Duel rotan Suku Sasak

Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat suku Sasak di nusa tenggara barat yang masih dijaga turun-temurun. Duel rotan ini dah...

Sabtu, 29 Agustus 2015

Pesona embung sriten di puncak tertinggi gunung kidul

Berwisata ke kabupaten Gunung Kidul  daerah istimewa yogyakarta tidak melulu hanya didominasi wisata pantai  goa maupun air terjun, ada salah satu destinasi wisata baru yang berupa telaga atau embung yang konon katanya letaknya paling TERtinggi di Gunung Kidul dengan ketinggian 859 meter diatas permukaan laut /MDPL. Meskipun jalan menuju ke telaga rusak sejauh 7,5 kilometer namun semuanya akan terbayar dengan keindahannya ya, inilah Embung Batara Sriten.

Untuk menuju obyek wisata yang satu ini memang perlu perjuangan yang extra  pasalnya jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik turun  sepanjang 7,5 kilometer menuju telaga ini dalam kondisi rusak  dtambah dengan jalanan yang menanjak yang ga kira-kira lalu diselingi turunan yang curamdiantara lereng-lereng tebing yang mengelilingi pemukiman penduduk, benar-benar suasana pedesaan yang asri . 

Yang perlu diperhatikan jika anda ingin berwisata menuju telaga tertinggi di kabupaten Gunung Kidul ini memang perlu kondisi kendaraan yang prima. Disepanjang jalan setapak yang dilalui terpasang himbauan yang perlu diperhatikan bagi pengunjung agar bisa mencapai telaga. Jalan yang berbatu  terkadang diselingi debu batuan kapur semuanya itu akan hilang setelah mencapai puncak padukuhan sriten, ya inilah embung batara sriten  telaga tertinggi di kabupaten Gunung Kidul dengan 859 mdpl.

 Embung batara sriten atau bisa disebut telaga batara sriten  diresmikan pada maret 2015 oleh gubernur Sri Sultan Hamengku Bawono ke sepuluh diatas tanah milik Karaton Yogyakarta atau sultan ground seluas 20 hektar yang mampu menampung air sebesar 10 ribu meter kubik. Awalnya embung ini dibangun untuk pengairan kebun buah yang berada disekitar embung tepatnya di Padukuhan Sriten, Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

ketika musim kemarau dating banyak tanaman buah yang mati maka dibuatlah embung sriten untuk tadah hujan yang airnya akan digunakan untuk pengairan tanaman buah disekitar telaga. Taman buahnya sendiri tergiolong baru jadi jangan berangan-angan bisa menikmati buah di embung sriten karena baru dibuat tahun 2013 kemaren.

Dinamakan embung Batara Sriten, Embung dalam bahasa jawa diartikan telaga sedangkan batara merupakan kepanjangan dari batur agung rahayu yang disingkat menjadi batara kemudian dijadikan nama kelompok pengelola wisata embung sriten. sementara sriten merupakan nama pedukuhan dimana embung tersebut dibuat.

Saat ini Embung Sriten menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Gunung Kidul khususnya dan masyarakat luar Gunung Kidul pada umumnya. Ketika dihari libur Embung Batara Sriten banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah dan berbagai komunitas untuk berwisata keluarga  maupun sebagai hunting spot fotografi  mengingat keindahan embung yang begitu menawan jadi saying banget jika dilewatkan untuk tidak diabadikan dalam jepretan kamera.


Salah satu spot yang tidak boleh ketinggalan untuk dikunjungi yaitu puncak tertingginya Gunung Kidul yang masih berada dalam satu komplek Embung Batara Sriten, tepatnya disisi utara embung.  sebuah perbukitan yang dikelilingi tebing curam dengan hembusan angin perbukitan yang cukup kencang.  Dipuncak bukit ini terdapat puncak tugu terbuat dari balok batu setinggi kurang lebih lima puluh centimeter sebagai pertanda bahwa disinilah puncak tertinggi kabupaten gungungkidul dengan ketinggian 859 meter diatas permukaan laut.



Puncak tugu inilah tempat favorit wisatawan untuk mengabadikan gambar berselfie ria dengan jepretan kamera .

Karena masih menjadi wisata yang baru tentunya masih banyak kekurangan prasarana serta fasilitas di Embung Batara Sriten. selain jalan yang rusak untuk menuju kesana  yang menjadi sorotan adalah belum adanya pagar pengaman sebagai pembatas antara puncak sriten dengan tebing dimana saat ini hanya dibatasi dengan tali rafiah dan papan peringatan yang tentunya jauh dari kesan aman bagi para pengunjung.


Dan yang menjadi keprihatinan masih ada saja tangan-tangan jahil yang menjadi seniman dadakan  dengan membuat coretan-coretan, menatah batuan-batuan alam untuk mengabadikan nama-nama yang tidak penting dan seharusnya tidak perlu dilakukan.



Saat ini ticket masuk ke embung sriten yang dikelola kelompok batara bagi pengunjung dikenakan lima ribu rupiah per orangnya.

Dengan adanya Embung Batara Sriten ini manfaatnya mulai dirasakan oleh masyarakat setempat khususnya di dua padukuhan  Sriten dan Ngangkruk, dimana hasil bumi kedua padukuhan tersebut saat ini bisa dipasarkan dengan dibeli oleh para wisatawan yang berkunjung di Embung Batara Sriten.

by. boimprasetyo' agustus 2015