



Meningkatnya penikmat minuman kopi dan industri kopi di nusantara yang semakin semarak, serta didukung cita rasa kopi di Indonesia yang beranekaragam. Komoditi kopi saat ini bisa dikatakan sabagai salah satu soko guru perekonomian Indonesia. Pasalnya, kopi saat ini membawa dampak positip bagi pelaku industri perkopian di Indonesia.
Indonesia sebagai negara beriklim tropis
diuntungkan dengan keanekaragaman hayati yang tumbuh dari bumi nusantara. Begitu
juga dengan jenis tanaman kopi, dari ujung sumatera provinsi aceh hingga timur Papua,
Merauke, dihasilkan berbagai cita rasa bijih kopi yang berbeda sesuai dengan
kontur tanahnya.
Agus prasetyo salah satu quality control di laboratorium kopi yang ada di yogyakarta, menjelaskan. karakter kopi di yang dihasilkan dari bumi andalas pulau sumatera cenderung bercitra rasa herbal atau rempah-rempahan.
Agus prasetyo salah satu quality control di laboratorium kopi yang ada di yogyakarta, menjelaskan. karakter kopi di yang dihasilkan dari bumi andalas pulau sumatera cenderung bercitra rasa herbal atau rempah-rempahan.
Sementara itu, biji kopi yang dihasilkan dari
bumi indonesia bagian timur akan lebih cederung rasanya kecoklatan atau caramel.
Meskipun
varietas kopi yang ditanam sama akan tetapi kondisi geografis,
kesuburan tanah, ikim, curah hujan dan ketinggian tanah mempengaruhi cita rasa
kopi yang dihasilkan.
Untuk jenis kopi Arabica butuh tumbuhan pelindung yang ditanam dalam satu lahan atau biasa disebut tumpangsari. Tanaman kopi Arabica tidak bisa langsung terkena sinar ultraviolet dan tanaman pelindung ini juga akan mempengaruhu cita rasa kopi yang dihasilkan.
Untuk jenis kopi Arabica butuh tumbuhan pelindung yang ditanam dalam satu lahan atau biasa disebut tumpangsari. Tanaman kopi Arabica tidak bisa langsung terkena sinar ultraviolet dan tanaman pelindung ini juga akan mempengaruhu cita rasa kopi yang dihasilkan.
Dalam proses pasca panen kopi ada 3 metode
pengolahan biji kopi yaitu alami, semi wash dan full wash. Untuk metode
natural, kopi ketika usai dipanen akan direndam ke dalam air atau biasa disebut
dirambang untuk mendapatkan buah kopi yang bagus. Buah kopi yang bagus akan
tenggelam dan buah kopi yang cela akan mengambang.
Setelah itu, buah kopi yang dirasa bagus
dijemur selama 30 hari. Dalam proses penjemuran ini kulit kopi akan meresap
kedalam bijih kopi. Dalam proses penjemuran selama 30 hari ini jika tidak ada controlling,
maka akan mengalami over fermentasi yang kemudian menjadi wine, yaitu ada zat
dari kulit kopi yang meresap ke bijih kopi sehingga menghasilkan rasa yang
sedikit mengganggu atau terlalu asam.
Proses natural ini dianggap
mampu memberi notes ala buah-buahan pada kopi, dengan hints umum seperti
blueberry, strawberry atau buah-buahan tropis. Kopi pun cenderung memiliki
keasaman (acidity) rendah, rasa-rasa
yang eksotis dan body yang lebih banyak.
Untuk proses semi wash atau setengah
basah, setelah melalui proses perambangan, buah kopi direndam selam 12 hingga
36 jam. Setelah proses perendaman, buah kopi dijemur lalu digiling untuk
memsahkan bijih kopi dari kulit buahnya. Untuk semi wash ada 2 cara penggilingan
yaitu giling kering tanpa air dan giling dengan mengguakan air.
Kopi-kopi dengan proses semi-washed cenderung
memiliki tingkat sweetness yang intens, body lebih penuh,
dengan tingkat keasaman lebih rendah jika dibandingkan kopi-kopi washed
processed. kopi dengan proses ini juga memiliki rasa-rasa yang lebih
beragam.
Sementara itu untuk full
wash, dicuci penuh selama 24 hingga 36 jam setelah dilakukan proses perambangan
untuk mencari buah kopi yang tidak bagus.
Kopi-kopi hasil washed
process umumnya memiliki karakter yang lebih bersih, light, sedikit berasa
buah, body cenderung ringan dan lembut dengan tingkat keasaman (acidity) lebih banyak.
Di Indonesia hampir 95 persen proses
pengolahan kopi dengan menggunakan metode semi wasah dan full wash. Hal ini
dikarenakan lebih cepat, mudah dan petani lebih gampang dalam proses menjualnya.
Jika ditarik kebelakang ada 3 gelombang cara
menikmati kopi. di tahun 70-an hingga awal 90-an orang menikmati kopi bubuk
tidak peduli dengan proses, varietas dan hanya butuh meminum kopi saja. Pada gelombang
ke 2, di tahun 90-an hingga memasuki tahun 2000, orang menikmati kopi cenderung mencari tempat yang
nyaman. Saat ini digelombang ke 3, dimana menikmati kopi tidak hanya sekedar
nongkrong tapi juga ingin mengetahui materi dasar kopi yang dijual dan
diminumya.
Integritas, kejujuran dan edukasi dari seluruh
pelaku industry kopi dibutuhkan untuk menjelaskan kepada konsumen.
Seorang barista
harus bertanggung jawab dari apa yang dia seduh, dan dia harus mampu
mendiskripsikan apa yang dia seduh kepada konsumennya, sehingga konsumen
terlindungi.
Dengan berbagai kelebihan dan keanekaragaman
cita rasa kopi nusantara tidak berlebihan kiranya, jika komoditi kopi menjadi
salah satu soko guru perekonomian indonesia selain komoditi-komoditi lainnya. Penikmat
kopi yang terus meningkat serta kedai kopi yang semakin tumbuh bak jamur
dimusim hujan, membawa pengaruh positip bagi para pelaku industry kopi di
nusantara.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar