Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Minggu, 27 September 2020

PERTAHANKAN TRADISI, MIE LETHEK GUNAKAN TENAGA SAPI DALAM PROSES PRODUKSI

Sistem kerja yang diterapkan secara kekeluargaan juga membangun suasana kegotongroyongan, menjadikan perusahaan mie lethek di Dusun Bendo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta masih eksis hingga saat ini. Berdiri sejak tahun 1940 mie lethek dusun bendo masih mempertahankan cara tradisional untuk menjaga citarasanya.

Kalau ngomongin kuliner Mie Lethek tak akan lepas dari Kabupaten Bantul yang letaknya di sisi selatan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun Bendo dipinggir sungai progo, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan terdapat pabrik pembuatan mie lethek yang sudah berdiri sejak tahun 1940. Hingga saat ini rumah produksi mie lethek masih mempertahankan metode penggilingan bahan bakunya menggunakan tenaga sapi.

Adalah Umar Bisyir, imigran dari negeri Yaman yang pertama kali mendirikan pabrik mie lethek sebagai sarana dakwah penyebaran agama islam, kala itu. Umar Bisyir lalu memikirkan bagaimana agama islam bisa diterima oleh masyarakat di dusun bendo tanpa ada penolakan. Lalu dirinya berasumsi jika masyarakat akan mudah menerima ajaran islam jika kebutuhan pangannya tercukupi terlebih dahulu. Untuk itu, Umar Bisyir lalu mendirikan pabrik miel lethek yang dibantu oleh orang-orang pribumi dari Bumi Mataram Yogyakarta.



Saat ini perusahaan mie lethek dikelola oleh Yasir Feri Ismatrada generasi ke 3 dari umar bisyir. Dengan mempekerjakan 35 tenaga kerja yang merupakan masyarakat yang tinggal di lingkungan pabrik, mie lethek dari Dusun Bendo ini masih mempertahankan cara tradisonal. Dengan memanfaatkan tenaga sapi untuk menggerakkan batu besar untuk menggiling bahan bakunya. Ada 4 ekor sapi jantan yang biasanya digunakan secara bergantian untuk mendukung proses pembuatan mie lethek.

Menurut Feri, pengelola generasi ke 3 mie lethek dengan memanfaatkan tenaga sapi untuk menggiling bahan baku mie lethek sudah menjadi ciri khas dari perusahaannya. Dirinya tetap mengunakan tenaga sapi, untuk mempertahankan citarasa dari mie lethek buatannya. Feri membandingkan, ibarat membuat sambal, sambal yang diuleg menggunakan cobek rasanya akan lebih enak dibanding sambal yang digiling menggunakan mesin.

Proses pembuatan mie lethek berawal dari bahan baku Tepung Gaplek ( singkong yang telah dikeringkan ) direndam untuk dihilangkan getahnya lalu ditiriskan. Setelah ditiriskan dicampur dengan Tepung Tapioca dalam silinder, dimana penyampuran ini menggunakan tenaga sapi untuk menggerakkan batu penggilingnya. Campuran antara Tepung Gaplek dan Tapioca kemudian di kukus. Hasil dari pengukusan nantinya setelah dingin akan dicetak menjadi mie.

Setelah berbentuk mie, kemudian kembali dikukus. Setelah melalui proses pengukusan ke dua ini, mie akan ditiriskan selama satu malam. Sebelum dijemur mia akan direndam terlebih dahulu kemudian dipress untuk dibentuk kotak. Ketika sudah kering, maka mie sudah siap untuk dikemas dan dipasarkan.

Dalam 1 hari perusahaan mie lethek dengan merk dagang Garuda ini mampu menghasilkan mie kurang lebih 1 ton jika cuaca panas. Untuk 1 pack mie lethek dengan berat bersih 5 kilogram dihargai 90 ribu rupiah.

Mie Lethek merupakan kuliner khas dari Bantul. Mie lethek secara harifiah berarti mie kotor atau berwarna kusam. Penamaan ini merujuk pada penampilan mie yang tidak secerah mie kering lainya. Mie Lethek berwarna coklat kusam karena dibuat dari Tepung Gaplek yang dicampur dengan Tepung Tapioca.