Berwisata ke kabupaten Gunung Kidul daerah istimewa yogyakarta tidak melulu hanya
didominasi wisata pantai goa maupun air
terjun, ada salah satu destinasi wisata baru yang berupa telaga atau embung yang
konon katanya letaknya paling TERtinggi di Gunung Kidul dengan ketinggian 859 meter
diatas permukaan laut /MDPL. Meskipun jalan menuju ke telaga rusak sejauh 7,5
kilometer namun semuanya akan terbayar dengan keindahannya ya, inilah Embung
Batara Sriten.
Untuk menuju obyek wisata yang satu
ini memang perlu perjuangan yang extra
pasalnya jalan setapak yang berkelok-kelok dan naik turun sepanjang 7,5 kilometer menuju telaga ini
dalam kondisi rusak dtambah dengan
jalanan yang menanjak yang ga kira-kira lalu diselingi turunan yang
curamdiantara lereng-lereng tebing yang mengelilingi pemukiman penduduk,
benar-benar suasana pedesaan yang asri .
Yang perlu diperhatikan jika anda
ingin berwisata menuju telaga tertinggi di kabupaten Gunung Kidul ini memang
perlu kondisi kendaraan yang prima. Disepanjang jalan setapak yang dilalui
terpasang himbauan yang perlu diperhatikan bagi pengunjung agar bisa mencapai
telaga. Jalan yang berbatu terkadang
diselingi debu batuan kapur semuanya itu akan hilang setelah mencapai puncak
padukuhan sriten, ya inilah embung batara sriten telaga tertinggi di kabupaten Gunung Kidul
dengan 859 mdpl.
Embung batara sriten atau bisa disebut
telaga batara sriten diresmikan pada
maret 2015 oleh gubernur Sri Sultan Hamengku Bawono ke sepuluh diatas tanah
milik Karaton Yogyakarta atau sultan ground seluas 20 hektar yang mampu
menampung air sebesar 10 ribu meter kubik. Awalnya embung ini dibangun untuk
pengairan kebun buah yang berada disekitar embung tepatnya di Padukuhan Sriten,
Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa
Yogyakarta.
ketika musim kemarau dating banyak
tanaman buah yang mati maka dibuatlah embung sriten untuk tadah hujan yang
airnya akan digunakan untuk pengairan tanaman buah disekitar telaga. Taman
buahnya sendiri tergiolong baru jadi jangan berangan-angan bisa menikmati buah
di embung sriten karena baru dibuat tahun 2013 kemaren.
Dinamakan embung Batara Sriten, Embung
dalam bahasa jawa diartikan telaga sedangkan batara merupakan kepanjangan dari
batur agung rahayu yang disingkat menjadi batara kemudian dijadikan nama
kelompok pengelola wisata embung sriten. sementara sriten merupakan nama
pedukuhan dimana embung tersebut dibuat.
Saat ini Embung Sriten menjadi
destinasi wisata baru bagi masyarakat Gunung Kidul khususnya dan masyarakat
luar Gunung Kidul pada umumnya. Ketika dihari libur Embung Batara Sriten banyak
dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah dan berbagai komunitas untuk
berwisata keluarga maupun sebagai hunting
spot fotografi mengingat keindahan
embung yang begitu menawan jadi saying banget jika dilewatkan untuk tidak diabadikan
dalam jepretan kamera.
Salah satu spot yang tidak boleh
ketinggalan untuk dikunjungi yaitu puncak tertingginya Gunung Kidul yang masih
berada dalam satu komplek Embung Batara Sriten, tepatnya disisi utara embung. sebuah perbukitan yang dikelilingi tebing
curam dengan hembusan angin perbukitan yang cukup kencang. Dipuncak bukit ini terdapat puncak tugu
terbuat dari balok batu setinggi kurang lebih lima puluh centimeter sebagai
pertanda bahwa disinilah puncak tertinggi kabupaten gungungkidul dengan
ketinggian 859 meter diatas permukaan laut.
Puncak tugu inilah tempat favorit
wisatawan untuk mengabadikan gambar berselfie ria dengan jepretan kamera .
Karena masih menjadi wisata yang baru
tentunya masih banyak kekurangan prasarana serta fasilitas di Embung Batara
Sriten. selain jalan yang rusak untuk menuju kesana yang menjadi sorotan adalah belum adanya
pagar pengaman sebagai pembatas antara puncak sriten dengan tebing dimana saat
ini hanya dibatasi dengan tali rafiah dan papan peringatan yang tentunya jauh
dari kesan aman bagi para pengunjung.
Dan yang menjadi keprihatinan masih
ada saja tangan-tangan jahil yang menjadi seniman dadakan dengan membuat coretan-coretan, menatah
batuan-batuan alam untuk mengabadikan nama-nama yang tidak penting dan
seharusnya tidak perlu dilakukan.
Saat ini ticket masuk ke embung sriten
yang dikelola kelompok batara bagi pengunjung dikenakan lima ribu rupiah per
orangnya.
Dengan adanya Embung Batara Sriten ini
manfaatnya mulai dirasakan oleh masyarakat setempat khususnya di dua padukuhan Sriten dan Ngangkruk, dimana hasil bumi kedua
padukuhan tersebut saat ini bisa dipasarkan dengan dibeli oleh para wisatawan
yang berkunjung di Embung Batara Sriten.
by. boimprasetyo' agustus 2015