Beberapa hari ini
banyak keluhan tentang Yogyakarta yang terlontar dari mulut wisatawan ataupun
pelancong yang sedang berkunjung. Setiap musim liburan tiba baik liburan Natal-Tahun
Baru maupun libur lebaran banyak tukang “sulap”
di yogyakarta. Ya, menyulap tarif parkir menjadi super mahal tanpa dasar perda
yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait, jadi dinaikkan seenaknya oleh
pengelola parkir. Begitu juga dengan harga makanan yang mer0ket tinggi tidak
sewajarnya. Katanya aji mumpung. Mumpung banyak wisatwan, mumpung ramai dan
mumpung ada kesempatan.
Dengan kondisi ini saya
sebagai orang jogja sebenarnya malu. Kenapa jogja yang katanya berhati nyaman
justru membuat wistawan merasa tidak nyaman . Mafia parkir yang banyak dikelola
preman membuat pemerintah daerah tidak punya nyali untuk mengambil tindakan
tegas, bahkan bersikap apriori dan pura-pura dungu. Hal semacam ini terus
terjadi setiap tahunnya ketika musim liburan dan yang dilakukan pemerintah
daerah pun nol besar.. Seakan-akan tidak bertindak dengan aksi mafia parkir dan
pedagang yang menaikkan harga seenak jidatnya saja.
Jika ini terus
berlanjut tidak menutup kemungkinan wisatawan akan enggan kembali ke jogja. lantaran jogja sudah tidak nyaman dijadikan
sebagai tujuan wisata dengan mematok segala tarif wisata yang seenak jidatnya
sendiri.
Lebih baik jangan datang
ke jogja jika orang jogja sendiri tidak bisaa merubah sikapnya yang bisa
membuat wisatawan merasa nyaman. Lebih baik jangan datang ke jogja sebelum
pemerintah daerahnya bisa memberikan jaminan kenyamanan dan keamanan bagi wisawannya.
Lebih baik jangan datang ke jogja kalau masih bermunculan tukang “sulap”
musiman.