Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Selasa, 13 Oktober 2020

Menyingkap filosofi kehidupan dibalik motif Batik Sidomukti

Bagi masyarakat pulau jawa dalam setiap upacara adat tidak bisa dilepaskan dengan batik. Dalam motif batik mempunyai pesan penuh filosofi dalam menapaki sebuah kehidupan. Salah satunya Batik Sidomukti  yang sering digunakan pasangan pengantin dalam upacara adat pernikahan.

Motif batik merupakan sebuah hasil prenungan dari cipta, rasa, karsa dan karya orang jaman dulu. Dalam motif batik menyampaikan makna yang terbungkus dalam sebuah pesan filosofi. Salah satu motif batik yang sering digunakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta yaitu batik Sidomukti . Batik Sidomukti  ini sering dikenakan oleh sepasang pengantin pada upacara adat pernikahan.

Tidak hanya sekedar meneruskan adat leluhur, menggunakan batik Sidomukti  pada upacara adat pernikahan merupakan sebuah perwujudan harapan dan doa bagi sepasang pengantin dalam menapaki kehidupan baru. Dalam motif batik Sidomukti  terdapat simbol-simbol fase kehidupan menuju sebuah keluarga yang bahagia.

Menurut pengusaha batik allussan sri lestari, peraih golden award di guizhou china pada 2013 berkat batik Sidomukti  yang ia presentasikan. Dalam motif batik Sidomukti  gaya yogyakarta, terdapat gambar burung yang menyimbolkan laki-laki. begitu pula dengan simbol perempuan yang dipresentasikan dalam sebuah motif yang menyerupai alat reproduksi wanita.

Dalam selembar kain batik sidomukti, simbol burung dan alat reproduksi wanita ini diletakkan vertical sehinga dapat dibaca dari bawah ke atas maupun sebaliknya dari atas ke bawah. makna yang tersirat dalam motif batik Sidomukti  gaya yogya, pasangan suami istri dalam sebuah keluarga baru, dimana suami-istri saling menghargai pasangannya maka akan tumbuh keluarga yang bahagia penuh dengan keberkahan.



Di pulau jawa bagian tengah ada 2 motif batik Sidomukti  yang banyak dikenal masyarakat yaitu batik Sidomukti gaya yogya dan Sidomukti gaya Surakarta. Dimana ke dua motif batik Sidomukti  ini mencerminkan dari karakter masing-masing daerah asalnya.

 

 




Minggu, 27 September 2020

PERTAHANKAN TRADISI, MIE LETHEK GUNAKAN TENAGA SAPI DALAM PROSES PRODUKSI

Sistem kerja yang diterapkan secara kekeluargaan juga membangun suasana kegotongroyongan, menjadikan perusahaan mie lethek di Dusun Bendo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta masih eksis hingga saat ini. Berdiri sejak tahun 1940 mie lethek dusun bendo masih mempertahankan cara tradisional untuk menjaga citarasanya.

Kalau ngomongin kuliner Mie Lethek tak akan lepas dari Kabupaten Bantul yang letaknya di sisi selatan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun Bendo dipinggir sungai progo, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan terdapat pabrik pembuatan mie lethek yang sudah berdiri sejak tahun 1940. Hingga saat ini rumah produksi mie lethek masih mempertahankan metode penggilingan bahan bakunya menggunakan tenaga sapi.

Adalah Umar Bisyir, imigran dari negeri Yaman yang pertama kali mendirikan pabrik mie lethek sebagai sarana dakwah penyebaran agama islam, kala itu. Umar Bisyir lalu memikirkan bagaimana agama islam bisa diterima oleh masyarakat di dusun bendo tanpa ada penolakan. Lalu dirinya berasumsi jika masyarakat akan mudah menerima ajaran islam jika kebutuhan pangannya tercukupi terlebih dahulu. Untuk itu, Umar Bisyir lalu mendirikan pabrik miel lethek yang dibantu oleh orang-orang pribumi dari Bumi Mataram Yogyakarta.



Saat ini perusahaan mie lethek dikelola oleh Yasir Feri Ismatrada generasi ke 3 dari umar bisyir. Dengan mempekerjakan 35 tenaga kerja yang merupakan masyarakat yang tinggal di lingkungan pabrik, mie lethek dari Dusun Bendo ini masih mempertahankan cara tradisonal. Dengan memanfaatkan tenaga sapi untuk menggerakkan batu besar untuk menggiling bahan bakunya. Ada 4 ekor sapi jantan yang biasanya digunakan secara bergantian untuk mendukung proses pembuatan mie lethek.

