Ketika armada Cheng Ho berlayar hingga ke
nusantara, Wang Jinghong yang merupakan orang kedua dalam armada itu mendadak
sakit keras sehingga Cheng Ho memutuskan untuk membuang sauh di Simongan yang
kala itu masih berupa pantai. Gua batu yang ditemukan oleh Cheng Ho kemudian
digunakan sebagai tempat beristirahat Wang Jinghong dan sepuluh anak buahnya,
sedangkan Cheng Ho kembali
melanjutkan pelayarannya. Singkat cerita Wang Jinghong
dan anak buahnya kemudian menikahi wanita pribumi serta memutuskan untuk tinggal di Simongan. Lambat laun Simongan
berubah menjadi tempat yang maju karena aktivitas perdangan dan pertanian.
Warga Tionghoa yang berdatangan ke Semarang
pun bermukim dan bercocok tanam serta melakukan perniagaan. Guna mengenang serta
menghormati Laksmana Cheng Ho, Wang Jinghong mendirikan patung Cheng
Ho di dalam gua. Sepeninggalnya Wang Jinghong, etnis
Cina yang mulai memadati Simongan dan mendirikan
sebuah klenteng sederhana yang diberi nama Klenteng Sam Poo Kong.
Pada
abad ke 18 ketika nusantara diduduki bangsa belanda warga Tionghoa direlokasi ke kawasan Pecinan oleh
Belanda, sempat mengalami kesulitan saat
hendak beribadah di Klenteng Sam Poo Kong. Dikarenakan belanda menetapkan pajak yang sangat tinggi bagi warga yang ingin
beribadah. Pemajakan ini baru berakhir
pada tahun 1879 saat Raja Gula Oei Tiong Ham membeli hak atas tanah ini. Klenteng
Sam Poo Kong pun kembali dikunjungi warga dan terus
berbenah diri serta bersolek menjadi cantik seperti sekarang. Selain sebagai tempat peribadatan, saat ini Klenteng
Sam Poo Kong sudah menjadi salah satu tempat
wisata religi yang jadi unggulan di Semarang. Kompleks
Klenteng Agung Sam Poo Kong terbagi menjadi dua bagian, yaitu plaza utama dan
bangunan klenteng. Pengunjung yang tidak memiliki kepentingan hanya boleh masuk
ke plaza utama, tempat di mana berdiri patung Laksmana Cheng Ho setinggi 10,7 meter.
Patung berbahan dasar perunggu yang dibuat di Cina ini merupakan patung
tertinggi di Asia Tenggara. Di sebelah selatan terdapat gerbang raksasa
berwarna merah menyala yang membuat kita serasa berada di Negeri
tirai bambu. Di balik pagar besi terdapat bangunan
klenteng yang hanya boleh dimasuki oleh pengunjung
yang berkepentingan semisal hendak berdoa
atau ingin membaca peruntungan atau ramal yang
dikenal dengan istilah ciamsi.
Untuk bisa berkunjung ke bangunan klenteng ini
pengunjung harus membeli ticket terlebih dahulu seharga Rp 20.000,- yang
sebelumnya harus mempersiapkan persyaratannya terlebih dahulu seperti membawa
hio atau dupa yang dapat dibeli didalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong seharga
Rp 10.000,-. Setelah lengkap membawa persyaratannya dan membeli ticket untuk
masuk ke bangunan klenteng wisatawan akan memasuki bangunan klenteng sam poo
kong. Untuk hal ini jika anda ingin diramal oleh suhu atau
juga biasa disebut Biokong. Disini
terdapat 4 klenteng yaitu bernama Klenteng Dewi Laut, Dewa Bumi, Kyai
Juru Mudi, dan Klenteng Sam Poo Kong. dalam bangunan klenteng akan
tampak Ukiran naga dan huruf Cina berwarna emas
menghiasi pilar-pilar merah. Sebuah bedug raksasa berwarna merah terlihat di klenteng utama. Sedangkan di bagian bawah yang agak tersembunyi terdapat
petilasan Kyai Jangkar, Kyai Tumpeng, dan Kyai Tjundrik Bumi. Di belakang altar
utama, terdapat relief yang menggambarkan tentang kisah pelayaran Cheng Ho.
by boimprasetyo