Yogyakarta ternyata memiliki pabrik cerutu tertua di Indonesia yang hingga saat ini masih eksis memproduksi cerutu kualitas ekspor. Taru Martani yang dahulunya bernama NV Ngresco, merupakan perusahaan cerutu milik pengusaha Belanda yang didirikan tahun 1918.
Kendatipun bukan sebagai kota industri, yogyakarta memiliki pabrik
cerutu kualitas dunia yang berproduksi sejak jaman kolonial belanda, tepatnya
di tahun 1918. Perusahaan cerutu yang kini menjadi badan usaha milik daerah,
istimewa yogyakarta atau bumd ini, awalnya merupakan milik pengusaha belanda
dengan nama n-v ngresco.
Setelah indonesia merdeka kepemilikan beralih pada keraton yogyakarta dan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono Sembilan diganti nama menjadi Taru Martani yang artinya daun kehidupan. Di dalam bangunan pabrik Taru Martani yang masih asli berarsitektur Belanda ini, lembaran-lembaran daun tembakau kering diracik tangan-tangan trampil para ibu menjadi cerutu kualitas dunia.
Produksi cerutu Taru Martani hampir 40 persen
diekspor, diantaranya ke benua Amerika, beberapa negara di benua biru Eropa dan
negara di asia seperti Jepang dan Taiwan. Sementara untuk pasaran lokal cerutu Taru
Martani hampir tersebar ke seluruh Indonesia.
Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, taru martani mendatangkan daun tembakau dari Jember, Jawa Timur dengan jenis Tembakau Besuki. Dalam satu bulan taru martani mampu memproduksi cerutu kisaran 200 ribu batang.
Selain memproduksi cerutu, taru martani juga memproduksi tembakau iris atau rajangan tembakau. Taru martani tidak hanya sekedar perusahaan pembuat cerutu namun dijadikan salah satu daftar destinasi wisata edukasi, lantaran ditetapkan sebagai cagar budaya.