Menurut Feri, pengelola generasi ke 3 mie lethek dengan memanfaatkan tenaga sapi untuk menggiling bahan baku mie lethek sudah menjadi ciri khas dari perusahaannya. Dirinya tetap mengunakan tenaga sapi, untuk mempertahankan citarasa dari mie lethek buatannya. Feri membandingkan, ibarat membuat sambal, sambal yang diuleg menggunakan cobek rasanya akan lebih enak dibanding sambal yang digiling menggunakan mesin.

Proses pembuatan mie lethek berawal dari bahan baku Tepung Gaplek ( singkong yang telah dikeringkan ) direndam untuk dihilangkan getahnya lalu ditiriskan. Setelah ditiriskan dicampur dengan Tepung Tapioca dalam silinder, dimana penyampuran ini menggunakan tenaga sapi untuk menggerakkan batu penggilingnya. Campuran antara Tepung Gaplek dan Tapioca kemudian di kukus. Hasil dari pengukusan nantinya setelah dingin akan dicetak menjadi mie.

Setelah berbentuk mie, kemudian kembali dikukus. Setelah melalui proses pengukusan ke dua ini, mie akan ditiriskan selama satu malam. Sebelum dijemur mia akan direndam terlebih dahulu kemudian dipress untuk dibentuk kotak. Ketika sudah kering, maka mie sudah siap untuk dikemas dan dipasarkan.

Dalam 1 hari perusahaan mie lethek dengan merk dagang Garuda ini mampu menghasilkan mie kurang lebih 1 ton jika cuaca panas. Untuk 1 pack mie lethek dengan berat bersih 5 kilogram dihargai 90 ribu rupiah.

Mie Lethek merupakan kuliner khas dari Bantul. Mie lethek secara harifiah berarti mie kotor atau berwarna kusam. Penamaan ini merujuk pada penampilan mie yang tidak secerah mie kering lainya. Mie Lethek berwarna coklat kusam karena dibuat dari Tepung Gaplek yang dicampur dengan Tepung Tapioca.

 




Senin, 27 Juli 2020

NITIK, MEMBATIK DARI UJUNG CANTING BELAH 4

Batik Nitik asli dari Desa Trimulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta keberadaannya kini sudah hampir punah. Proses yang sulit, tidak banyak lagi yang mempelajarinya maka motif batik ini terancam punah. Batik Nitik dibuat hanya dengan menyusun titik-titik malam yang keluar dari ujung canting yang dibelah menjadi 4 sisi.

berbeda dengan batik tulis ataupun batik cap, batik nitik tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya. metode batik nitik, membatik dengan hanya memberikan titik-titik sebagai ganti melukis. Canting untuk batik nitik pun ujungnya harus dibelah menjadi segi empat agar mampu menghasilkan titik dan uniknya, canting batik nitik tidak dijual dipasaran. Pembatik harus bisa membelah ujung canting menjadi 4 sisi sama besar. Karena relative sulit dan unik, batik nitik kini tidak banyak lagi digeluti oleh kaum muda. Yang tersisa kinia ahanya para ibu rumah tangga dan manula saja yag masih setia membatik dengan canting belah segi empat itu.


batik nitik asli dari desa trimulyo, kabupaten bantul, daerah istimewa yogyakarta sudah 4 tahun terakhir ini kembali dihidupkan oleh para ibu yang tergabung dalam Kelompok Batik Nitik Trimulyo. Keberadaan metode batik nitik yang hampir punah, menjadi kerisauan para ibu di padukuhan blawang, desa trimulyo untuk kembali memunculkan batik nitik warisan para leluhur mereka.

membatik dengan motode nitik tidak memerlukan pola, hanya dibantu dengan garis kotak-kotak. Cara membatiknya pun hanya dengan menyusun titik-titik malam yang keluar dari ujung canting yang telah dibelah menjadi empat sisi. Dari titik-titik yang dikreasikan inilah, nantinya akan menghasilkan motif batik yang indah.

Lantaran lebih rumit dalam membuat motif dan memerlukan ekstra kesabaran dalam membuatnya, harga batik nitik diatas rata-rata batik tulis. untuk kain batik nitik dengan ukuran 1 meter kali 2 hingga 2 setengah meter, paling murah dibandrol harga 450 ribu rupiah. untuk harga termahal di atas 1 juta rupiah tergantung kesulitan motif yang dibuat.