakter yang lebih bersih, light, sedikit berasa buah, body cenderung ringan dan lembut dengan tingkat keasaman (acidity) lebih banyak.

Di Indonesia hampir 95 persen proses pengolahan kopi dengan menggunakan metode semi wasah dan full wash. Hal ini dikarenakan lebih cepat, mudah dan petani lebih gampang dalam proses menjualnya.

Jika ditarik kebelakang ada 3 gelombang cara menikmati kopi. di tahun 70-an hingga awal 90-an orang menikmati kopi bubuk tidak peduli dengan proses, varietas dan hanya butuh meminum kopi saja. Pada gelombang ke 2, di tahun 90-an hingga memasuki tahun 2000, orang  menikmati kopi cenderung mencari tempat yang nyaman. Saat ini digelombang ke 3, dimana menikmati kopi tidak hanya sekedar nongkrong tapi juga ingin mengetahui materi dasar kopi yang dijual dan diminumya.

Integritas, kejujuran dan edukasi dari seluruh pelaku industry kopi dibutuhkan untuk menjelaskan kepada konsumen.




Seorang barista harus bertanggung jawab dari apa yang dia seduh, dan dia harus mampu mendiskripsikan apa yang dia seduh kepada konsumennya, sehingga konsumen terlindungi.  




Dengan berbagai kelebihan dan keanekaragaman cita rasa kopi nusantara tidak berlebihan kiranya, jika komoditi kopi menjadi salah satu soko guru perekonomian indonesia selain komoditi-komoditi lainnya. Penikmat kopi yang terus meningkat serta kedai kopi yang semakin tumbuh bak jamur dimusim hujan, membawa pengaruh positip bagi para pelaku industry kopi di nusantara.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar